Comscore Tracker

Kim Jong-un Sebut Amerika Serikat Musuh Selamanya meski Presiden Ganti

Korut tingkatkan senjata nuklir dan rudal balistiknya

Jakarta, IDN Times - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi musuh terbesar negaranya, tidak peduli siapa yang memimpin di Gedung Putih. hal ini tidak akan merubah kebijakan permusuhan Washington terhadap Korea Utara.

"Tak masalah siapa yang berkuasa di AS, watak sejati AS dan kebijakan fundamentalnya terhadap Korea Utara tidak pernah berubah," kata Kim dalam pidatonya, Jumat (8/1/2020) seperti dilaporkan KCNA yang dilansir ANTARA, Sabtu.

Presiden terpilih Joe Biden menyebut Kim sebagai "bajingan" selama kampanye pemilihan, dan pada tahun 2019 Korea Utara menyebut Biden sebagai "anjing gila" yang perlu "dipukuli sampai mati dengan tongkat."

1. Jong-un tegaskan AS tetap jadi musuh utama Korut

Kim Jong-un Sebut Amerika Serikat Musuh Selamanya meski Presiden GantiANTARA FOTO/Yonhap via REUTERS

Dalam kongres, Kim mengatakan kegiatan politik luar negeri Korut harus difokuskan dan diarahkan kembali untuk menundukkan AS seraya menyebut negara Paman Sam itu sebagai "musuh terbesar kami dan hambatan utama bagi perkembangan inovatif kami." 

Kim dan Trump pertama kali terlibat dalam perang kata-kata dan ancaman timbal balik, sebelum sebuah "bromance" diplomatik luar biasa yang menampilkan pertemuan yang menarik dan pernyataan cinta oleh presiden AS.

Baca Juga: Dunia Heboh COVID-19, Kim Jong-un Malah Perintahkan Eksekusi Orang

2. Hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat

Kim Jong-un Sebut Amerika Serikat Musuh Selamanya meski Presiden GantiPresiden Amerika Serikat Donald J Trump bertemu Kim Jong-Un di Singapura (ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst)

Kim melakukan tiga pertemuan dengan Presiden AS yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masa jabatan Donald Trump. Keduanya lantas berkorespondensi dalam serangkaian surat. Tapi upaya itu gagal menghasilkan kesepakatan denuklirisasi.

Biden mengutarakan pada bulan Oktober tahun lalu lalu, ia akan bertemu Kim dengan syarat bahwa Korea Utara akan setuju untuk menurunkan kapasitas nuklirnya. Bulan lalu, diplomat Kurt Campbell mengatakan AS akan datang dan membuat keputusan awal untuk pendekatan terhadap kebijakan yang akan diambil bersama Korea Utara dan tidak mengulangi penundaan lagi era Obama.

Kim menganggapi hal tersebut dengan menyerukan lebih banyak penelitian dan pengembangan peralatan militer canggih, mulai dari satelit mata-mata, senjata hipersonik, rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat, hingga pesawat pengintai nirawak.

Pyongyang telah mencurahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistiknya. Mereka menilai hal itu perlu terus dipertahankan dengan kemungkinan adanya invasi AS. Sejauh ini ledakan nuklirnya dan misil yang paling kuat hingga saat ini mampu menjangkau seluruh AS dengan biaya sanksi internasional yang semakin ketat.

"Kegiatan politik luar negeri kami harus difokuskan dan diarahkan kembali untuk menundukkan AS, musuh terbesar kami dan hambatan utama bagi perkembangan inovatif kami," kata Kim pada Jumat, menurut laporan KCNA mengenai sambutannya.

3. Kebijakan ekonomi Korea Utara ke depan

Kim Jong-un Sebut Amerika Serikat Musuh Selamanya meski Presiden GantiPresiden Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Kongres Korea Utara. (Twitter.com/Korea_Friend_UK)

AS meningkatkan kebijakan pertahanan sedangkan Presiden Korut Kim memilih untuk meningkatkan kebijakan ekonomi. Dalam kongres, Kim menjelaskan mengenai proposal rencana ekonomi lima tahun ke depan, salah satu rencananya membangun pabrik baja hemat energi, secara signifikan meningkatkan produksi barang kimia untuk membuat industri mandiri, memproduksi listrik, dan mengamankan lebih banyak tambang batu bara.

Dalam hal ini juga Kim mengutarakan penelitian mengenai kapal selam nuklir yang hampir selesai. "Penelitian perencanaan baru untuk kapal selam bertenaga nuklir telah selesai dan akan memasuki proses pemeriksaan akhir," kata Kim.

Baca Juga: Kim Jong-un Akui Sebagian Besar Ekonomi Negaranya Alami Kegagalan

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya