Comscore Tracker

Pemilu Rusia: Partai Pendukung Kremlin Unggul dalam Survei

Rusia Bersatu diperkirakan akan menang telak

Jakarta, IDN Times - Pemilihan parlemen Rusia telah selesai melakukan pemungutan suara pada hari Minggu (19/9/2021) dalam pemilu yang berlangsung selama tiga hari. Dari hasil exit poll menunjukkan partai-partai yang mendukung kremlin, termasuk partai Presiden Vladimir Putin, Rusia Bersatu, akan menang dalam pemilu.

1. Perhitungan sementara menunjukkan partai Putin unggul

Pemilu Rusia: Partai Pendukung Kremlin Unggul dalam SurveiPresiden Rusia, Vladimir Putin pada 28 Juni saat mengadakan pertemuan dengan lulusan terbaik sekolah militer. (Twitter.com/President of Russia)

Melansir dari The Independent, dari hasil exit poll yang dilakukan menunjukkan Rusia Bersatu akan menang telak dalam pemilihan parlemen. Rusia Bersatu diperkirakan akan meraih 45,2 persen suara. Posisi kedua diperkirakan akan diraih Partai Komunis dengan 21 persen, diikuti Partai Demokrat Liberal Rusia dengan 8,7 persen, Rusia Adil 7,9 persen, dan Orang Baru 4,7 persen.

Kelima partai tersebut diproyeksikan akan menempati kursi parlemen di Moskow, selain itu lima partai tersebut dianggap sepenuhnya atau secara signifikan dikendalikan oleh Kremlin. Partai Orang Baru, yang dibentuk tahun lalu dianggap oleh banyak pihak sebagai proyek yang disponsori Kremlin.

Perolehan suara yang diperkirakan akan diterima partai Putin merupakan hasil yang sangat bagus karena dalan suvei sebelumnya dukungan yang diperkirakan di bawah 30 persen.

Saat ini perhitungan sementara telah dilakukan, dengan lebih dari 21 persen suara telah dihitung secara resmi. Hasilnya menunjukkan Rusia Bersatu telah unggul dengan perolehan 43 persen suara, mengutip dari DW.

Pemilihan parlemen Rusia diikuti oleh 14 partai yang akan memperebutkan 450 kursi parlemen. Selain pemilihan parlemen dalam pemilu tiga hari itu juga dilaksanakan pemilihan 12 gubernur dan 39 parlemen regional. Pemilihan ini juga memperkenalkan pemungutan suara elektronik di beberapa wilayah.

2. Pemantau pemilu independen mencatat 4.500 pelanggaran pemilu

Pemilu Rusia: Partai Pendukung Kremlin Unggul dalam SurveiIlustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)

Melansir dari BBC, pada pemilihan kali ini untuk pertama kalinya sejak 1993, pemantau pemilu dari Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) tidak akan hadir untuk mengawasi pemilu karena adanya pembatasan COVID-19 yang diberlakukan oleh otoritas Rusia.

Pada Minggu malam, Golos, sebuah kelompok pemantau pemilu independen, yang telah diberikan label sebagai "agen asing" oleh pemerintah Rusia, melaporkan telah melacak lebih dari 4.500 laporan pelanggaran pemungutan suara.

Selama pemilihan terjadi antrian panjang di luar beberapa tempat pemungutan suara, terutama di luar kantor polisi. Antrian itu diklaim sebagai tekanan untuk memaksa orang-orang memilih tidak sesuai keinginan mereka. Tuduhan itu dibantah juru bicara Kremilin yang menolak klaim tersebut sebagai indikasi orang-orang berada di bawah tekanan untuk memilih.

Namun, Golos mengatakan telah menerima banyak laporan dari orang-orang mengenai mereka yang dipaksa untuk memilih partai tertentu, serta menerima laporan kecurangan lainnya.

Pejabat pemilihan mengatakan selama pemilu mereka menerima setidaknya 750 laporan mengenai pelanggaran pemilu, tapi tidak mencatat adanya pelanggaran yang dapat mempengaruhi hasil.

Baca Juga: Masih Pandemi, Rusia Gelar Pemilu Parlemen 3 Hari

3. Tindakan keras terhadap oposisi dipandang sebagai motif politik

Melansir dari DW, pemilu ini berlangsung saat tokoh oposisi paling kuat Alexei Navalny ditahan di penjara, dia dan kelompoknya telah diberi label sebagai "ekstremis". Tindakan keras itu membuat pihak yang memiliki hubungan dengan Navalny yang berusaha bersaing dalam pemungutan suara dilarang berpartisipasi.

Pemerintah yang menerapkan tindakan keras terhadap partai-partai oposisi dipandang sebagai tindakan atas dasar motif politik. Hal itu telah dibantah pemerintah dengan mengatakan bahwa mereka yang dituntut karena telah melanggar hukum.

Partai Rusia Bersatu yang saat ini berkuasa memegang hampir tiga perempat dari 450 kursi di parlemen. Dengan menguasai mayoritas kursi telah membantu Kremlin menyetujui reformasi konstitusi, yang memungkinkan Putin mencalonkan diri lagi sebagai presiden setelah 2024, membuat Putin dapat melanjutkan kepemimpinan hingga 2036.

Pihak oposisi Navalny melalui blog mereka telah mengigatkan pemilih untuk tidak memilih Rusia Bersatu, dengan mengatakan kemenangan partai itu akan membuat Rusia berada dalam kemiskinan dan penindasan selama lima tahun lagi. Selain itu kubu Navalny juga menggunakan aplikasi di ponsel yang akan memberitahu pendukung mengenai kandidat yang berpotensi mengalahkan Rusia Bersatu.

Namun, langkah itu terhenti, Google dan Apple telah menghapus aplikasi Navalny pada hari pemilu dimulai setelah mendapat tekanan dari pemerintah. Telegram juga telah menghapus aplikasi Navalny dan pada hari Minggu, Google Documents dan video di YouTube yang berisi nama-nama kandidat yang disarankan telah diblokir.

Baca Juga: Peru Berencana Produksi Vaksin Rusia, Sputnik V

Ifan Wijaya Photo Verified Writer Ifan Wijaya

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya