Comscore Tracker

Ribuan Warga AS Gelar Demonstrasi Tolak Kebijakan yang Legalkan Aborsi

Texas telah menerapkan larangan ketat aborsi

Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Amerika Serikat (AS) yang menentang aborsi melakukan demonstrasi pada Jumat (21/1/2022) di ibu kota Washington DC.

Unjuk rasa yang disebut sebagai 'March for Life' itu dilakukan setelah melihat indikasi bahwa Mahkamah Agung AS akan membatalkan putusan Roe V Wade, aturan yang melegalkan aborsi di Negeri Paman Sam. 

1. Demonstrasi yang dilakukan penentang aborsi

Melansir RTE, unjuk rasa yang berlangsung di tengah suhu yang dingin ini tetap diramaikan pendukung anti-aborsi. Jeanne Mancini, presiden dari gerakan March for Life, mengatakan bahwa mereka rutin menggelar aksi sejak 1974. Adapun harapan yang diusung pada tahun ini adalah pemerintah tidak melegalkan aborsi. 

Joseph Scordato, pengunjuk rasa yang berasal dari Wisconsin, menghadiri gerakan itu dengan mengenakan pakain seperti ksatria abad pertengahan dan membawa salib raksasa. Dia mengatakan tahun ini seperti hari perayaan karena izin aborsi di AS akan berkahir.

Massa yang berkumpul di ibu kota AS mengatakan, meski aturan Roe v Wade dicabut, mereka tidak akan berhenti untuk memperjuangkan cita-citanya. Karlie Lodjic, anggota Students for Life dari negara bagian Washington, mengatakan bahwa mereka harus memastikan setiap negara bagian menghormati kehidupan.

Seorang demonstran berusia 72 tahun dari Pennsylvania, Marsha Chamberlain, mengaku telah ikut aksi tahunan sejak 1985. Hanya empat kali dia melewatkan unjuk rasa ini. Chamberlain berharap Mahkamah Agung mengakhiri aborsi dan menjadikan aksi tahun ini sebagai yang terakhir. 

Baca Juga: FDA Setujui Pelonggaran Pembatasan Penggunaan Pil Aborsi

2. Aturan aborsi Roe v Wade

Ribuan Warga AS Gelar Demonstrasi Tolak Kebijakan yang Legalkan AborsiIlustrasi wanita yang sedang mengandung. (Unsplash.com/Camylla Battani)

Melansir Reuters, Roe v Wade yang berlaku sejak 1973 ini merupakan aturan yang melegalkan aborsi secara nasional sekitar 24 minggu setelah kehamilan. Namun, aturan itu terancam berakhir karena pada Desember Mahkamah Agung mengisyaratkan keterbukaannya mencabut hukum aborsi tersebut.

Di Mahkamah Agung ada hakim konservatif, seperti Samuel Alito dan Brett Kavanaugh, yang menunjukkan dukungan terhadap larangan aborsi 15 minggu di Mississippi. Jika para hakim lebih banyak memenangkan kasus di Mississippi, maka aturan yang mengizinkan aborsi di AS akan berubah. Keputusan mengenai aturan aborsi ini diharapkan bisa diputuskan pada akhir Juni.

Beberapa negara bagian AS dilaporkan telah menerapkan aturan aborsi yang ketat, termasuk di Texas yang melarang aborsi setelah enam minggu dan mendukung mereka yang melaporkan orang yang melakukan aborsi melewati batas kehamilan itu.

Aturan itu mulai berlaku pada September tahun lalu dan Mahkamah Agung telah mengizinkan undang-undang itu untuk ditentang di pengadilan yang lebih rendah.

3. Tanggapan Gedung Putih

Ribuan Warga AS Gelar Demonstrasi Tolak Kebijakan yang Legalkan AborsiPotret Gedung Putih. (Unsplash.com/René DeAnda)

Melansir dari DW, sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki dalam sebuah jumpa pers mengatakan, saat ini perawatan kesehatan reproduksi mengalami banyak gangguan, terutama dalam beberapa bulan terakhir.

Psaki menyampaikan, Gedung Putih berkomitmen untuk memastikan setiap orang memiliki akses untuk memperoleh perawatan reproduksi dan akan mempertahankannya dengan segala upaya.

Juru bicara itu juga menyampaikan, pemerintahan Presiden Joe Biden akan bekerja dengan Kongres untuk meloloskan undang-undang yang melindungi hak untuk menyediakan dan mengakses perawatan aborsi bebas dari masa tunggu, konseling, dan juga pembatasan lainnya.

Dalam survei diketahui bahwa banyak orang AS yang mendukung hak-hak aborsi dalam semua atau sebagian besar kasus, tapi ada juga penduduk, khususnya yang beragama, tidak pernah menentang diakhirinya kehamilan dan berupaya mewujudkannya.

Baca Juga: Teroris Bersenjata Sandera 4 Orang di Sinagoge Yahudi Texas

Ifan Wijaya Photo Verified Writer Ifan Wijaya

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya