Comscore Tracker

2 Tewas dalam Insiden Helikopter Jatuh di Libya Timur

Insiden terjadi saat operasi militer berlangsung

Jakarta, IDN Times - Libyan National Army (LNA) di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar yang menguasai wilayah Libya timur dan selatan, melaporkan bahwa dua helikopternya jatuh pada hari Minggu (19/9). Dua personel militer dalam salah satu helikopter tersebut dikabarkan meninggal dunia.

Libya bagian selatan berbatasan dengan Sudan, Niger dan Chad. Di wilayah perbatasan tersebut, para pemberontak Libya telah bersekutu dengan kelompok pemberontak dari Chad. LNA dalam beberapa pekan terakhir terlibat operasi militer melawan kelompok tersebut.

1. Tidak ada penjelasan mengenai penyebab kecelakaan

Kelompok Front for Change and Concord in Chad (FACT) adalah salah satu kelompok yang dianggap pemberontak. Kelompok tersebut berbasis di Libya dan bersekutu dengan kelompok pemberontak Chad.

Menurut Reuters, pekan lalu, mereka terlibat konflik bersenjata dengan pasukan LNA yang berada di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar, di perbatasan Libya-Chad. LNA meluncurkan operasi militer untuk menanggapi kelompok tersebut.

Dalam operasi militer itu, dua helikopter LNA mengalami kecelakaan di atas desa Msus, sekitar 130 kilometer tenggara kota Benghazi. Tidak ada rincian mengenai penyebab kecelakaan tapi kabarnya dua helikopter terlibat tabrakan.

Karena insiden tersebut, satu kru dengan dua personel militer tewas. Sedangkan kru di helikopter lainnya, menurut pernyataan Libyan Arab Armed Forces (LAAF), berhasil selamat.

2. Korban tewas termasuk seorang jenderal

Baca Juga: Libya: Operasi Gabungan Berhasil Tangkap Petinggi ISIS

Dilansir dari laman Associated Press, LAAF mengatakan bahwa dari dua korban yang meninggal, salah satunya adalah Bouzied al-Barrasi, seorang perwira militer dengan jabatan Brigadir Jenderal.

Meski begitu, tidak ada informasi detail apakah dua helikopter tersebut apakah mendapatkan serangan. Pernyataan yang dikeluarkan menyebutkan dua helikopter itu sedang dalam misi operasi militer melawan kelompok pemberontak FACT.

LAAF adalah pasukan udara yang setia dengan Jenderal Khalifa Haftar. LAAF adalah pasukan andalan untuk menguasai wilayah timur dan selatan Libya. Pasukan tersebut menjadi salah satu kekuatan penting dalam melawan pemerintahan Government of National Unity, pemerintahan sementara Libya yang mendapat pengakuan PBB.

Menurut Tim Eaton, seorang peneliti senior program Timur Tengah dan Afrika Utara, LAAF telah mendominasi otoritas di Libya timur, diperluas ke Libya selatan dan berusaha untuk merebut ibu kota, Tripoli.

Kelompok LAAF telah meningkatkan kontrol tertorialnya serta menyerap kekuatan baru yang sangat beragam ke dalam strukturnya. Tapi komando tertinggi tetap dipegang oleh Khalifa Haftar.

3. Libya sebagai teater perang proksi banyak negara

2 Tewas dalam Insiden Helikopter Jatuh di Libya Timurilustrasi (Pexels.com/Antonio Prado)

Ketika Muammar Khadafi yang dianggap diktator di Libya, tumbang pada tahun 2011, stabilitas di negara tersebut sampai saat ini tidak dapat terjaga. Konflik masih terus terjadi dan negara itu terbelah menjadi dua kekuatan utama.

Kelompok milisi Islam konservatif yang membentuk pemerintahan sementara dan diakui PBB, sejauh ini masih menguasai ibu kota Tripoli. Mereka adalah kelompok yang telah menggulingkan Khadafi.

Sedangkan pasukan saingan yang dinilai sebagai pemberontak adalah Jenderal Khalifa Haftar, seorang loyalis Khadafi yang sampai saat ini masih berjuang untuk menguasai Libya. Salah satu pasukan kuatnya adalah LAAF.

Konflik di Libya saat ini, telah menjadi sebuah arena teater global di mana kekuatan-kekuatan asing saling membantu satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Khalifa Haftar, menurut Al Jazeera, mendapatkan dukungan dari banyak pihak seperti UEA, Mesir, tentara bayaran dari Rusia, Arab Saudi, Prancis dan lainnya. Sedangkan pemerintah sementara Libya yang terbentuk pada bulan Maret tahun ini dan diakui PBB, mendapatkan dukungan utama dari Turki, Qatar, Italia dan lainnya.

Dengan campur tangan pasukan asing yang berada di Libya saat ini, profesor Mansour El-Kikhia, profesor hubungan internasional dan politik Timur Tengah di University of Texas menjelaskan kondisi negara tersebut kepada Lulu Garcia-Navarro dari NPR.

Menurut El-Kikhia dalam penjelasannya pada bulan Juni, kondisi infrastruktur Libya sangat bobrok, korupsi di mana-mana, makanan mahal, tidak ada keamanan dan tidak ada produktivitas sama sekali.

Dalam rincian penguasaan wilayah, El-Kikhia memproyeksikan jika masa depan Suram menghampiri Libya, maka akan ada semacam kekuatan asing yang menguasai beberapa bagian Libya.

Turki masih diharapkan di bagian barat Libya untuk mendukung pasukan pemerintah. Sedangkan Haftar masih berharap Rusia dan Mesir mendukungnya di bagian timur. Di bagian selatan Libya, kekuatan Prancis juga diperhitungkan.

Baca Juga: Mendagri Libya Selamat dari Upaya Pembunuhan

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya