Comscore Tracker

8 Polisi Tewas dalam Aksi Protes di Sierra Leone

21 warga sipil tewas, jam malam diterapkan

Jakarta, IDN Times - Inflasi dan meningkatnya biaya hidup telah memicu ratusan orang Sierra Leone melakukan protes di ibu kota Freetown pada Rabu (10/8/2022). Protes itu kemudian berujung ricuh dengan banyak orang terluka, termasuk petugas keamanan.

Menteri Pemuda Sierra Leone, Mohamed Orman Bangura, memastikan bahwa sampai saat ini diketahui sebanyak 8 petugas polisi tewas. Korban dari pihak pengunjuk rasa belum diketahui.

Pemerintah Sierra Leone kemudian menerapkan aturan jam malam untuk mengendalikan situasi. Wakil Presiden Mohamed Juldeh Jalloh menganggap para pengunjuk rasa itu adalah orang-orang yang tidak bermoral.

Baca Juga: Sierra Leone Hapus Hukuman Mati untuk Narapidana

1. Protes anti pemerintah berujung kerusuhan

8 Polisi Tewas dalam Aksi Protes di Sierra Leoneilustrasi demonstrasi (Unsplash.com/ Chris Slupski)

Pengunjuk rasa di Sierra Leone telah turun ke jalanan di ibu kota dan mengekspresikan kemarahannya atas inflasi. Harga barang-barang penting di negara Afrika Barat telah mengalami kenaikan yang memicu protes anti pemerintah.

Dikutip dari Deutsche Welle, para pengunjuk rasa meneriakkan slogan menentang Presiden Julius Maada Bio. Mereka juga membakar ban di tengah jalan dan melempari petugas keamanan dengan batu.

Di sisi lain, petugas keamanan juga disebut melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa. Beberapa pengunjuk rasa mengamuk dan mengeroyok para petugas.

"Orang-orang yang tidak bermoral ini telah memulai protes kekerasan dan tidak sah yang telah menyebabkan hilangnya nyawa warga Sierra Leone yang tidak bersalah termasuk personel keamanan," kata Wakil Presiden Mohamed Juldeh Jalloh.

Baca Juga: Pemerkosaan Meningkat, Presiden Sierra Leone Umumkan Darurat Nasional

2. Sebanyak 8 petugas polisi tewas

Protes anti pemerintah yang berujung rusuh itu telah menjadi mematikan. Protes diwarnai kekerasan, yang menurut pemerintah, terjadi sangat brutal.

Menteri Pemuda Mohamed Orman Bangura menjelaskan bahwa delapan petugas polisi tewas dalam peristiwa tersebut, kutip CNN. Identitas petugas yang tewas tidak dirilis tapi mereka adalah enam lelaki dan dua perempuan.

"Kami belum tahu berapa banyak orang yang terluka, tetapi saya dapat memastikan bahwa delapan petugas polisi tewas," kata Bangura.

"Itu bukan pengunjuk rasa. Ada perbedaan antara protes dan kerusuhan dan aksi terorisme. Memprotes berbeda dengan bertindak sebagai teroris, melawan negara, membunuh petugas polisi muda," tambahnya.

Baca Juga: Buronan Bandar Narkoba Ini Suka Bantu Warga Miskin di Sierra Leone

3. Sierra Leone terapkan jam malam

Melansir France24, pemerintah Sierra Leone segera menerapkan jam malam untuk mengendalikan situasi. Wakil Presiden Mohamed Juldeh Jalloh yang mengumumkan hal itu dalam pidatonya.

"Sektor keamanan telah diberi wewenang untuk sepenuhnya menegakkan arahan ini," tegasnya.

Dalam perkembangan lebih lanjut dari protes anti pemerintah itu, sejauh ini ada puluhan warga sipil yang dilaporkan tewas. Dikutip dari Reuters, diketahui sebanyak 21 warga sipil telah tewas.

Sulaiman Turay, pemuda yang tinggal di Freetown timur, ikut melakukan protes sebelum polisi kemudian menembakkan gas air mata. Dia kemudian mengaku melihat pengunjuk rasa ditembak.

"Saya pikir orang-orang terkejut. Ini bukan negara yang kami kenal. Sierra Leone adalah tempat yang damai," katanya.

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya