Comscore Tracker

Anggota Kelompok Ultra-Ortodoks Tolak Lockdown Nasional di Israel

Kebijakan lockdown dianggap tidak adil 

Tel Aviv, IDN Times – Badai pandemik COVID-19 gelombang kedua telah menggunacang Israel. Negara yang dimpim oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tersebut memutuskan melakukan penguncian wilayah secara nasional untuk yang kedua kali. Hal itu dilakukan untuk mengekang persebaran infeksi virus corona yang terus melonjak.

Banyak warga Israel tidak puas dengan respon penanganan Netanyahu dalam mengendalikan pandemik COVID-19. Demonstrasi terjadi lebih dari sepuluh minggu menuntut agar Netanyahu mundur dari jabatannya.

Sebuah stasiun berita televisi lokal Channel 12 News melakukan poling tentang kinerja penanganan Benjamin Netanyahu dalam melawan corona. Hasil dari poling tersebut, menurut kantor berita Haaretz adalah, 65 persen orang Israel menganggap Netanyahu memiliki respon buruk dalam menangani pandemi. 31 persen responden masih memberikan dukungan kepada Netanyahu (7/10).

1. Ribuan anggota kelompok ultra-ortodoks hadiri pemakaman seorang rabbi

Anggota Kelompok Ultra-Ortodoks Tolak Lockdown Nasional di IsraelKelompok ultra-ortodoks Israel abaikan social distancing dan tetap buka sekolah. Ilustrasi (twitter.com/Jewish News)

Seorang rabbi Yahudi dari kelompok ultra-ortodoks yang meninggal pada hari Minggu (4/10) karena COVID-19 membuat kemarahan banyak penduduk Israel. Kemarahan itu muncul karena pemakaman yang dilakukan tidak sesuai dengan protokol kesehatan.

Selain itu, ribuan anggota dari kelompok ultra-ortodoks hadir dalam pemakaman tersebut, menciptakan kerumunan dan polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Laman berita The Guardian melaporkan nama rabbi tersebut adalah Mordechai Leifer yang meninggal dalam usia 64 tahun karena komplikasi COVID-19. Lautan kerumunan bertopi hitam hadir dalam acara pemakaman di kota Ashdod pada hari Senin (6/10).

Penduduk Israel yang mematuhi peraturan penguncian nasional dan menyaksikan peristiwa tersebut, kecewa dengan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah dianggap tidak memiliki ketegasan dalam penanganan COVID-19. Politisi sayap kanan yang berseberangan dengan Netanyahu dan menyaksikan prosesi pemakaman yang disiarkan dalam berita televisi menganggap bahwa peristiwa itu adalah “ludah di wajah seluruh negeri”.

2. Kecewa dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Netanyahu

Anggota Kelompok Ultra-Ortodoks Tolak Lockdown Nasional di IsraelDemonstrasi anti-Netanyahu terus berlangsung di Yerusalem (twitter.com/The Jerusalem Post)

Total penduduk Israel sekitar sembilan juta orang. Negara sedang berjuang untuk melewati badai serangan virus corona gelombang kedua yang mengamuk. Kelompok ultra-ortodoks yang berjumlah hanya 10 persen dari total penduduk, namun kelompok tersebut menyumbang lebih dari sepertiga kasus COVID-19 yang terjadi di negara tersebut.

Laman berita Associated Press menurunkan berita kekecewaan penduduk Israel. “Kami telah diminta untuk lockdown, dengan biaya ekonomi yang gila, dan membuat orang jadi gila, tapi peningkatan virus corona terus bertambah yang sebagian besar terjadi di kelompok ultra-ortodoks” (7/10). Para ahli kesehatan masyarakat juga bingung mengapa orang-orang ultra-ortodoks melakukan kecerobohan tersebut dan pemerintah membiarkannya.

Dalam seminggu, kasus infeksi baru di Israel tercatat ada 9.000 kasus dalam setiap harinya. Menurut laman Worldometer, per 6 Oktober 2020, lebih dari 275.000 warga Israel positif terinfeksi virus corona. Kematian akibat virus dari Wuhan tersebut hampir mendekati angka 2.000. Lonjakan infeksi virus corona terus terjadi di negara tersebut.

3. Kelompok ultra-ortodoks menganggap pemerintah melakukan diskriminasi

Anggota Kelompok Ultra-Ortodoks Tolak Lockdown Nasional di IsraelPolitisi kelompok ultra-ortodoks Israel adalah salah satu pendukung pemerintahan Benjamin Netanyahu. Ilustrasi (twitter.com/Religion and State)

Kelompok ultra-ortodoks, atau Haredi, adalah salah satu kelompok yang menentang kebijakan penguncian wilayah nasional yang dilakukan oleh pemerintahan Netanyahu. Kelompok tersebut menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Netanyahu adalah kebijakan diskriminatif. Meski pada faktanya, pemerintahan Netanyahu pada awal terpilih didukung oleh politisi ultra-ortodoks.

Penguncian nasional yang dilakukan bertepatan dengan dua libur perayaan Yahudi, dilakukan untuk mencegah supaya layanan sinagog tidak penuh sesak. Pertemuan keluarga besar dalam perayaan juga dapat dikurangi dengan pemberlakuakn penguncian nasional. Karena itulah, lonjakan infeksi virus corona kemungkinan bisa ditahan.

Akan tetapi pihak ultra-ortodoks menentang keputusan tersebut. Mereka tetap pergi ke sinagog, pergi antar kota, membuka sekolah-sekolah keagamaan dan juga menghadiri pemakaman yang menciptakan kerumunan. Para anggota kelompok ultra-ortodoks menganggap bahwa penyeimbangan antara ekonomi dan agama dengan membiarkan hotel dan restoran tetap buka tapi melarang pergi ke sinagog adalah keputusan yang tidak adil.

Mereka menganggap “(Polisi) membenci kami, mereka membenci agama. Ini adalah perang melawan agama, tidak ada yang lain,” kata Yulish Krois, seorang rabbi ultra-ortodoks, ayah dari 18 anak, dikutp dari laman berita The Guardian (6/10).

Kelompok ultra-ortodoks menjadi salah satu klaster penyebaran virus corona di Israel. Mereka rata-rata tinggal di wilayah pemukiman padat dan miskin, membuat COVID-19 dengan cepat menyebar di antara mereka. Banyak dari kelompok ini anti-negara, dan pihak laki-lakinya dikecualikan dari wajib militer, kewajiban yang diharuskan untuk para lelaki diluar kelompok ultra-ortodoks. 

Baca Juga: Lebih Kuat dari Saudi dan Israel, Berikut Detail Kekuatan TNI Kita

Pri - Photo Verified Writer Pri -

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya