Comscore Tracker

AS Akui Kesalahan dalam Serangan Pesawat Nirawak di Afghanistan

Menhan AS meminta maaf atas kesalahan tersebut 

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui kesalahan tragis atas serangan pesawat nirawak di Kabul bulan lalu. Serangan itu menewaskan 10 orang, termasuk di antaranya anak-anak.

Serangan pesawat nirawak itu adalah serangan terakhir AS di Afghanistan. Serangan dilakukan untuk menanggapi ledakan bom bunuh diri yang menewaskan 13 pasukan AS dan ratusan warga Afghanistan, termasuk pasukan Taliban, ketika proses evakuasi mencapai detik-detik terakhir.

1. AS akui telah lakukan kesalahan yang tragis

Serangan pesawat nirawak AS di Afghanistan dilakukan pada tanggal 29 Agustus 2021. Serangan itu menargetkan jaringan anggota ISIS-K yang telah melakukan ledakan bom bunuh diri di bandara Kabul yang padat.

Saat itu, komandan tertinggi AS mengatakan bahwa serangan yang diluncurkan telah "benar" ketika media seperti The Washington Post dan New York Times melaporkan bahwa korban yang meninggal adalah warga sipil, termasuk anak-anak.

Kini, militer AS mengakui kebenaran investigasi independen yang telah diluncurkan oleh media.

Dilansir dari NPR, Jenderal Korps Marinir Kenneth F. McKenzie yang menjabat sebagai Kepala Komando Pusat AS menjelaskan "penyelidikan kami sekarang menyimpulkan bahwa serangan itu adalah kesalahan yang tragis," katanya.

Serangan pesawat nirawak jenis Reaper dengan rudal Hellfire, dilaporkan telah membunuh Zemari Ahmadi, seorang pekerja kemanusiaan Nutrition and Education International yang memiliki basis di California. Selain membunuh Ahmadi, ada sembilan korban lain termasuk tujuh orang anak-anak.

2. Menhan AS meminta maaf atas kesalahan serangan

Baca Juga: Menlu Belanda Resign Karena Gagal Tangani Evakuasi di Afghanistan

Ketika laporan investigasi dari media AS dipublikasikan, pihak militer mencoba membela diri bahwa serangan yang diluncurkan untuk mencegah ancaman ke bandara Kabul adalah tindakan yang benar. Serangan itu juga disebut telah menargetkan anggota ISIS-K.

Kini setelah penyelidikan independen dilakukan dan faktanya korban serangan adalah pekerja kemanusiaan, AS mengakui telah melakukan kesalahan tragis.

Menteri Pertahanan AS yang bernama Lloyd Austin mengatakan "kami meminta maaf, dan kami akan berusaha untuk belajar dari kesalahan mengerikan ini," ujarnya dikutip Reuters.

Austin juga menegaskan bahwa Zemari Ahmadi tidak ada kaitannya dengan organisasi ISIS-K yang dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom bunuh diri di banda Kabul. Zemari Ahmadi, kata Austin dalam sebuah pernyataan "aktivitasnya pada hari itu sama sekali tidak berbahaya dan sama sekali tidak terkait dengan ancaman yang kami yakini akan kami hadapi."

Permintaan maaf secara pribadi oleh Austin tersebut adalah sebuah tindakan yang jarang dilakukan oleh pejabat senior di Pentagon, apalagi sekelas Menteri Pertahanan. 

3. Kesalahan serangan membuat wajah intelijen tercoreng

Serangan pesawat nirawak AS di dekat perumahan Kabul terjadi setelah tiga hari ledakan bom bunuh diri di bandara Hamid Karzai yang membunuh hampir 200 korban jiwa, termasuk 13 pasukan AS.

Dalam konferensi pers pada 1 Septemberi 2021, Mark Milley yang menjabat sebagai ketua Kepala Staf Gabungan AS menyebut tindakan itu adalah "serangan yang benar," dengan mengikuti prosedur yang ada.

Tapi kini ketika fakta mengungkap kesalahan fatal serangan, itu membuat citra intelijen yang melakukan pengintaian menjadi tercoreng.

Dilansir dari Al Jazeera, Adam Schiff, salah satu anggota Kongres AS dari Demokrat menyuarakan keprihatinan tentang "akurasi dan kelengkapan pernyataan publik" setelah serangan pesawat nirawak.

Pihak Amnesty International menyambut baik pengakuan korban sipil oleh militer AS. Brian Castner dari lembaga tersebut mengatakan "korban yang selamat dan keluarga harus terus diberitahu tentang kemajuan penyelidikan dan diberikan ganti rugi penuh."

Baca Juga: Menlu Belanda Resign Karena Gagal Tangani Evakuasi di Afghanistan

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya