Comscore Tracker

Bangladesh: 52 Tewas dalam Kebakaran Pabrik, Pemilik Ditangkap

Ada dugaan pabrik pekerjakan anak-anak

Dhaka, IDN Times - Insiden memilukan terjadi di Rupganj, sekitar 62 kilometer sebelah timur ibukota Dhaka, Bangladesh. Insiden tersebut adalah kebakaran besar sebuah pabrik makanan pada hari Kamis (8/7) yang menyebabkan sebanyak 52 orang meninggal dunia.

Pemilik pabrik makanan, pada hari Sabtu (10/7) ditangkap oleh pihak yang berwenang. Penyelidikan segera diluncurkan dan pemilik pabrik kemungkinan bisa dijerat dengan tuduhan pembunuhan.

Lebih ironis lagi, ada beberapa pekerja di pabrik tersebut adalah anak-anak di bawah umur dan dari mereka ada yang menjadi korban. Penyelidikan lain segera dilakukan untuk memastikan apakah benar pabrik melakukan hal tersebut.

1. Delapan orang ditangkap

Kebakaran besar di Rupganj terjadi di pabrik makanan bernama Hashem Foods Ltd. Pabrik itu terdiri dari enam lantai dan kebakaran besar terjadi bermula di lantai dasar. Pemilik pabrik yang bernama Abul Hashem ditangkap oleh pihak berwenang Bangladesh.

Melansir laman BBC, total ada delapan orang yang ditangkap, termasuk empat putra Abul Hashem. Kepolisian mengatakan mereka semua akan menghadapi tuduhan pembunuhan, karena para pekerja yang meninggal.

Sebelum Hashem ditangkap, dia mengatakan kepada media bahwa kebakaran itu terjadi akibat "kecerobohan pekerja." Ia mencontohkan seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan yang bisa memicu kebakaran.

Tim penyelamat dan pemadam kebakaran yang melakukan operasi penyelamatan menjelaskan sebagian besar pekerja terjebak di lantai tiga. Abdullah Al Arefin, salah satu petugas penyelamat mengatakan beberapa orang yang berhasil menyelamatkan diri karena berhasil lewat tangga dan menuju atap. Tapi banyak yang terjebak, melompat lewat jendela untuk melarikan diri dari api yang berkobar.

2. Para pekerja terkunci di dalam pabrik saat kebakaran terjadi

Baca Juga: Bangladesh: Sapi Kerdil Sebabkan Kerumunan Rawan COVID-19

Beberapa bahan kimia dan zat mudah terbakar seperti polyethylene (plastik kantong) dan mentega disebut memiliki kontribusi pada kebakaran pabrik. Bahan-bahan itu juga telah membuat api sulit untuk dikendalikan dan dipadamkan. Setidaknya selama 12 jam sejak kebakaran, api baru dapat dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran Bangladesh pada Jumat sore (9/7).

Pada Jumat sore itulah, tim pemadam kebakaran dan tim penyelamat menemukan tumpukan mayat. Melansir laman The Guardian, Debasish Bardhan yang menjabat sebagai wakil direktur dinas pemadam kebakaran dan pertahanan sipil mengatakan para pekerja terjebak karena pintu utama terkunci. Tiga orang tewas ketika mereka melompat dari atap pada hari Kamis dan lebih dari 50 orang terluka yang kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Menurut aturan yang ada di Bangladesh, sebuah pabrik tidak boleh mengunci pintu keluarnya ketika pekerja berada di dalam selama jam produksi. Karena itu, penyelidikan segera dilakukan untuk memastikan kebenaran dari para saksi.

Namun manajer umum senior untuk ekspor yang bernama Kazi Abdur Rahman menolak tuduhan telah mengunci pintu utama pabrik dan mengatakan bahwa "kami adalah perusahaan terkenal. Kami menjaga aturan. Apa yang terjadi hari ini sangat menyedihkan. Kami menyesalinya."

3. Tuduhan mempekerjakan anak-anak di bawah umur

https://www.youtube.com/embed/cK8SDVcXd2o

Selain tuduhan pembunuhan yang dialamatkan kepada pemilik, pabrik tersebut diduga telah mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Beberapa keluarga dan para pekerja yang bisa menyelamatkan diri, mereka menunggu kawan atau saudaranya selama berjam-jam di luar pabrik sementara para petugas penyelamat dan pemadam kebakaran bekerja.

Laizu Begum, salah satu pekerja yang memiliki keponakan dan juga bekerja di pabrik makanan itu mengatakan "kami mendengar pintu lantai tempat keponakan saya bekerja digembok. Kemudian kami menyadari setelah melihat seberapa besar apinya, kemungkinan dia sudah mati," katanya seperti dikutip Straits Times. Keponakan Begum berusia 11 tahun.

Selain keponakan Begum ada beberapa keluarga yang mencari anak-anaknya di rumah sakit Dhaka Medical College dengan membawa foto. Bilal Hossain, mengambil jenazah putrinya yang berusia 14 tahun bernama Mitu Atker dan Chandu Mia memegang foto putrinya yang berusia 15 tahun sambil mengatakan "saya tidak yakin apakah dia masih hidup."

Menteri Tenaga Kerja yang bernama Monnujan Sufian mengatakan "jika terbukti ada pekerja anak, kami akan menindak pemilik dan pengawasnya."

Bangladesh tekenal dengan gaji pekerja yang rendah. Para pekerja di pabrik Hashem Foods yang terbakar itu mendapatkan bayaran 20 taka atau setara Rp4.111 per jam atau sekitar Rp32.888 dalam sehari (standar jam kerja 8 jam). Jumlah bayaran dengan nominal itu diberikan kepada mereka yang masih anak-anak, menurut pengakuan para keluarga.

Baca Juga: Varian Baru COVID-19 Landa Bangladesh, RS Penuh

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya