Comscore Tracker

Denmark Stop Vaksin AstraZeneca secara Permanen

Keputusan Denmark tersebut adalah pertama di Eropa

Kopenhagen, IDN Times - Keputusan mengejutkan datang dari pemerintah kerajaan Denmark. Denmark menghentikan secara permanen penggunaan vaksin virus corona produksi AstraZeneca pada Selasa, 13 April 2021.

Denmark menjadi negara pertama di Eropa yang memutuskan untuk menghentikan suntikan vaksin AstraZeneca. Menurut Denmark, penghentian itu dilakukan karena efek samping nyata dan serius yang ditimbulkan vaksin.

Pihak AstraZeneca sebagai produsen vaksin virus corona menghormati keputusan Denmark. European Medicines Agency  (EMA) sebelumnya mengatakan bahwa manfaat vaksin lebih tinggi dari pada risiko kematian akibat suntikan tapi keputusan berada di tangan masing-masing pemerintah negara anggota Uni Eropa (UE).

1. Isu efek samping pembekuan darah akibat suntikan vaksin masih jadi faktor utama

Denmark Stop Vaksin AstraZeneca secara PermanenVirus corona (Unsplash.com/Martin Sanchez)

Keputusan Denmark untuk meninggalkan sama sekali penggunaan vaksin virus corona produksi AstraZeneca dijelaskan oleh otoritas kesehatan negara tersebut. France24 mewartakan bahwa Soren Brostrom, direktur otoritas kesehatan Denmark mengatakan "kampanye vaksinasi Denmark akan berjalan tanpa vaksin AstraZeneca."

Salah satu isu utama yang membayangi keputusan Denmark adalah kecurigaan efek samping pembekuan darah di otak yang disebut cerebral venous sinus thrombosis (CVST). Meskipun dugaan efek samping itu jarang ditemukan, namun otoritas menilai bahwa itu serius.

Satu dari 40.000 orang yang mendapatkan suntikan vaksin AstraZeneca terlihat menerima efek samping yang serius.

Denmark memiliki jumlah penduduk sekitar 5,8 juta orang. Saat ini, negara Nordik itu telah memberikan suntikan vaksin kepada hampir satu juta warganya dengan tiga jenis vaksin yakni Pfizer, Moderna dan AstraZeneca.

Vaksin Pfizer adalah jumlah suntikan vaksin terbesar yang digunakan yakni sebanyak 77 persen. Suntikan vaksin Moderna telah digunakan 7,8 persen dan AstraZeneca telah digunakan 15,3 persen sebelum akhirnya dihentikan.

2. AstraZeneca hormati keputusan Denmark

Denmark Stop Vaksin AstraZeneca secara PermanenVaksin AstraZeneca. (Twitter.com/Capital Moments)

Isu tentang efek samping pembekuan darah setelah suntikan vaksin AstraZeneca telah membuat banyak negara menangguhkan penggunaan vaksin tersebut. Namun saat ini sudah banyak negara yang telah kembali memulai menggunakannya.

Denmark adalah negara pertama yang memutuskan untuk meninggalkan vaksin AstraZeneca secara permanen karena isu yang sama yang muncul beberapa waktu lalu.

Melansir dari laman Al Jazeera, pihak produsen vaksin AstraZeneca mengatakan bahwa mereka menghormati pilihan yang dilakukan oleh Denmark. Mereka juga berjanji akan terus memberikan data untuk menginformasikan keputusan di masa mendatang.

Perusahaan AstraZeneca mengatakan bahwa "pelaksanaan dan peluncuran program vaksin adalah masalah yang harus diputuskan oleh masing-masing negara, berdasarkan kondisi lokal."

Denmark adalah negara anggota Uni Eropa (UE) pertama yang telah menangguhkan penggunaan suntikan vaksin AstraZeneca beberapa bulan lalu. Negara-negara lain kemudian mengikuti. Kini Denmark sepenuhnya secara permanen memutuskan untuk tidak menggunakan vaksin tersebut.

3. Vaksin virus corona produksi Johnson & Johnson juga ditunda penggunaannya

Di tengah kabar Denmark memutuskan untuk memvaksin penduduknya tanpa menyertakan vaksin AstraZeneca, vaksin produksi Johnson & Johnson (J&J) juga ditunda penggunaannya. Kasus yang membuat vaksin tersebut ditunda juga karena efek samping pembekuan darah.

Melansir dari laman The Guardian, otoritas Amerika Serikat telah menunda penggunaan vaksin J&J karena kasus yang serupa dengan vaksin AstraZeneca. Ada enam kasus pembekuan darah di Amerika Serikat yang melibatkan perempuan berusia antara 18 dan 48 tahun. Regulator obat-obatan AS, FDA, sedang meninjau analisis tersebut.

J&J kemudian menunda peluncuran vaksinnya di Uni Eropa meski telah mengirimkan pasokan vaksin tersebut. Badan pengawas obat Eropa, EMA, mengatakan J&J telah melakukan kontak dengan otoritas nasional dan merekomendasikan dosis penyimpanan yang sudah diterima oleh negara Eropa, sampai komite keselamatan mengeluarkan rekomendasi yang dipercepat.

Tidak semua negara Eropa satu suara soal vaksin J&J itu. Prancis misalnya, juru bicara pemerintah mengatakan akan menggunakan dosis tunggal suntikan vaksin J&J yang baru saja mereka terima. 

Keputusan penundaan peluncuran vaksin virus corona J&J di Eropa akan semakin membuat benua tersebut mengalami keterlambatan kampanye vaksinasi. UE sebelumnya telah mengalami keterlambatan vaksinasi, termasuk terlambatnya AstraZeneca dalam memenuhi pasokan vaksin terhadap anggota negara UE.

Baca Juga: Sempat Dihentikan, Korsel Kembali Gunakan AstraZeneca

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya