Comscore Tracker

Di Akhir Jabatan, Donald Trump Semakin Terisolasi

YouTube tangguhkan akun Trump sepekan 

Washington, IDN Times – Presiden Amerika Serikat ke 45, Donald Trump, kini semakin terisolasi dari dunia daring. Twitter telah memutuskan untuk mengguhkan akun Trump selamanya. Facebook telah melarang Trump mengunggah postingan, dan aplikasi sayap kanan konservatif pendukung Trump bernama Parler, telah didepak dari Play Store dan App Store serta Amazon.

Kerusuhan di Capitol Hill yang dilakukan oleh pendukung Donald Trump dan mengakibatkan lima orang meninggal, telah menyebabkan rentetan gelombang untuk memblokade saluran informasi Donald Trump.

Trump telah dituduh menggunakan sosial media untuk mengarahkan para pendukungnya, berbaris menuju Capitol, mengganggu Kongres ketika mengesahkan Biden sebagai Presiden.

Tinggal sepekan jabatan Trump sebagai presiden, kini dia harus menghadapi upaya pemakzulan yang dilancarkan oleh Demokrat. Selain itu, para sekutu Donald Trump dari Republik juga mulai meninggalkan dan justru melawannya. Trump, benar-benar semakin terisolasi.

1. YouTube tangguhkan akun Donald Trump selama sepekan

Di Akhir Jabatan, Donald Trump Semakin TerisolasiSetelah Twitter dan Facebook, kini YouTube blokir akun Donald Trump. Ilustrasi (pexels.com/Freestock.org)

Mendekati pelantikan Joe Biden-Kamala Haris pada tanggal 20 Januari 2021, kini situs berbagi video milik Google yakni YouTube mengambil keputusan untuk menangguhkan akun Donald Trump selama setidaknya tujuh hari ke depan. Langkah tersebut mengikut jejak Twitter dan Facebook.

Melansir dari laman The Guardian, juru bicara YouTube telah meninjau dengan cermat dan mengingat kekhawatiran potensi kekerasan, maka YouTube melarang akun Donald Trump mengunggah video baru serta streaming selama tujuh hari.

Langkah yang dilakukan YouTube adalah ikhtiar untuk memerangi misinformasi dan hasutan kekerasan daring usai pendukung Trump menyerbu Capitol. Tindakan yang dilakukan oleh YouTube bahkan akan menonaktifkan kolom kementar, serta penangguhan akun tersebut dapat diperpanjang lagi.

2. Pengguna Parler menembus jauh ke dalam gedung Capitol

Di Akhir Jabatan, Donald Trump Semakin TerisolasiPengguna aplikasi Parler dapat dilacak sejauh mana posisi mereka di dalam dan di luar Capitol Hill. Ilustrasi (twitter.com/The Verge)

Aplikasi pendukung Donald Trump, Parler, telah mengalami guncangan dahsyat. Aplikasi yang didukung oleh kelompok konservatif tersebut telah didepak dari Play Store, dibuang dari App Store dan kemudian disingkirkan dari Amazon. Lengkap sudah penderitaannya.

Aplikasi Parler yang didirikan pada tahun 2018 tersebut, banyak dihuni oleh kelompok konservatif yang disingkirkan dari Twitter dan Facebook.

Salah satu hal yang membuat aplikasi ini tumbuh dengan pesat karena Twitter dan Facebook mulai menyaring dengan ketat informasi hoaks yang tersebar terkait dengan kekeliruan hasil pemilu AS.

Meski kini Parler akhirnya “ditumbangkan” oleh raksasa-raksasa teknologi penyalur aplikasi tersebut, namun pelacakan dan penyelidikan lebih jauh mendapatkan hasil yang mengejutkan. Melansir dari laman Gizmodo, para pasukan pendukung Trump yang menyerbu gedung Capitol rupanya dapat dilacak posisinya melalui aplikasi Parler di ponsel mereka.

Lokasi para pengguna Parler terlacak dengan jelas ketika mereka memposting video pada 6 Januari, saat mereka menyerbu Capitol. Keberadaan para pengguna Parler tidak diketahui di lantai mana, namun koordinat posisi mereka diperkirakan akurat hingga jarak perkiraan 11 meter. Pelacakan juga menunjukkan bahwa para pengguna Parler masuk jauh ke dalam gedung, juga banyak lainnya tersebar di sekitar gedung Capitol.

Baca Juga: Sederet Fakta Pemakzulan Trump oleh DPR Amerika Serikat

3. Senior Republikan melawan Donald Trump

Di Akhir Jabatan, Donald Trump Semakin TerisolasiLiz Cheney dari Partai Republik yang mendukung pemakzulan Donald Trump. Ilustrasi (instagram.com/replizcheney)

Penyerangan gedung Capitol Hill pada tanggal 6 Januari telah membuat demokrasi AS menjadi bahan ejekan. Para pemimpin dunia yang memiliki pemahaman selaras dengan demokrasi, telah mengutuk penyerbuan Capitol oleh para pendukung Trump.

Kini, para tokoh Republikan yang tadinya mendukung Trump melawan balik karena peristiwa penyerangan Capitol Hill. Melansir dari laman BBC, anggota senior Partai Republik, Liz Cheney mengatakan akan mendukung pemakzulan yang diajukan oleh Partai Demokrat.

Dua anggota Kongres lain dari Partai Republik, John Katko dan Adam Kinzinger juga berpendapat senada dengan Cheney, bahwa mereka akan mendukung pemakzulan Donald Trump.

Pemimpin Senat Partai Republik, Mitch McConnel, lewat orang kepercayaannya juga mengatakan bahwa dia senang jika Demokrat mendakwa Donald Trump.

Anggota Kongres dari Partai Republik perwakilan Pennsylvania mengeluarkan resolusi lebih ringan yakni untuk mengecam Trump.

Selain itu, sebanyak 20 anggota Senat dari Partai Republik juga secara terbuka mengatakan akan menghukum Donald Trump karena dianggap menyerukan serangan ke gedung Capitol.

4. Trump lebih marah karena klub golfnya didepak dari turnamen

Di Akhir Jabatan, Donald Trump Semakin TerisolasiTrump lebih marah karena klub golfnya didepak dari turnamen profesional dari pada dia dimakzulkan. Ilustrasi (unsplash.com/Matt Seymour)

Proposal pemakzulan Donald Trump yang diajukan partai Demokrat dan kemudian banyak didukung oleh anggota partai Republik, telah membuat Trump marah. Melansir dari laman Associated Press, Trump mengatakan bahwa pemakzulan “ini menyebabkan kemarahan yang luar biasa, perpecahan dan rasa sakit yang jauh lebih besar dari pada yang pernah dipahami oleh kebanyakan orang, yang sangat berbahaya bagi AS, terutama pada saat yang lembut ini” jelasnya.

Namun, kemarahan Donald Trump atas gagasan pemakzulan yang diajukan oleh Demokrat tersebut rupanya belum apa-apa. Donald Trump jauh lebih marah lagi, ketika PGA of America, penyelenggara turnamen golf di AS, mendepak lapangan golf Trump di Bedminister, New Jersey dan tidak memasukkannya ke dalam kejuaraan pada tahun 2022.

Melansir dari Business Insider, Trump “patah hati” atas keputusan PGA dan marah karena kehilangan hak istimewa menjadi salah satu tuan rumah turnamen golf profesional. CEO PGA, Seth Waugh, menjelaskan bahwa situasi politik tersebut bukanlah mereka yang membuatnya. Namun, mereka mencoba melindungi integritas.

“Kami adalah pemegang hak untuk permainan, untuk misi kami, untuk merek kami. Dan bagaimana cara terbaik itu melindungi itu semua? Perasaan kami pada peristiwa tragis hari Rabu (di Capitol Hill), membuat kami tidak dapat lagi mengadakan (turnamen) di Bedminister”, kata Seth Waugh menjelaskan. Trump memang marah atas pemakzulan, tapi lebih marah dan kesal lagi ketika didepak dari turnamen golf profesional. 

Baca Juga: Dilukai, Seekor Manatee Punya Tulisan 'TRUMP' di Punggung

Pri - Photo Verified Writer Pri -

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya