Comscore Tracker

Dituduh Neo-Nazi, Milisi Ukraina di Azovstal Tak Akan Dilepas Rusia

Presiden Zelenskyy minta milisinya dibebaskan hidup-hidup

Jakarta, IDN Times - Rusia mengakhiri pengepungan kompleks pabrik metalurgi Azovstal di kota Mariupol pada Selasa (17/5/2022). Komples pabrik tersebut adalah benteng terakhir pasukan Ukraina.

Lebih dari 200 pasukan Ukraina, sebagian resimen Azov, telah ditangkap dan dibawa ke daerah Donetsk yang dikuasai pemberontak pro-Moskow. Sebanyak 53 pasukan di antaranya terluka parah dan disebut akan mendapat perawatan.

Parlemen Rusia berencana untuk melarang pertukaran tawanan perang Rusia dengan anggota resimen Azov yang ditangkap. Resimen Azov disebut milisi sukarelawan kelompok sayap kanan. Mereka dituduh sebagai ultranasionalis dengan menganut ideologi neo-Nazi.

1. Lebih dari 200 pasukan Ukraina ditangkap

https://www.youtube.com/embed/FgunuABL9I8

Kota pelabuhan Mariupol di pesisir Laut Azov adalah simbol kegigihan perlawanan Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari. Kota itu jadi kota paling menderita dengan sebagian besar bangunan telah rusak atau hancur karena bom.

Ratusan tentara Ukraina bertahan di kompleks pabrik Azovstal dan menjadikan bunker bawah tanah sebagai benteng terakhirnya. Rusia mengepung kompleks tersebut dan terus melancarkan serangan untuk mengalahkan pasukan Ukraina.

Pada Selasa, Rusia mengakhiri pengepungan itu dengan ratusan tentara Ukraina berhasil ditangkap.

"Secara keseluruhan, 256 gerilyawan Ukraina telah menyerah dari wilayah pabrik baja Azovstal di Mariupol. Ada 51 gerilyawan yang terluka di antara mereka yang ditangkap," kata markas besar pertahanan teritorial Republik Rakyat Donetsk (DPR), dikutip dari Tass.

Baca Juga: Fix! Zelenskyy Resmi Larang Partai Politik Pro-Rusia di Ukraina

2. Ukraina butuh pahlawan hidup

Sebelum berakhirnya pengepungan, Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan telah terjadi kesepakatan dengan pasukan Ukraina untuk menutup wilayah Azovstal guna mengeluarkan personel militer yang terluka. Gencatan senjata juga berlaku di sekitar pabrik dan koridor evakuasi dibuka.

Komando militer Ukraina pada Selasa juga mengatakan, misi untuk mempertahankan pabrik baja itu telah berakhir. Oleh sebab itu, langkah selanjutnya adalah untuk menyelamatkan nyawa prajurit.

"Ukraina membutuhkan pahlawan hidup," kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam pidato video malamnya, dilansir Reuters.

Sebagian dari tentara Ukraina itu disebut Resimen Azov, milisi sukarelawan yang bergabung dengan militer Ukraina. Mereka dituduh sebagai kelompok nasionalis radikal anti-Rusia dengan ideologi neo-Nazi.

Sampai saat ini, belum jelas apa yang akan terjadi pada para pejuang Ukraina yang telah dievakuasi dan ditahan pihak Rusia tersebut.

3. Parlemen Rusia berencana larang pertukaran tahanan resimen Azov

Dituduh Neo-Nazi, Milisi Ukraina di Azovstal Tak Akan Dilepas Rusiailustrasi tank Rusia hancur di Ukraina (Twitter.com/ArmyInform)

Ukraina masih memiliki misi untuk mengembalikan para pejuangnya kembali ke tanah air. Dilansir Al Jazeera, Wakil Menteri Pertahanan Ukraina, Hanna Malyar, mengatakan prosedur pertukaran akan dilakukan untuk kepulangan mereka.

Akan tetapi, parlemen Rusia kabarnya berencana untuk melarang pertukaran tahanan perang tersebut. Beberapa legislator Rusia mendesak Moskow untuk tidak menukar tawanan perang.

Ketua Duma (parlemen Rusia) Vyacheslav Volodin mengatakan, anggota resimen Azov adalah penjahat Nazi yang tidak boleh dimasukkan dalam pertukaran tahanan.

"Mereka adalah penjahat perang dan kita harus melakukan segalanya untuk membawa mereka ke pengadilan," kata Volodin.

Leonid Slutsky, legislator Rusia lainnya menyebut, "mereka tidak pantas hidup setelah kejahatan mengerikan terhadap kemanusiaan yang telah mereka lakukan dan yang dilakukan terus menerus terhadap tahanan kami."

Jatuhnya Azovstal akan jadi kemenangan simbolis bagi Rusia atas Mariupol.

"Sebenarnya Mariupol sudah jatuh, tapi tidak secara simbolis (tidak terlihat kalah) karena perlawanan yang luar biasa ini," kata pensiunan Wakil Laksamana Prancis yang merupakan kepala pusat studi militer tinggi Prancis, Michel Olhagaray, dikutip Associated Press.

Baca Juga: Rusia-Ukraina Tak Kunjung Damai, PM Estonia: Putin Jangan Ditemenin!

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya