Comscore Tracker

Ethiopia Tekan Oposisi dengan Membentuk Pemerintahan Sementara

Operasi militer terus dan konflik kian meruncing 

Addis Ababa, IDN Times – Pemerintah Ethiopia berusaha untuk memegang kendali wilayah oposisi di Tigray, bagian utara negara tersebut. Ketegangan yang semakin memuncak dan membuat banyak pengamat khawatir akan terjadinya konflik yang berlarut-larut, belum menyurutkan niat Perdana Menteri Abiy Ahmed untuk menurunkan tensi serangan ke wilayah yang dikuasai oleh Tigrayan.

Strategi terbaru yang diluncurkan oleh Abiy Ahmed untuk melakukan kontrol terhadap wilayah Tigray adalah dengan meminta parlemen untuk membuat pemerintahan baru di wilayah tersebut. Pada hari Sabtu, 7 November 2020, anggota parlemen Ethiopia setuju memilih untuk menggantikan pemimpin yang menguasai wilayah Tigray.

Melansir dari Deutsche Welle, “Pemerintahan sementara akan menunjuk pejabat, memastikan memiliki penghormatan terhadap hukum, menyetujui anggaran dan memfasilitasi proses pelaksanaan pemilihan” kata pemerintah federal (7/11).

1. Pemilihan pemimpin di Tigray dianggap ilegal

Ethiopia Tekan Oposisi dengan Membentuk Pemerintahan SementaraPM Ethiopia kirim militer ke wilayah oposisi. Ilustrasi (unsplash.com/Chuanchai Pundej)

Pada bulan September 2020, orang-orang Tigrayan yang berada di wilayah Tigray melakukan pemilihan untuk menentukan pemimpin mereka. Debrestion Gebremichael terpilih dalam pemilihan tersebut. Akan tetapi, pemilihan dianggap ilegal oleh pemerintah federal.

Pemerintah federal telah menunda pemilihan karena masalah COVID-19 yang belum jelas kapan akan berakhir. Pemilihan telah ditunda akan tetapi kelompok Tigrayan tidak sepakat dengan penundaan tersebut dan akhirnya melakukan pemilihan sendiri.

Kantor berita Reuters dalam laporannya mengatakan bahwa langkah yang dilakukan oleh Abiy Ahmed adalah sebuah langkah yang bertujuan untuk menyangkal legitimasi pemerintah daerah yang dideklarasikan oleh orang-orang Tigrayan (7/11). Dengan langkah tersebut, Abiy Ahmed membuat pemerintahan “resmi” sementara agar bisa mengendalikan wilayah Tigray.

2. Pemerintah federal lancarkan serangan udara

Ethiopia Tekan Oposisi dengan Membentuk Pemerintahan SementaraPM Ethiopia kirim serangan udara ke wilayah Tigray pada Jum'at (6/11). Ilustrasi (unsplash.com/Philip Brown)

Ketegangan yang telah terjadi selama berminggu-minggu antara pemerintah federal dan pemimpin regional Tigray telah mengancam terjadinya perang saudara yang berlarut-larut. Operasi militer yang dilancarkan oleh pemerintah federal pada hari Rabu, 4 November 2020, intensitas serangannya semakin ditingkatkan.

Pada hari Jum’at, 6 November 2020, seiring dengan eskalasi yang meningkat, Perdana Menteri Abiy Ahmed, mengumumkan telah melancarkan serangan udara ke wilayah Tigray. Melansir dari laman berita The Guardian, serangan udara militer federal diklaim telah “menghancurkan roket dan dan senjata berat lainnya di wilayah ibukota Tigray, Mekele” (6/11). Klaim juga berlanjut bahwa serangan udara tersebut membuat serangan balasan tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang Tigrayan yang dipimpin kelompok TPLF (Tigrayan People’s Liberation Front).

Tidak ada informasi yang jelas mengenai jumlah korban dalam konflik yang sudah berjalan selama empat hari tersebut. Namun operasi militer akan terus dilakukan karena memiliki “tujuan yang jelas, terbatas dan dapat dicapai: untuk memulihkan supremasi hukum dan ketertiban konstitusional”, kata Abiy Ahmed, Perdana Menteri Ethiopia yang pernah meraih hadiah Nobel Perdamaian.

Baca Juga: Ethiopia Diambang Perang Saudara, Saluran Internet di Tigray Diputus

3. Dominasi kelompok Tigrayan meski secara etnis lebih kecil

Ethiopia Tekan Oposisi dengan Membentuk Pemerintahan SementaraEthiopia adalah negara terpadat kedua di Afrika dan kelompok Tigrayan banyak mendominasi jabatan sipil dan militer pada tahun 1990-2018. Ilustrasi (Wikimedia.org/Sam Effron)

TPLF dan orang-orang Tigrayan adalah kelompok yang telah mendominasi politik Ethiopia sejak tahun 1990-an sampai tahun 2018. Mereka tidak hanya banyak memiliki posisi strategis dalam jabatan politik tetapi juga dalam militer. Mereka juga terkenal sebagai kaum gerilyawan tangguh pada tahun 1970-1990-an.

Pada tahun itu 2018, kelompok mereka bergabung dengan kelompok Abiy Ahmed untuk menjalin koalisi. Namun di tengah perjalanan, mereka mengundurkan diri dan tidak sepakat dengan kebijakan-kebijakan Abiy yang dianggap tidak adil.

Melansir dari laman berita Al Jazeera, banyak pejabat Tigrayan yang dicopot dari posisi puncak, dituduh korupsi dan secara luas dikambing hitamkan atas kesengsaraan negara (7/11). Para tahanan politik yang dilepaskan membuat yang tadinya merasa ditindas oleh kaum Tigrayan, menekan balik karena pemberian kelonggaran yang dilakukan oleh Abiy Ahmed.

Etnis Tigrayan hanya berjumlah 6,1 persen dari seluruh total populasi. Akan tetapi rekam jejak mereka di berbagai bidang sangat mendominasi Ethiopia. Bahkan, wilayah Tigray yang beribukota Mekele, adalah salah satu wilayah yang paling produktif dan potensial dengan perkembangan ekonomi yang menjanjikan.

4. Menggulingkan Abiy Ahmed atau mendeklarasikan kemerdekaan

Ethiopia Tekan Oposisi dengan Membentuk Pemerintahan SementaraLogo TPLF (Tigrayan People's Liberation Front). (Instagram.com/family_of_tegaru)

Usai serangan udara yang dilancarkan oleh militer federal, Abiy Ahmed, akan terus melanjutkan operang militernya dan memperingatkan penduduk akan bahaya yang tak terduga. Associated Press menurunkan laporan bahwa serangan besar kemungkinan akan segera dilaksanakan oleh Abiy Ahmed karena menginginkan kemenangan yang cepat untuk menundukkan wilayah Tigray (7/11). Namun hal itu menurut para pengamat akan sulit dilakukan.

TPLF telah menegaskan diri akan memenangkan “perang yang dibenarkan” dan “seorang pejuang tidak bernegosiasi dengan musuh-musuhnya”. Selain itu, Debrestion Gebremichael, pemimpin TPLF mengirim surat kepada ketua Uni Afrika dan menuduh Abiy Ahmed memobilisasi pasukan Eritrea untuk mengepung Tigray sehingga dianggap berperilaku “inkonstitusional, diktator, dan pengkhianat”.

Dengan situasi yang akan semakin meruncing, maka sepertinya hanya ada dua pilihan yang akan dimiliki oleh TPLF. Jurnalis Associated Press, Cara Anna, menuliskan bahwa TPLF kemungkinan akan melaksanakan “perang habis-habisan” untuk menggulingkan Abiy Ahmed, atau melakukan pemisahan diri dan mendeklarasikan kemerdekaan (7/11).

Baca Juga: Ethiopia Diambang Perang Saudara, Saluran Internet di Tigray Diputus

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya