Comscore Tracker

Janji Taliban: Afghanistan Tidak Akan Tanam Opium Lagi

Jubir Taliban sedih melihat anak muda kecanduan

Kabul, IDN Times - Jatuhnya Kabul ke tangan pasukan Taliban secara cepat telah membuat banyak sekali perkembangan. Dari mulai kekacauan bandara internasional Hamid Karzai, ketergesaan evakuasi para diplomat Barat, sampai ketakutan para pendukung pemerintah sebelumnya, yang khawatir akan keselamatannya.

Namun, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid yang melakukan konferensi pers pertamanya di Kabul, menjanjikan beberapa kabar yang kedengarannya sementara ini menyejukkan.

Beberapa janji tersebut di antaranya adalah, memberikan amnesti untuk semua lawan Taliban, pasukan Taliban akan melindungi semua kedutaan asing, mendesak perempuan bergabung di pemerintahan dan juga yang tidak kalah penting, Afghanistan tidak akan menanam opium lagi.

Afghanistan selama dua dekade terakhir dituduh menjadi salah satu pemasok opium terbesar di dunia secara ilegal. Beberapa temuan penyelidikan menyebutkan, penjualan opium ilegal itu banyak yang digunakan untuk mendanai gerakan kelompok Taliban.

1. Hampir seperempat juta hektar lahan Afghanistan ditanami bunga popi, bahan baku opium

UNODC atau kantor PBB yang menangani obat-obatan dan kriminal menyebutkan bahwa sampai tahun 2020, total area yang ditanami bahan baku utama opium ada sekitar 224.000 hektar. 

Area yang ditanami bunga popi sebagai bahan baku opium dan heroin meningkat secara signifikan di semua provinsi penghasil bahan tersebut. Wilayah barat daya Afghanistan menyumbang 71 persen dari total produksi.

Dari data survei yang berhasil diukumpulkan oleh UNODC, potensi produksi obat-obatan candu tersebut mencapai 6.300 ton. Disinyalir, produksi opium tersebut banyak yang dananya digunakan untuk membantu perjuangan kelompok Taliban.

Cesar Gudes, kepala UNODC di Kabul sebelumnya mengatakan "Taliban telah mengandalkan perdagangan opium Afghanistan sebagai salah satu sumber pendapatan utama mereka. Lebih banyak produksi membawa obat-obatan dengan harga lebih murah dan lebih menarik, sehingga aksesibilitas lebih luas," jelasnya seperti dikutip Al Jazeera.

Pada tahun 2020, nilai jual opium di tingkat petani Afghanistan turun mencapai level terendah dengan perkirakan 55 dollar AS per kilogram atau setara Rp792.030. Angka tersebut menjadikan harga opium ilegal dari Afghanistan jadi salah satu termurah di dunia.

Jika potensi produksi opium total di Afghanistan adalah 6.300 ton seperti apa yang diperkirakan UNODC, dan harga jual terendah dari petani adalah 55 dollar AS, maka total potensi nilai yang dihasilkan adalah 346.500.000 dollar AS atau setara dengan Rp4,9 triliun.

Opium ilegal dari Afghanistan banyak diselundupkan ke seluruh dunia. UNODC bahkan mengklaim 80 persen total opium ilegal dunia dipasok dari negara ini.

2. Juru bicara Taliban sedih melihat anak-anak muda kecanduan

Baca Juga: Janji Taliban: Burqa Tidak Wajib dan Perempuan Boleh Kuliah

Kelompok Taliban sebenarnya telah berupaya untuk melarang penanaman opium pada tahun 2000. Hal itu dilakukan karena mereka mencari legitimasi internasional dalam gerakan kontra-narkotika.

Tetapi para ahli menjelaskan tekanan dan reaksi keras dari beberapa pihak yang diuntungkan telah mengubah pendirian kelompok tersebut. Taliban sendiri juga dicurigai mendapatkan banyak keuntungan dari dana yang ditarik dalam perdagangan opium ilegal untuk membiayai perjuangan melawan Amerika Serikat dan Sekutu yang menggulingkan kekuasaan mereka.

Menurut pendapat PBB dan Washington, Taliban terlibat dalam semua aspek, mulai dari penanaman opium, ekstraksi opium, dan perdagangan hingga menuntut "pajak" dari penggarap dan laboratorium obat-obatan hingga membebankan biaya penyelundup untuk pengiriman menuju Afrika, Eropa, Kanada, Rusia, Timur Tengah, dan bagian lain di Asia.

Ironisnya, candu itu juga beredar di banyak kalangan anak muda Afghanistan. Kini, ketika Taliban telah berhasil menaklukkan sebagian besar Afghanistan dan menundukkan ibukota Kabul, mereka berniat untuk meniadakan penanaman opium di wilayahnya.

Melansir The Independent, Zabihullah Mujahid yang menjadi juru bicara Taliban dalam konferensi persnya mengatakan bahwa Afghanistan "tidak akan ada produksi narkoba, tidak ada penyelundupan narkoba. Kami melihat hari ini bahwa anak-anak muda kami menggunakan narkoba; ini membuat saya sangat, sangat sedih karena anak muda kita kecanduan,” katanya.

Mujahid juga menjanjikan bahwa Afghanistan tidak akan jadi negara penanam opium, karena itu mereka membutuhkan bantuan komunitas internasional termasuk persoalan dana pembangunan infrastruktur ekonomi negara.

3. Miliaran dolar AS untuk memberantas opium di Afghanistan tidak berhasil

Janji Taliban: Afghanistan Tidak Akan Tanam Opium LagiSeorang anak kecil di tengah ladang bunga popi, bahan baku opium, di Kandahar, Afghanistan. (Twitter.com/Everyday Afghanistan)

Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Sekutu tentang budidaya bunga popi sebagai bahan baku produksi opium, heroin dan morfin di Afghanistan? Mereka memeranginya karena sejak awal sudah curiga itu bagian dari pendanaan Taliban.

Sejak tahun 2002 hingga 2017, mengutip Reuters, sebanyak 8,6 miliar dollar AS atau setara Rp123,8 trilun digelontorkan untuk memerangi produksi opium di Afghanistan. Upaya itu "tidak terlalu berhasil," jelas pensiunan Jenderal Angkatan Darat AS Joseph Votel, yang memimpin Komando Pusat AS dari 2016-2019.

Taliban kemungkinan memperoleh lebih dari 400 juta dollar AS atau Rp5,7 triliun antara 2018 dan 2019 dari perdagangan narkoba. Laporan U.S. Special Inspector General for Afghanistan (SIGAR) pada Mei 2021, Taliban diperkirakan memperoleh hingga 60 persen dari pendapatan tahunan.

Dr. David Mansfield yang melakukan studi lapangan membantah data tersebut. Menurutnya, Taliban hanya mendapatkan pemasukan sekitar 40 juta dollar AS atau Rp575,8 miliar per tahun terutama dari pungutan atas produksi opium, laboratorium heroin, dan pengiriman obat-obatan.

Kegagalan Amerika Serikat yang telah menggelontorkan triliunan dana untuk menghabisi bisnis opium di Afghanistan, menurut Bill Chappell dari NPR adalah kontradiksi kebijakan AS sendiri.

Pada hari Selasa (17/8), menurut Bill Chappel salah satu kontradiksi pasukan AS di Afghanistan adalah berupaya mengurangi budidaya opium, tetapi juga untuk menghindari merugikan petani dan buruh yang bergantung padanya.

Baca Juga: Janji Taliban: Burqa Tidak Wajib dan Perempuan Boleh Kuliah

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya