Comscore Tracker

Kapal Pengangkut Migran Ilegal Tenggelam di Tunisia, 75 Orang Hilang

Sedikitnya 24 orang berhasil diselamatkan

Jakarta, IDN Times - Organisasai Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Rabu (25/5/22) melaporkan soal kapal migran tenggelam di lepas pantai Sfax, Tunisia. Kapal itu berlayar dari Libya.

Otoritas Tunisia mengatakan, telah menemukan satu mayat dan masih melakukan pencarian terhadap 75 orang lainnya. Kapal tersebut diperkirakan membawa sekitar 100 orang migran yang berusaha mencapai Eropa.

1. Sebanyak 24 orang berhasil diselamatkan

Kapal Pengangkut Migran Ilegal Tenggelam di Tunisia, 75 Orang HilangIlustrasi (Unsplash.com/Jametlene Reskp)

IOM Tunisia melaporkan bahwa sebuah kapal membawa migran telah berlayar dari pantai Zouwara (Zuwara) di Libya. Kapal itu diketahui tenggelam di lepas pantai Sfax, Tunisia.

Dilansir Reuters, pihak berwenang mengatakan bahwa 75 orang dinyatakan hilang. Salah satu di antaranya ditemukan tewas oleh petugas penjaga lepas pantai. Pejabat keamanan Tunisia menjelaskan operasi pencarian terus berlangsung.

Sejauh ini, sudah ada 24 orang yang telah berhasil diselamatkan oleh petugas, kata Houcem Eddine Jebabli, juru bicara Garda Nasional Tunisia.

Baca Juga: Kapal Tanker Bermuatan 750 Ton Tenggelam di Perairan Tunisia

2. Migran berasal dari negara-negara Afrika dan Asia

Kapal pembawa migran yang sesak itu mencoba memasuki Eropa secara ilegal. Jebabli juga menjelaskan bahwa para penumpang yang tertimpa musibah itu berasal dari negara-negara Afrika dan Asia, dikutip dari Africa News.

Kapal itu diketahui berangkat dari pantai Zuwara di Libya tanggal 22-23 Mei pada malam hari. Kapal berupa perahu karet diperkirakan membawa 100 orang.

Libya telah lama menjadi titik awal perjalanan para migran yang ingin menuju Eropa. Mereka berusaha mencapai pulau-pulau di Italia yang jaraknya sekitar 300 kilometer dari pantai Libya dengan menyeberangi Laut Mediterania yang berbahaya.

3. Lebih dari 500 orang tewas saat berusaha menyeberang ke Eropa pada 2022

Laut Mediterania yang menghubungkan Libya ke Italia atau Malta telah menjadi salah satu rute migrasi favorit. Tapi rute tersebut juga menjadi rute paling berbahaya di dunia. Ribuan orang tewas saat berusaha menyeberangi jalur itu untuk menuju Eropa.

Dilansir Sky News, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 1.500 orang tewas pada tahun 2021. Pada 2022, sejauh ini korban meninggal telah lebih dari 500 orang.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menjelaskan, terjadi peningkatan migran di Italia. Pada 2021, lebih dari 123 ribu migran menyeberangi Laut Mediterania. Dibanding setahun sebelumnya, angka itu jauh lebih tinggi karena pada tahun tersebut, migran yang sampai ke Italia sekitar 95 ribu orang.

Baca Juga: Ogah Tampung di Hotel, Inggris Akan Kirim Pencari Suaka ke Rwanda

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya