Comscore Tracker

Komentar Korea Utara Tentang Ketegangan AS-Prancis

AS dianggap akan memicu perlombaan nuklir di Asia Pasifik

Jakarta, IDN Times - Korea Utara (Korut) menanggapi ketegangan yang terjadi antara Prancis, Amerika Serikat (AS) dan Australia. Menurut Kementrian Luar Negeri Korut, kesepakatan kapal selam Australia dengan AS yang memicu ketegangan dengan Prancis akan memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan Asia Pasifik.

Australia sebelumnya telah menjalin kesepakatan untuk membeli belasan kapal selam bertenaga diesel-listrik dari Prancis. Namun saat ini, Australia menyingkirkan kesepakatan tersebut dan menoleh ke AS karena menginginkan kapal selam bertenaga nuklir.

Menurut Prancis, Australia telah "menikam dari belakang." Prancis marah atas kesepakatan Australia-AS sehingga menarik duta besarnya di dua negara itu. Ini adalah pertama kalinya hubungan antara Prancis dengan AS mencapai titik ketegangan yang parah.

1. Kesepakatan kapal selam AS-Australia picu perlombaan senjata nuklir di Asia Pasifik

Komentar Korea Utara Tentang Ketegangan AS-Prancisilustrasi kapal selam (Pixabay.com/12019)

Pakta keamanan tiga arah atau Pakta Aukus yang melibatkan AS, Australia dan Inggris yang diumumkan pekan lalu, dianggap sebagai tamparan keras ke wajah Prancis. Pakta tersebut fokus pada kemitraan strategis, di mana Australia akan mendapatkan teknologi kapal selam nuklir AS.

Tindakan Australia itu dianggap "berkhianat" oleh Prancis karena sebelumnya Australia telah sepakat bermitra untuk sekitar 12 kapal selam bertenaga diesel-listrik buatannya.

Australia membela diri bahwa kawasan Indo-Pasifik semakin tidak stabil dan mereka membutuhkan teknologi kapal selam yang lebih canggih, yakni kapal selam bertenaga nuklir.

Tanpa menyebutkan nama negara yang menimbulkan ancaman, Canberra mengabaikan kekhawatiran Paris dan lebih memilih untuk menoleh ke Washington.

Korut sebagai salah satu kekuatan di Asia Pasifik menanggapi kesepakatan kapal selam AS-Australia yang mengakibatkan kemarahan Prancis itu.

Pada hari Senin, 20 September 2021, pejabat Kementrian Luar Negeri Korut mengatakan "ini adalah tindakan yang sangat tidak diinginkan dan berbahaya yang akan mengganggu keseimbangan strategis di kawasan Asia-Pasifik dan memicu rantai perlombaan senjata nuklir," katanya dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP.

2. Korut mengafirmasi langkah China mengecam tindakan AS yang dianggap menghancurkan stabilitas kawasan

Komentar Korea Utara Tentang Ketegangan AS-PrancisPemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. (twitter.com/Joe Blevins)

Baca Juga: Selesaikan Misi 90 Hari, 3 Astronot China Kembali ke Bumi

Kemitraan strategis tiga negara, AS-Australia-Inggris, adalah manuver baru yang diproyeksikan dibuat untuk membendung kekuatan China yang terus tumbuh. China seakan dianggap seperti sebuah ancaman baru di kawasan Asia Pasifik.

Namun kesepakatan yang dibuat oleh tiga aliansi tersebut dikecam oleh China. Beijing menilai tindakan itu akan menimbulkan ketidakstabilan di kawasan.

Dilansir dari France24, Korut juga mengafirmasi apa yang dilakukan China dengan mengecam tindakan AS dengan membentuk Pakta Aukus. "Sangat wajar jika negara-negara tetangga termasuk China mengutuk tindakan ini sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab yang menghancurkan perdamaian dan stabilitas kawasan."

Menurut pejabat Korut itu, AS adalah pelaku utama yang "menggulingkan sistem non-proliferasi nuklir internasional." Non-proliferasi nuklir sendiri adalah suatu perjanjian yang ditanda tangani pada 1 Juli 1968 yang membatasi kepemilikan senjata nuklir.

Korut juga menegaskan akan mengambil tindakan balasan jika kesepakatan aliansi tiga negara itu menimbulkan ancaman bagi pertahanan dan keamanan dalam negerinya.

3. Koresponden BBC sarankan Prancis menerima kenyataan

Dalam kemelut Pakta Aukus yang menimbulkan kemarahan bagi Prancis, salah satu koresponden Paris untuk media BBC yang bernama Hugh Schofield menyarankan Prancis untuk menerima kenyataan keputusan Australia.

Menurut analisa Hugh Schofield, ada tiga kebenaran pahit yang mungkin sulit diterima tetapi itu adalah kenyataan pasti.

Menurutnya, pertama, "tidak ada sentimen dalam geostrategi." Dia menjelaskan bahwa Australia berhitung telah meremehkan ancaman China dan karenanya perlu meningkatkan tingkat pencegahan mereka dengan menggandeng negara adidaya AS.

Kedua, fakta menyakitkan lagi adalah AS sudah tidak memiliki minat terhadap aliansi raksasa NATO yang menurut Schofield aliansi tersebut "sudah usang." Prancis telah mengikatkan diri pada aliansi yang dipimpin AS karena hal itu tampaknya bermoral dan bijaksana.

Dengan bergabung bersama NATO, Prancis telah banyak membantu misi AS-Inggris seperti kepentingan perang di Afghanistan dan kerja sama militer. Schofield mengutip seorang analis senior urusan luar negeri Prancis yang bernama Renaud Girard bahwa dengan bergabung dengan NATO, Prancis "tidak ada imbalan sama sekali" dalam kerja sama itu. Justru malah "diperlakukan seperti anjing."

Ketiga, Schofield berhitung bahwa setiap empat tahun China membangun kapal sebanyak yang ada di seluruh armada Prancis. Industri teknologi militer Prancis dengan itu, kalah jauh dibanding dengan kecepatan bangkitnya China. Jadi Prancis harus menerima kenyataan bahwa Australia lebih suka dekat dengan negara adidaya, bukan kekuatan mini.

Baca Juga: Korea Selatan, Jepang, dan AS Akan Kumpul Bahas Nuklir Korea Utara

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya