Comscore Tracker

Kronologi Gelombang Protes yang Picu Lengsernya PM Sri Lanka

Anggota parlemen tewas dalam bentrokan demonstran

Jakarta, IDN Times - Mahinda Rajapaksa yang menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Sri Lanka, memutuskan untuk mengundurkan diri. Langkah itu dilakukan saat situasi krisis ekonomi di negara itu semakin memburuk.

Ketika krisis dan demonstrasi semakin memburuk, PM Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri dari jabatannya. Dikutip dari Al Jazeera, kabar itu diketahui setelah kantor perdana menteri mengatakan Rajapaksa berhenti untuk membantu membentuk pemerintahan persatuan sementara.

Alasan pengunduran diri itu juga digemakan oleh juru bicara Rajapaksa, Rohan Weliwita. Weliwita mengatakan Rajapaksa mengirimkan pengunduran diri untuk membuka jalan bagi pemerintah persatuan baru yang disarankan oleh presiden untuk memerangi krisis ekonomi.

Sri Lanka telah menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak negara itu merdeka. Rakyat melakukan demonstrasi antipemerintah dan menuntut keluarga Rajapaksa meninggalkan jabatan. Tuntutan utama mereka adalah mendesak Presiden Gotabaya Rajapaksa dan keluarganya untuk meninggalkan jabatan karena dinilai salah dalam mengurus negara.

Berikut rangkaian demonstrasi yang mengantarkan lengsernya Mahinda Rajapaksa dari kepemimpinan kabinet.

Baca Juga: PM Sri Lanka Mundur di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik

1. Demonstrasi berminggu-minggu

Kronologi Gelombang Protes yang Picu Lengsernya PM Sri LankaMahinda Rajapaksa, PM Sri Lanka yang mengundurkan diri (Twitter.com/Mahinda Rajapaksa)

Selama berminggu-minggu, Sri Lanka telah diguncang demonstrasi besar antipemerintah. Mereka menuntut keluarga Rajapaksa untuk mundur dari jabatan pemerintahan karena dianggap salah dalam mengurus negara.

PM Sri Lanka yang mengundurkan diri adalah kakak Presiden Sri Lanka. Belum diketahui apakah Presiden Gotabaya Rajapaksa, adik PM Sri Lanka, menerima pengunduran diri tersebut.

Pada Senin (9/5/22) demonstran propemerintah yang mendukung PM Sri Lanka terlibat bentrokan dengan demonstran antipemerintah. Dalam bentrokan itu, lima orang tewas. Salah satu korban adalah anggota parlemen. Jam pun malam diberlakukan untuk mengendalikan situasi.

Baca Juga: Sri Lanka Diguncang Protes, Presiden Umumkan Darurat Nasional Lagi! 

2. Anggota parlemen tewas dalam bentrokan

Sebelum pengunduran diri PM Sri Lanka, pendukungnya disebut telah melancarkan serangan ke demonstran damai yang berkemah di depan kantor pemerintah di kota Nittambuwa dekat Kolombo.

Dilansir Reuters, pendukung PM Sri Lanka disebut membawa tongkat besi dan membakar tenda para pengunjuk rasa damai. Seorang anggota parlemen yang berkuasa, Amarakeerthi Athukorala, dikabarkan tewas dalam bentrokan tersebut. Puluhan lainnya terluka.

Insiden itu memicu langkah balasan dengan demonstran antipemerintah melancarkan serangan terhadap rumah pejabat di seluruh negeri. Rumah leluhur keluarga Rajapaksa di kota Hambantota di Sri Lanka selatan dikabarkan terbakar. Beberapa rumah dan kantor anggota parlemen juga dikabarkan terbakar.

Petugas polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan bentrokan. Jam malam kemudian diberlakukan untuk mengendalikan situasi. Tapi ribuan rakyat yang masih menuntut agar Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur, menentang aturan jam malam tersebut sambil berteriak "Gota (baya) pulang."

Baca Juga: Massa Serbu Rumah Dinas, Eks PM Sri Lanka Dievakuasi 

3. Lima orang tewas dan lainnya luka-luka dalam bentrokan

https://www.youtube.com/embed/xq3TN9xDkpU

Bentrokan pada Senin menyebabkan setidaknya lima orang tewas, menurut BBC. Seorang anggota parlemen yang tewas diserang pengunjuk rasa yang mengepung mobilnya. Anggota parlemen itu melepaskan tembakan dan menewaskan satu orang.

Polisi menjelaskan anggota parlemen tersebut kemudian ditemukan tewas, termasuk juga pengawalnya. Anggota parlemen lain di kota selatan Weeraketiya juga menembaki pengunjuk rasa di rumahnya. Akibatnya, dua orang tewas dan lima orang lainnya terluka.

Duta Besar AS untuk Sri Lanka, dikutip dari Al Jazeera, mengutuk "kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai hari ini, dan meminta pemerintah untuk melakukan penyelidikan penuh, termasuk penangkapan dan penuntutan siapa pun yang menghasut kekerasan."

Gejolak politik di Sri Lanka mulai mengguncang bulan lalu. Protes besar terjadi ketika rakyat negara tersebut menghadapi kenaikan harga barang-barang pokok serta mengalami pemadaman listrik karena negara kekurangan bahan bakar.

Orang-orang marah karena biaya hidup menjadi tidak terjangkau. Cadangan mata uang asing Sri Lanka hampir habis, dan tidak mampu lagi membeli barang-barang penting termasuk makanan, obat-obatan dan bahan bakar.

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya