Comscore Tracker

Mengenal Turkmenistan, Negara yang Pernah Jadi Ibu Kota Islam

Turkmenistan juga punya 'Gerbang Neraka'

Jakarta, IDN Times - Di sepanjang Jalur Sutra, yang menghubungkan antara Asia Timur dengan Eropa, pernah berdiri lima kota besar yang jadi tempat persinggahan para pedagang dan musafir.

Lima kota itu adalah Chang’an di China, Samarkand di Uzbekistan, Mosul di Irak, Aleppo di Suriah, dan Merv di Turkmenistan.

Merv pernah menjadi sebuah kota besar yang dihuni oleh berbagai etnis penduduk ketika Dinasti Abbasiyah memusatkan ibu kotanya di tempat ini. Kemakmuran Merv masuk dalam periode emas Islam, yakni dari Abad ke-8 sampai abad ke-13.

Kini, Merv adalah bagian dari Turkmenistan. Merv lama terletak di dekat kota Mary saat ini, yang berada di bagian selatan negara tersebut.

Turkmenistan sendiri adalah negara pecahan Uni Soviet. Pemerintahan pasca-Soviet di Turkmenistan masih terpengaruh dengan rezim komunisme, dengan penguasa yang memiliki sifat kediktatoran.

1. Sekilas masa lalu Turkmenistan

Mengenal Turkmenistan, Negara yang Pernah Jadi Ibu Kota IslamBendera Turkmenistan (Pixabay.com/OpenClipart-Vectors)

Turkmenistan adalah negara yang terkurung daratan (landlocked). Satu-satunya perairan luas yang berbatasan dengan negara ini adalah Laut Kaspia. Sebagian wilayah Turkmenistan adalah gurun.

Secara umum, orang-orang Turkmenistan seperti orang Asia Tengah lainnya, yakni penggembala nomaden. Perubahan terjadi ketika kekuatan-kekuatan luar datang ke wilayah itu.

Turkmenistan pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Persia Kuno, Achaemenid, tapi pada abad ke-4 sebelum Masehi, Alexander Agung menaklukkan wilayah itu. Di bawah kekuasaan Alexander, dia mendirikan sebuah kota di sisi Sungai Murgab yang diberi nama Alexandria. Kota ini nantinya berubah menjadi Merv. 

Runtuhnya kekuasaan Alexander Agung dan bangkitnya Dinasti Sasaniyah dari Persia kemudian menguasai Turkmenistan. Kekuasaan mereka kocar-kacir diserang oleh orang-orang dari suku Turki pada abad ke-5.

Orang-orang suku Mongol yang nomaden pernah menggeruduk Turkmenistan pada abad ke-10, sebelum kemudian dikuasai oleh Islam dan mulai dipengaruhi oleh budaya Islam sampai saat ini.

Ketika Islam berkuasa di Turkmenistan, pergantian kekuatan turut membuat penguasa di Turkmenistan berubah. Pada abad ke-11, Turki Seljuk mengendalikan wilayah ini dan menjadikan Merv sebagai ibu kota. Ketika Jengis Khan menyapu banyak wilayah pada abad ke-13, Turkmenistan termasuk yang dihancurkan lalu dikuasai.

Baca Juga: Turkmenistan Akan Potong Subsidi Pangan di Negaranya

2. Merv, kota Turkmenistan yang membesarkan Khalifah al-Ma'mun

Mengenal Turkmenistan, Negara yang Pernah Jadi Ibu Kota Islamilustrasi (Pixabay.com/Falco)

Merv menjadi bagian dominan dalam provinsi Khorasan ketika Dinasti Abbasiah berkuasa. Saat Harun ar-Rasyid memimpin Dinasti Abbasiyah dan membangun Baghdad menjadi kota paling metropolis di dunia saat itu, dia memiliki dua putra yaitu al-Amin dan al-Ma'mun.

Al-Ma'mun pada dasarnya lebih tua dari pada al-Amin. Tapi, Harun ar-Rasyid saat itu mewariskan kekuasaannya kepada al-Amin. Ini karena al-Ma'mun berasal dari istri Persia, bukan keturunan Arab.

Dua pewaris takhta Dinasti Abbasiyah itu sama-sama memperoleh pendidikan yang sangat baik. Namun, al-Amin dididik di Baghdad, sedangkan al-Ma'mun dididik di Merv, ibu kota provinsi Khorasan. Dalam perjalanan tumbuh kembangnya, al-Ma'mun sebenarnya terbukti jauh lebih cerdas dari pada al-Amin.

Wafatnya ar-Rasyid membuat perang saudara pecah antara al-Amin dan al-Ma'mun. Empat tahun bertempur, al-Ma'mun membawa pasukannya dari Khorasan untuk menyerang Baghdad. Pada 813 Masehi, Baghdad takluk setelah dikepung pasukan al-Ma'mun.

Dinasti Abbasiyah, kekuatan Islam yang saat itu sangat digdaya, ibu kotanya kemudian dipindah ke Merv, kota yang telah membesarkan al-Ma'mun.

Tapi lima tahun setelah itu, Al-Ma'mun memindahkan ibu kota kembali ke Baghdad, kota yang telah dibangun oleh para leluhurnya. Pemindahan itu karena terlalu banyak intrik politik dalam kerajaan yang membawa malapetaka.

Khalifah al-Ma'mun yang memimpin Dinasti Abbasiyah kemudian menjadi lokomotif pembawa perubahan bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam.

Dia mengendalikan langsung para menterinya dan mendirikan Bait al-Hikmah di Baghdad, merekrut banyak intelektual entah itu Islam atau non-muslim. Bait al-Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan adalah madrasah sekaligus perpustakaan raksasa yang melahirkan para ilmuwan besar dalam dunia Islam.

Itu adalah proyek paling ambisius Dinasti Abbasiyah, ketika banyak manuskrip Yunani seperti milik Aristoteles dan Plato diterjemahkan, serta observatorium penelitian luar angkasa banyak yang dibangun. Bahkan upaya penerjemahan hieroglif juga dilakukan pada masa ini.

Di bawah kekuasaan Khalifah al-Ma'mun pula praktik toleransi muslim terhadap Kristen dan Yahudi sangat berkembang pesat. Tak sedikit ilmuwan yang membaktikan diri kepada Khalifah al-Ma'mun adalah non-muslim.

3. Dibantai Tsar, diabaikan Uni Soviet

Mengenal Turkmenistan, Negara yang Pernah Jadi Ibu Kota Islamilustrasi (Pixabay.com/picknicker54)

Orang-orang Turkmenistan sebenarnya memiliki jiwa ksatria. Ketika Kekaisaran Rusia memperluas wilayah kekuasaan di Asia Tengah, dengan menguasai Bukhara dan Tashkent, mereka kesulitan ketika ingin menguasai Turkmenistan.

Pasukan Tsar Alexander II baru bisa menaklukkan Ashgabat, ibu kota Turkmenistan, pada tahun 1888 setelah pertempuran berdarah. Sekitar 14 ribu pejuang Turkmenistan dibantai oleh pasukan Kekaisaran Rusia. Upaya penaklukan pasukan Tsar itu terbilang lebih sulit dibandingkan dengan penaklukan di wilayah lain, seperti misalnya di Kazakh atau di Tajik.

Di bawah kekaisaran Rusia, gejolak politik sering terjadi. Baru setelah kekaisaran runtuh dan Uni Soviet bangkit, Tentara Merah pada tahun 1924 menguasai Ashgabat dan mendirikan Republik Sosialis Soviet Turkmenistan.

Di bawah kekuasaan Soviet tersebut, Turkmenistan tidak seperti wilayah lain yaitu Uzbekistan, Kazakhstan atau lainnya. Soviet dapat dibilang mengabaikan wilayah ini.

Investasi industri dan pembangunan infrastruktur seperti pendidikan, terbilang minim di wilayah Turkmenistan jika dibandingkan dengan wilayah Soviet lainnya. Karena itu, perwakilan partai komunis dari Turkmenistan di Moskow juga dapat dibilang sedikit.

Baca Juga: 5 Penyebab Berakhirnya Perang Dingin Amerika Serikat versus Uni Soviet

4. 'Gerbang Neraka' dan keberlimpahan gas alam

https://www.youtube.com/embed/JkWq1xJqUQ4

Ketika Soviet menguasai Turkmenistan, pada 1971 mereka melakukan pengeboran di Gurun Karakum. Tapi, secara tidak sengaja menabrak gas alam bawah tanah yang besar, dan menyebabkan tanah runtuh bersama peralatannya.

Asap beracun dan gas mulai bocor. Soviet membakar lubang itu dengan pertimbangan bahwa gas akan habis terbakar dalam beberapa minggu. Tapi puluhan tahun kemudian api itu masih menyala. Kini, lubang yang terbakar itu terkenal sebagai "Gerbang Neraka."

Setelah Soviet runtuh dan Turkmenistan meraih kemerdekaan, negara itu dipimpin oleh Saparmurat Niyazov. Dia membangun kultus kepribadian, berkuasa seperti diktator komunis. Bahkan, ia menjadi presiden seumur hidup Turkmenistan.

Saparmurat Niyazov meninggal mendadak pada 2006 dan digantikan Gurbanguly Berdymukhamedov, mantan menteri kesehatan dan dokter gigi. Di bawah presiden baru, model pemerintahan tidak jauh beda dari sebelumnya.

Menurut The Guardian, Turkmenistan adalah salah satu negara paling korup dan represif di dunia. Selain menghasilkan kapas, negara tersebut memiliki keberlimpahan kekayaan gas alam.

Ekspor gas Turkmenistan mitra utamanya adalah Rusia. Tapi, sengketa harga membuat Turkmenistan menoleh ke China, dengan pembangunan pipa yang menghubungkan kedua negara pada 2009.

Sampai pada 2013, Turkmenistan adalah pemasok gas alam asing terbesar di China. Negara itu juga berminat untuk ekspor gas ke Uni Eropa dan India, Pakistan serta Afghanistan. Tapi rencana itu sampai saat ini belum terwujud.

5. Patung presiden menghadap matahari

Saparmurat Niyazov, pemimpin seumur hidup Turkmenistan, memiliki beberapa keanehan selama memerintah negaranya. Selain sebagai seorang diktator, namanya telah menjadi nama bagi banyak jalan, sekolah, kota bahkan meteorit.

Menurut BBC, Niyazov pada 2002 juga berniat mengganti nama 12 bulan dalam setahun dengan namanya sendiri, dan beberapa nama penyair dan penulis Turkmenistan yang terkenal. Nama bulan April, diganti dengan nama ibunya.

Kultus kepribadian yang dibangun Niyazov tak berhenti sampai di situ. Dia juga membangun patung dirinya berlapis emas setinggi 12 meter berdiri di atas lengkungan setinggi 75 meter di ibu kota Ashgabat.

Meski banyak rakyatnya yang hidup miskin, patung tersebut berdiri menjulang dengan kemegahan. Dan uniknya, patung itu bergerak sepanjang hari, agar wajah Niyazov selalu menghadap dengan gerak matahari. Patung itu disebut oleh Niyazov sebagai "Arch of Neutrality."

Ketika Berdymukhammedov berkuasa, patung emas itu sempat hilang dari tempatnya pada tahun 2010. Tapi pada tahun 2011, patung kembali muncul di tempat berbeda, tapi dengan dasar yang lebih tinggi yakni 95 meter.

Baca Juga: Hormati Ras Anjing Gembala, Turkmenistan Buat Hari Libur Nasional

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Novaya

Berita Terkini Lainnya