Comscore Tracker

Perubahan Iklim: Selandia Baru Alami Musim Dingin Terpanas

Konsentrasi karbon dioksida jadi salah satu sebab

Jakarta, IDN Times - Musim dingin di bagian selatan belahan bumi akan segera selesai, ini termasuk di Selandia Baru. Tapi para ilmuwan mengatakan bahwa musim dingin kali ini adalah yang paling panas dalam sepanjang sejarah.

Hal tersebut dipicu oleh perubahan iklim yang semakin nyata. Pemanasan global termasuk di antara sebab mengapa musim dingin menjadi lebih hangat dari biasanya. Selain itu, angin yang lebih hangat yang ditiupkan dari laut sebelah utara negara yang yang dipimpin oleh Jacinda Ardern tersebut juga mempengaruhi.

1. Peningkatan konsentrasi karbon dioksida jadi salah satu sebab

Dalam tiga bulan terakhir hingga Agustus tahun 2021, Selandia Baru mengalami suhu rata-rata 9,8 derajat celsius. Itu adalah suhu rata-rata musim dingin paling panas di negara tersebut. 

Dilansir dari The Guardian, New Zealand’s National Institute of Water and Atmospheric Research yang meneliti peningkatan suhu itu, menjelaskan bahwa angka tersebut 1,3 derajat celsius di atas rata-rata jangka panjang.

Dibandingkan dengan suhu tahun 2020 yang lalu, angkat tersebut naik 0,2 derajat celsius. Padahal tahun lalu itu adalah rekor terpanas. Jadi ketika saat ini suhu musim dingin kembali meningkat lebih panas, itu berarti menumbangkan rekor tahun sebelumnya.

Tren pemanasan itu, oleh Nava Fedaeff, seorang ahli meteorologi, dapat dilacak karena peningkatan konsentrasi karbon dioksida di Selandia Baru yang terus bertambah selama 50 tahun terakhir.

2. Peternakan dan pertanian di Selandia Baru akan terdampak

Baca Juga: Serangan Teror di Supermarket Selandia Baru, 6 Terluka

Akibat dari memanasnya musim dingin di Selandia Baru, maka tingkat hujan salju di daerah pucak pegunungan menjadi lebih rendah. Itu karena digantikan oleh hujan. Hal ini dapat berakibat debet air sungai menjadi lebih rendah, yang biasa disuplai oleh salju yang mencair.

Jika sudah demikian, menurut Associated Press, maka volume air yang berkurang dari irigasi di sektor pertanian juga akan berdampak pada industri tersebut. Ilmuwan dari Victoria University di Wellington yang bernama James Renwick menjelaskan, dalam jangka pendek, para peternak kawanan sapi dan domba mungkin akan mendapatkan manfaat.

Ini karena musim tanam rumput menjadi lebih lama dari biasanya. Namun Renwick juga menjelaskan, perubahan tersebut bakal memberi tekanan pada ekosistem alami. Seiring waktu, lebih banyak spesies akan menghadapi kepunahan.

Renwick memberikan komentar, "jika kita tidak segera mengatasi pemanasan, akan ada kesedihan bagi sebagian besar dunia," katanya sambil mengingatkan untuk memperlambat laju emisi gas rumah kaca.

3. Upaya untuk ikut bergabung dalam gerakan netral karbon

Selain perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global dari emisi gas rumah kaca, sebab lainnya adalah lautan mengalami siklus El Nino dan La Nina. Itu telah mempengaruhi cuaca di Australia, melintasi Pasifik hingga sampai ke Amerika Selatan.

Menurut media Selandi Baru, Stuff, selama dua tahun terakhir, La Nina telah membawa aliran angin utara dan suhu laut yang lebih panas ke Selandia Baru.

Ilmuwan seperti Renwick memberikan kritik kepada pemerintahan Selandia Baru. Menurutnya, negara itu telah berbicara banyak mengenai perubahan iklim tetapi sejauh ini tidak berbuat banyak untuk mengekangnya. 

Ada sumber daya alam yang bisa dioptimalkan seperti angin, matahari dan air yang dapat menyediakan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan. "Selandia Baru bisa menjadi pemimpin dunia dalam energi hijau dan ekonomi hijau."

Pada tahun 2020 lalu, Selandia Baru telah mendeklarasikan darurat iklim. Dilansir dari Reuters, Jacinda Ardern saat itu mengatakan "deklarasi ini merupakan pengakuan terhadap generasi penerus. Pengakuan atas beban yang akan mereka pikul jika kita tidak mendapatkan hak ini dan tidak mengambil tindakan sekarang."

Ardern membawa Selandia Baru untuk bergabung dengan negara maju lain seperti Jepang, Kanada, Prancis atau Inggris, dengan menjanjikan bahwa negaranya akan netral karbon pada tahun 2050 mendatang.

Baca Juga: Selandia Baru akan Buka Jalur Wisatawan yang Divaksinasi

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya