Comscore Tracker

Protes Krisis Air di Iran, Satu Orang Tewas

Ayatullah Ali Khameini menjadi sasaran kemarahan publik  

Teheran, IDN Times - Bagian barat daya Iran, tepatnya di daerah Khuzestan, telah terjadi krisis air yang parah. Krisis air tersebut menyebabkan pasokan listrik berkurang drastis, yang membuat pemerintah harus membuat keputusan untuk melakukan pemadaman listrik bergilir.

Namun sejak awal Juli kali ini, demonstrasi mulai terjadi dan penduduk melakukan protes atas pemadaman listrik tersebut. Selain itu, kekurangan air yang berdampak pada aliran listrik, pertanian dan peternakan juga terdampak parah.

Dalam dua hari terakhir, warga Khuzestan melakukan protes atas krisis air dan pada hari Jumat (16/7) terjadi sebuah insiden di mana seorang warga Iran tewas tertembak. Kelompok oposisi menuduh pasukan keamanan yang melepaskan tembakan sedangkan polisi menuduh para perusuhlah yang telah melepaskan tembakan dan mengenai korban.

1. Pemerintah Iran minta maaf atas pemadaman listrik

Iran mengalami kekeringan terburuk dalam 50 tahun terakhir. Kekeringan kali ini berdampak buruk terhadap beberapa sektor, terutama pertanian, peternakan dan pasokan listrik. Pemerintah telah melakukan pemadaman listrik secara bergilir di kota-kota Iran dan memicu protes sejak awal bulan Juli.

Melansir laman BBC, pemerintah Iran meminta maaf atas tindakan pemadaman listrik bergilir tersebut dan menjelaskan bahwa pasokan air yang berkurang dan permintaan listrik yang meningkat telah membuat mereka kewalahan.

Iran jarang mengalami kekurangan pasokan listrik pada tahun-tahun sebelumnya ketika musim panas terjadi. Tapi kali ini berbeda. Krisis iklim dan angin kering dari Arab Saudi dan Irak telah menciptakan panas yang berlebih di Iran. Selain itu, di provinsi Khuzestan yang dahulu terkenal subur, kini lambat-laut berubah mulai menjadi kering dan panas.

Di Khuzestan, demonstrasi besar digelar pada hari Jumat atas krisis air yang melanda. Daerah itu adalah salah satu daerah di mana masyarakat Islam Sunni terkonsentrasi sedangkan mereka merasa jadi masyarakat marginal ditengah dominasi Islam Syiah yang memerintah Iran.

2. Perusuh dalam demonstrasi ditangkap karena dicurigai membunuh warga

Baca Juga: Warga Burkina Faso Gelar Demonstrasi Atas Aksi Pembantaian

Demonstrasi atas krisis air yang digelar di Khuzestan adalah ungkapan kemarahan dan kekecewaan penduduk karena krisis air berdampak pada rumah tangga, pertanian, peternakan dan pemadaman listrik. Namun insiden terjadi pada hari Jumat ketika protes berlangsung, yakni seorang lelaki berusia 30 tahun tewas tertembak.

Melansir laman Al Jazeera, gubernur daerah Khuzestan mengatakan pada hari Sabtu (17/7), bahwa kematian itu disebabkan oleh "para oportunis dan perusuh."

“Saat demonstrasi, perusuh menembak ke udara untuk memprovokasi masyarakat, tapi sayangnya salah satu peluru mengenai seseorang yang hadir di tempat kejadian dan membunuhnya,” katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa mereka yang melepaskan tembakan telah diidentifikasi. Beberapa orang telah ditangkap pada Jumat malam, dengan perburuan diluncurkan untuk yang lainnya yang dicurigai oleh pihak berwenang.

3. Ayatullah Ali Khameini menjadi sasaran kemarahan publik

Iran telah mengalami embargo dan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Kini ketika diserang oleh pandemik COVID-19, kondisi ekonomi menjadi semakin parah. Dalam beberapa pekan terakhir, ribuan pekerja di sektor energi utama Iran juga mengadakan protes menuntut gaji yang lebih baik.

Protes melebar tidak hanya dilakukan oleh para pekerja tapi juga penduduk yang terdampak atas krisis air. Orang-orang yang melakukan protes, menurut Reuters, melampiaskan kemarahan mereka terhadap pemimpin tertinggi Iran, yakni Ayatullah Ali Khameini.

Sejak protes krisis listrik pada awal Juli, orang-orang meneriakkan kalimat "Matilah diktator" dan "Matilah Khamenei." Pada demonstrasi di Khuzestan, orang-orang yang melakukan demonstrasi juga meneriakkan kalimat yang sama, yang melampiaskan kemarahannya kepada pemimpin spiritual Iran tersebut. Mereka juga berteria "Kami haus" selama protest berlangsung.

Dalam protes krisis air di Iran kali ini, pihak berwenang menyalahkan musim panas di mana curah hujan berkurang drastis, akan tetapi banyak dari penduduk yang mengatakan bahwa masalahnya adalah salah urus dan korupsi para pejabat.

Baca Juga: Iran Desak Biden Bawa AS Kembali ke Kesepakatan Nuklir Iran

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya