Comscore Tracker

Terbukti Pesta Saat Lockdown, Downing Street Minta Maaf

13 pesta diadakan di gedung pemerintah meski sedang lockdown

Jakarta, IDN Times - Downing Street atau No. 10, sebutan untuk tempat Perdana Menteri (PM) Inggris berkantor, meminta maaf kepada Ratu Inggris atas pesta yang mereka adakan ketika lockdown diberlakukan. Permintaan maaf itu dilakukan melalui telepon.

PM Inggris Boris Johnson sejak akhir tahun 2021 telah mendapatkan tekanan dan kemarahan serius, baik dari publik maupun dari partai oposisi. Dia diduga telah mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang di kantornya ketika Inggris saat itu sedang lockdown dan berkabung karena banyak orang yang meninggal terinfeksi COVID-19.

Seruan agar Boris mengundurkan diri dari jabatannya semakin nyaring terdengar. Boris dinilai telah meremehkan jabatan Perdana Menteri. Beberapa pihak bahkan membandingkan acara pesta Downing Street yang ramai dengan Ratu Inggris yang duduk sendirian di pemakaman Pangeran Philip karena pembatasan COVID.

1. PM Boris hadiri pesta minum ketika aturan lockdown berlaku

Ketika pemerintah Inggris memberlakukan berbagai aturan lockdown atau penguncian, sekelompok pejabat yang berada di pucuk pimpinan justru melanggarnya. Mereka diduga telah mengadakan beberapa pertemuan pesta di Downing Street, tempat Perdana Menteri berkantor.

Dugaan pesta di Downing Street mulai bocor ke publik menjelang Natal 2021. Setelah dilakukan penyelidikan, rupanya pesta atau pertemuan yang melibatkan puluhan pejabat juga terjadi di Downing Street pada tahun 2020, ketika negara itu dihantam dengan keras oleh wabah virus Corona.

Dilansir BBC, dalam penyelidikan PM Boris Johnson pada 20 Mei 2020 mengaku menghadiri pesta minum di taman Downing Street. Saat itu, pemerintah Inggris memberlakukan penguncian.

Beberapa pertemuan lain juga diadakan di Downing Street setelah itu. Bahkan dengan berbekal koper yang penuh berisi minuman anggur.

Guy Opperman Menteri Pensiun mengatakan bahwa perilaku Boris Johnson tidak dapat diterima. Saat pesta diadakan di Downing Street pada 20 Mei, dia tidak dapat bersama istrinya yang melahirkan anak kembar di rumah sakit karena batasan aturan virus corona.

Kedua anak lelaki kembar itu kemudian meninggal tak lama setelah lahir. Opperman mengatakan PM Boris harus menjadi objek penyelidikan dan perlu "mengubah caranya" dalam bekerja.

2. Pesta minum ketika Ratu Inggris berkabung

Baca Juga: Salah Kaprah Istilah Inggris, Britania Raya, dan Inggris Raya

Suami Ratu Inggris yakni Duke of Edinburgh atau Pangeran Philip meninggal pada 9 April 2021. Sang Ratu menemani kepergian suaminya di Kastil Windsor. Publik Inggris kemudian berkabung secara nasional di tengah gelombang COVID-19 yang menyiksa.

Pemakaman salah satu orang terpenting di Inggris itu diwarnai dengan suasana sepi. Beberapa foto yang beredar di media sosial menunjukkan Ratu Inggris duduk sendirian dalam melepas kepergian suaminya yang tercinta.

Inggris saat itu sedang memberlakukan penguncian untuk mengendalikan sebaran infeksi virus corona. Keramaian tidak diperbolehkan meski dalam acara pemakaman orang terpenting Inggris.

Namun, dalam penyelidikan yang berlangsung, malam sebelum pemakaman Pangeran Philip, menurut Huffington Post, Downing Street justru melaksanakan pesta minum dan bahkan menimbun koper berisi anggur untuk acara itu. Pesta itu terjadi sampai larut malam dan selesai menjelang dini hari.

Juru bicara PM mengatakan "sangat disesalkan ini terjadi saat berkabung nasional."

Pesta itu dilaksanakan sebagai perpisahan James Slack, mantan direktur komunikasi PM Boris dan salah satu fotografer PM. Slack telah meminta maaf atas kemarahan dan luka publik yang disebabkan pesta tersebut.

PM Boris sendiri diketahui tidak hadir dalam acara tersebut karena sedang berada di kediamannya di Checkers.

3. Sebanyak 13 pesta diadakan, sebagian besar dilakukan di Downing Street

Terbukti Pesta Saat Lockdown, Downing Street Minta MaafPM Inggris Boris Johnson (tengah) (Twitter.com/UK Prime Minister)

Penyelidikan tentang penyelenggaraan pesta di Downing Street telah menjadi gejolak terbaru dalam pemerintahan PM Boris Johnson. Ketua yang ditugaskan untuk menyelidiki itu adalah Sue Gray.

Sementara ini, ada tiga acara yang diselidiki yaitu dua pesta pada malam sebelum pemakaman Pangeran Philip dan acara pada 17 Desember 2020 menjelang Natal. Namun, penyelidik juga telah menemukan dugaan pesta lain yang telah diadakan.

Dilansir The Guardian, total ada 13 pesta yang diadakan di gedung pemerintah meski pembatasan vitus corona di berlakukan di Inggris. Kebanyakan acara itu berlangsung di Downing Street.

Boris Johnson menjabat sebagai PM karena dukungan dari perwakilan kelompok konservatif. Saat ini, beberapa tokoh konservatif menyatakan kekecewaannya dan tak lagi memberi dukungan pada Boris.

Mark Rowley, ketua Asosiasi Konservatif Kettering, mengatakan "secara pribadi, saya pikir dia (Boris) harus mengundurkan diri." Martin Trollope-Bellew dari konservatif yang juga pernah jadi pendukung setia Boris mengatakan bahwa dukungan pada PM tampaknya akan lepas.

"Beberapa anggota, anggota lama, sangat vokal mengatakan dia harus pergi," kata Trollope-Bellew. Tapi dia akan menunggu sampai hasil investigasi dikeluarkan sebelum mengambil sikap secara resmi.

Baca Juga: Inggris: 2 Pria Ditangkap Terkait Orang Hilang pada 2007

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya