Comscore Tracker

World Food Programme: 16 Juta Rakyat Yaman Terancam Kelaparan

WFP butuh dana Rp11,3 triliun untuk enam bulan ke depan

Jakarta, IDN Times - Perang saudara selama enam tahun di Yaman, sampai saat ini masih berlangsung. Tapi perang itu termasuk memicu ancaman kelaparan terhadap sekitar 16 juta rakyat Yaman.

David Beasley yang menjabat sebagai direktur eksekutif World Food Programme (WFP) dari PBB mengatakan bahwa rantai pasokan di Yaman terganggu sehingga menyebabkan harga pangan melonjak.

Untuk masyarakat Yaman yang dapat bekerja, mereka tetap tidak bisa mendapatkan makanan pokok karena harganya yang kelewat mahal. Terbatasnya bahan bakar dan peperangan mengganggu jalur pasokan, memicu kenaikan harga pangan.

1. Belasan juta rakyat Yaman berbaris menuju kelaparan

Tanggal 20 sampai 24 September 2021 di berlangsung pertemuan Majelis Umum PBB di New York. Salah satu hal yang dibahas adalah memburuknya situasi di Timur Tengah, dari mulai Lebanon, Suriah, Irak, Libya, dan Yaman.

Negara-negara itu semakin jatuh terperosok dalam ancaman bencana kemanusiaan yang meluas. Dilansir dari laman Associated Press, negara-negara itu terlibat konflik yang terus terjadi, kemiskinan meningkat dan penindasan yang semakin kuat.

Yaman khususnya, negara itu sebagian besar rakyatnya bergantung bantuan dari luar negeri. David Beasley dari WFP mengatakan dalam pertemuan tentang krisis kemanusiaan di Majelis Umum PBB, bahwa "16 juta rakyat Yaman berbaris menuju kelaparan."

Beasley juga menjelaskan bahwa lembaga WFP yang ia pimpin sudah kehabisan uang. Pengurangan jatah makanan akan dilakukan untuk 3,2 juta orang pada Oktober dan 5 juta orang pada Desember jika tidak dapat pendanaan baru.

Pada bulan Maret lalu, Sekjen PBB Antonio Guterres telah meminta bantuan sebesar 3,85 miliar dolar atau Rp54,9 triliun untuk Yaman tapi negara donor dana menjanjikan kurang dari separuhnya.

2. Badan pangan PBB butuh Rp11,3 triliun untuk enam bulan ke depan di Yaman

Baca Juga: Krisis Kemanusiaan Yaman, Houthi Masih Terus Dekati Marib

Suasana di Yaman sangat memprihatinkan. Banyak dari pekerja bantuan kemanusiaan menjadi saksi atas kengerian masyarakat yang berada di tengah perang saudara tersebut.

Salah seorang pekerja bantuan untuk Action for Humanity yang bernama Adam Kelwick, menggambarkan bahwa situasi negara tersebut sebagai "putus asa."

Dalam kunjungannya pada hari Selasa (21/9), menurut The Guardian, rumah sakit al-Sabaeen di barat ibu kota Sana'a penuh dengan anak-anak yang kelaparan dan kekurangan gizi.

Bangsal lain harus diperluas agar semua anak-anak dapat ditampung. "Itu adalah pemandangan yang mengerikan di mana ada tempat tidur penuh dengan anak-anak yang tampak seperti kerangka."

Menurutnya, situasi yang memburuk itu alasannya adalah kekurangan gizi karena ibu-ibu mereka juga dalam kondisi kelaparan. Mereka tidak dapat menyusui sehingga anak-anak itu berakhir dalam situasi yang mengerikan.

Annabel Symington yang jadi juru bicara WFP untuk Yaman mengatakan "kami membutuhkan 797 juta dolar (Rp11,3 triliun) untuk mempertahankan tingkat bantuan saat ini selama enam bulan ke depan dan WFP berisiko kehabisan makanan mulai Oktober."

3. 'Dan jika para donor mulai lelah, akhiri perang dengan baik'

Perang saudara di Yaman mulai bermula pada tahun 2014. Saat itu, pasukan Houthi yang disebut pemberontak, melakukan penyerangan dan merebut ibu kota Sana'a. Presiden Yaman Mansour Hadi saat itu melarikan diri ke Aden, kemudian mencari perlindungan ke Arab Saudi.

Setahun setelahnya, Arab Saudi yang memimpin pasukan koalisi membantu pemerintah Yaman dan melancarkan perang untuk melawan Houthi. Sampai saat ini belum diketahui kapan perang itu akan selesai.

Menurut NPR, koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat untuk mencoba mengembalikan Mansour Hadi ke kekuasaannya semula, serta memberikan dukungan pemerintahannya secara internasional.

Peperangan antara pasukan koalisi yang menargetkan para pejuang Houthi, yang dituduh telah didukung oleh Iran, telah melahirkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

David Beasley meminta para pemimpin dunia untuk mendesak agar perang di Yaman segera diakhiri. "Kami ingin perang ini berakhir, nomor satu. Dan jika para donor mulai lelah, akhiri perang dengan baik," katanya.

Komisaris Uni Eropa yang bernama Janez Lenarcic telah meminta pihak yang bertikai memberi akses kemanusiaan tak terbatas dan mengizinkan makanan serta bahan bakar ke negara itu. Krisis kemanusiaan di Yaman menurutnya, "belum pernah terjadi sebelumnya dan meningkat."

Baca Juga: AS: Yaman, Suriah, Somalia, Irak Jauh Lebih Berbahaya dari Afghanistan

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya