Comscore Tracker

Iran Buka Terminal Minyak untuk Lewati Selat Hormuz

Akan ekspor 1 juta barel per hari minyak dari fasilitas baru

Tehran, IDN Times - Pada hari Kamis (22/7/2021), Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa Iran telah membuka terminal minyak pertamanya di Teluk Oman. Langkah tersebut bertujuan untuk memungkinkan kapal tanker Iran menghindari penggunaan Selat Hormuz dan tidak terlalu bergantung pada selat tersebut, yang telah menjadi fokus ketegangan internasional selama beberapa dekade. Bagaimana kronologinya?

1. Iran buka terminal minyak di Teluk Oman

Iran Buka Terminal Minyak untuk Lewati Selat HormuzIlustrasi kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. (Unsplash.com/Alexandr Popadin)

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Kamis, Presiden Rouhani mengungkapkan bahwa, "Ini adalah langkah strategis dan langkah penting bagi Iran. Ini akan mengamankan kelanjutan ekspor minyak kita," ungkapnya dan dikutip dari Al Jazeera.

Rouhani menambahkan, "Kami memiliki terminal dan jika ada masalah, ekspor minyak kami akan terputus. Hari ini adalah hari bersejarah yang hebat bagi bangsa Iran."

Terminal baru Iran terletak di dekat pelabuhan Jask di Teluk Oman, tepat di sebelah selatan Selat Hormuz , di mana memungkinkan kapal-kapal menuju ke Laut Arab dan sekitarnya untuk menghindari rute yang sempit. Terminal ekspor minyak utama Iran terletak di pelabuhan Kharg di dalam Selat Hormuz, yang memiliki jalur air kurang dari 40 kilometer (25 mil) di titik tersempitnya.

Selat Hormuz merupakan saluran sempit di mulut teluk yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia dari produsen Timur Tengah ke pasar di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan sekitarnya.

2. Dari fasilitas baru, Iran akan mengekspor satu juta barel per hari

Iran Buka Terminal Minyak untuk Lewati Selat HormuzPresiden Iran, Hassan Rouhani. (Instagram.com/hrouhani)

Dilansir Al Jazeera, "Hari ini, pengiriman pertama 100 ton minyak dimuat di luar Selat Hormuz. Ini menunjukkan kegagalan sanksi AS," ungkap Rouhani.

Rouhani mengatakan Iran bertujuan untuk mengekspor satu juta barel per hari minyak dari fasilitas baru. Saat ini, proyek tersebut memungkinkan 350.000 barel untuk diekspor per hari.

Berdasarkan angka terbaru yang tersedia dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak, Iran memproduksi 2,47 barel per hari pada bulan Juni.

Tidak hanya itu, Iran juga membangun pipa sepanjang 1.000 km (600 mil) untuk membawa minyak mentahnya ke terminal baru di tenggara dari Goreh di provinsi Bushehr.

Rouhani memperkirakan nilai proyek baru senilai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp28,9 triliun, yang menurut media Iran, telah berlangsung selama sekitar dua tahun. Lokasi terminal baru juga akan menyelamatkan kapal tanker yang menuju ke laut lepas dengan waktu berlayar beberapa hari.

Baca Juga: Protes Krisis Air Iran: Satu Polisi Dikabarkan Tewas

3. Soal sanksi Washington pada Teheran

Iran Buka Terminal Minyak untuk Lewati Selat HormuzBendera Amerika Serikat. (Pexels.com/Brett Sayles)

Iran sebelumnya mengancam akan memblokir selat jika ekspor minyak mentahnya ditutup oleh sanksi Amerika Serikat (AS), yang diberlakukan kembali oleh Washington tiga tahun lalu ketika presiden saat itu Donald Trump meninggalkan kesepakatan nuklir Teheran dengan enam kekuatan utama (AS, Prancis, Jerman, Inggris, Rusia, dan China), dikutip dari Reuters.

Seperti yang dilansir CNBC, Washington menjatuhkan sanksi pada Teheran setelah mantan Presiden Donald Trump saat itu menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), perjanjian nuklir pada tahun 2018. Trump menepati janji kampanye dan secara sepihak menarik AS dari JCPOA, serta menyebutnya sebagai 'kesepakatan terburuk yang pernah ada'. 

JCPOA yang saat itu ditengahi oleh pemerintahan Obama pada tahun 2015, mencabut sanksi terhadap Iran yang berdampak pada terhambatnya ekonomi Iran dan memotong ekspor minyaknya hingga setengahnya. Dengan imbalan miliaran dolar dalam bantuan sanksi, Iran setuju untuk membongkar beberapa program nuklirnya dan membuka fasilitasnya untuk inspeksi internasional yang lebih luas.

Akan tetapi, sejak awal April, Pejabat Iran dan pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah melakukan pembicaraan langsung di Wina, di mana Iran setuju untuk mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sebagian besar sanksi internasional.

Baca Juga: Warga Iran Rela Pergi ke Armenia hanya untuk Divaksinasi

Rahmah N Photo Verified Writer Rahmah N

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya