Comscore Tracker

Negosiasi GERD Buntu, Sudan Ancam Ethiopia

Satu dekade tidak menemukan titik temu

Khartoum, IDN Times - Satu dekade terlewati mengenai kesepakatan GERD yang hingga kini belum menemukan solusi yang pasti. Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) merupakan proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika dengan pembangunan bendungan di Nil Biru yang disepakati oleh tiga negara, yaitu: Ethiopia, Sudan, dan Mesir.

Akan tetapi, pembangunan bendungan ini tanpa kepastian hukum yang jelas dapat mengganggu kepentingan nasional negara-negara yang bergantung pada aliran sungai Nil. Bagi Mesir membahayakan pasokan airnya dan bagi Sudan berdampak pada efek aliran airnya. Bagaimana kronologinya? 

1. Sudan dan Mesir menginginkan kesepakatan hukum yang mengikat

Negosiasi GERD Buntu, Sudan Ancam EthiopiaIlustrasi peta benua Afrika. (Pexels.com/Anthony Beck)

Belum tercapainya kesepakatan antara ketiga negara (Ethiopia, Sudan, dan Mesir), Ethiopia telah berencana mengisi dan menyelesaikan bendungan raksasa tahap kedua tersebut saat musim hujan tiba. Hal ini pun mengundang reaksi penolakan dari Sudan dan Mesir.

Sudan dan Mesir menginginkan kepastian hukum yang jelas, yang dapat mengakomodir kepentingan ketiga negara tersebut. Bukan hanya dari sisi teknikal mengenai tata cara dan penjadwalan pengisian bendungan saja. Mereka juga menginginkan untuk Ethiopia membahas bagaimana solusi yang akan dihadapi jika terjadi perselisihan nantinya di masa depan.

Dilansir BBC (22/04/2021), Pemerintah Ethiopia terus mencoba meyakinkan Sudan bahwa proyek GERD tidak akan merugikan negara, PM Abiy Ahmed di Twitter, mengatakan bahwa: Ethiopia "tidak berniat menyebabkan kerugian" ke negara-negara hilir, menambahkan juga pengisian tahun lalu "tidak diragukan lagi mencegah banjir parah di negara tetangga Sudan".

2. Aliran sungai Nil memiliki peranan yang sangat vital bagi ketiga negara ini

Negosiasi GERD Buntu, Sudan Ancam EthiopiaIlustrasi bendungan. (Unsplash.com/Clay Banks)

Baca Juga: PM Ethiopia Nilai Pasukan Militernya Hadapi Perang Gerilya

Bagi Ethiopia, proyek GERD ini sangat penting bagi negaranya dimana tidak hanya untuk pembangunan ekonomi, juga dapat menyalurkan listrik ke 60% populasi di Ethiopia. 

Bagi Mesir, yang walaupun telah memiliki cadangan air sendiri yang besar di belakang bendungan Aswannya, akan tetapi negaranya bergantung pada pasokan air yang berasal dari sungai Nil tersebut guna menopang kehidupan disana.

Sudan yang menjadi negara yang terletak di antara sungai Ethiopia dan Mesir, berada di posisi yang sangat dirugikan dalam hal ini jika kesepakatan belum terselesaikan. Pengisian bendungan mengurangi jumlah air yang mengalir ke wilayah Sudan.

Sebelumnya, Sudan berharap dapat diuntungkan dengan adanya proyek GERD ini, dimana nantinya Sudan dapat memperkenalkan musim tanam ketiga. Tidak hanya itu, Sudan juga berharap dapat memberikan listrik yang lebih murah dan lebih dapat diandalkan bagi masyarakatnya mengingat baru-baru ini terjadi pemadaman listrik selama 12 jam sehari disana.

3. Uni Afrika telah memediasi, tetapi berakhir tanpa kemajuan yang berarti

Negosiasi GERD Buntu, Sudan Ancam EthiopiaIlustrasi jabat tangan. (Unsplash.com/Cytonn Photography)

Awal bulan April ini, Uni Afrika telah menjadi mediator dalam memediasi permasalahan mengenai GERD antara Ethiopia, Sudan dan Mesir di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo.

Akan tetapi, negosiasi buntu dimana gagalnya perundingan karena tidak menemukan titik temu. Bahkan Ethiopia menolak proposal yang diajukan oleh Sudan dan Mesir yang mengusulkan untuk memasukkan mediator internasional, seperti: Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam memfasilitasi lanjutan pembicaraan dengan Uni Afrika.

Dilansir Al Jazeera (23/04/2021), pemerintah Sudan melalui Menteri Irigasinya, Yasser Abbas menyampaikan kepada wartawan bahwa apabila Ethiopia bersikeras mengisi bendungan tanpa menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan, Sudan akan mengajukan tuntutan hukum kepada perusahaan Italia yang membangun bendungan dan pemerintah Ethiopia.

Yasser Abbas juga mengatakan bahwa tuntutan hukum nantinya akan memfokuskan pada apa yang belum dipertimbangkan secara memadai, "Mengingat dampak lingkungan dan sosial serta risiko pada GERD belum dipelajari, berbagai opsi sedang dipertimbangkan, mulai dari Mahkamah Internasional, Komisi Hak Asasi Manusia hingga Pengadilan COMESA."

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Serigala Ethiopia, Predator Buas dari Area Pegunungan!

Rahmah N Photo Verified Writer Rahmah N

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya