Comscore Tracker

Ini Konsekuensi Pandemik COVID-19 terhadap Komunitas Dunia

Pengangguran dan kemiskinan makin tinggi

Jakarta, IDN Times – Pandemik COVID-19 telah menimbulkan dampak sosial ekonomi yang menghancurkan bagi setiap negara di dunia. Penelitian baru yang diterbitkan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), menunjukkan sejauh mana konsekuensi sekunder pandemik pada komunitas dan individu. 

Hasil temuan yang dirilis pada Senin (22/11/2021), menunjukkan bahwa pandemik telah menyebabkan meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, peningkatan kerawanan pangan, kerentanan yang lebih tinggi terhadap kekerasan.

"Lalu juga hilangnya pendidikan serta berkurangnya kesempatan bagi anak-anak. Ini juga memperburuk masalah kesehatan mental,” jelas laporan tersebut, sebagaimana dikutip IDN Times dari situs resmi IFRC. 

Baca Juga: Pemerintah Targetkan Penurunan Kemiskinan Ekstrem 0 Persen pada 2024

1. Konsekuensi sekunder pandemik

Ini Konsekuensi Pandemik COVID-19 terhadap Komunitas DuniaIlustrasi pegawai pabrik. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Presiden IFRC Francesco Rocca mengatakan bahwa dampak sekunder destruktif dari pandemik ini telah merusak tatanan masyarakat dan akan terasa selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun yang akan datang. Ia juga mengatakan bahwa orang-orang yang sudah rentan, akibat konflik, perubahan iklim, dan kemiskinan, semakin terdesak.

“Dan banyak orang yang sebelumnya mampu mengatasinya menjadi rentan, membutuhkan dukungan kemanusiaan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka,” katanya. 

2. Pihak yang paling terdampak

Ini Konsekuensi Pandemik COVID-19 terhadap Komunitas DuniaIlustrasi (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dampak pandemik ini menyasar paling parah perempuan, orang-orang di daerah perkotaan, dan mereka yang sedang bepergian.

Secara keseluruhan, perempuan memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap pendapatan mereka, berisiko lebih besar terkena COVID-19 karena peran pengasuhan, lebih rentan terhadap kekerasan seksual dan berbasis gender, dan mengalami dampak kesehatan mental pada tingkat yang lebih besar daripada laki-laki.

Di daerah perkotaan, tingkat kemiskinan tumbuh, dalam beberapa kasus lebih cepat daripada di daerah pedesaan. Orang-orang yang bepergian lebih cenderung kehilangan pekerjaan atau jam kerja mereka dipotong selama pandemik dan telah diabaikan secara luas oleh perlindungan formal dan langkah-langkah pengamanan.

“Selain itu, kurangnya kesiapsiagaan mempersulit negara-negara untuk membangun respons komprehensif terhadap apa yang secara bersamaan menjadi darurat kesehatan masyarakat, goncangan ekonomi global, dan krisis politik dan sosial,” menurut laporan itu.

Baca Juga: Angka Pengangguran Terbuka Kota Tangerang 2021 Naik 

3. Dukungan untuk Perhimpunan Palang Merah Nasional

Ini Konsekuensi Pandemik COVID-19 terhadap Komunitas DuniaANTARA/Muhammad Adimaja

Rocca mengatakan bahwa sebagai responden komunitas garis depan, Perhimpunan Palang Merah Nasional di seluruh dunia telah mampu menjembatani kesenjangan dalam respons ini. Ia menyebut mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang ketidaksetaraan yang ada dan bagaimana ketidaksetaraan itu bisa tetap ada.

“Dan oleh karena itu mereka berada di antara tempat terbaik untuk membantu orang pulih dari bahaya terhadap mata pencaharian, kesehatan, dan pendidikan mereka. Tetapi untuk terus melakukannya, mereka akan membutuhkan dukungan tambahan yang signifikan: baik finansial maupun politik,” jelas Rocca.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa dunia berada di jalur pemulihan yang sangat tidak merata, tergantung pada kemanjuran dan kesetaraan program vaksinasi. Namun Rocca mengatakan bahwa mereka telah secara konsisten memperingatkan bahwa distribusi vaksin yang tidak adil tidak hanya akan memungkinkan penularan tingkat tinggi untuk terus berlanjut.

“Tetapi ketidaksetaraan ini juga akan menghambat, memperpanjang, atau memperburuk dampak pandemik ini. Saat kita terus membiarkan keuntungan mengalahkan kemanusiaan dan negara-negara kaya terus memonopoli dosis, kita tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa pandemik ini telah berakhir,” katanya.

“Dunia harus membuka matanya, memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mereka dan mengubah kata-kata menjadi tindakan. Jika tidak, kita menghadapi risiko pemulihan dari pandemik COVID-19 yang tidak merata dan tidak adil seperti dampak pandemik itu sendiri,” tutup Rocca.

Baca Juga: WHO Sebut Varian Omicron Berbahaya, Joe Biden: Tidak Perlu Panik!

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya