Comscore Tracker

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Jajarannya Mengundurkan Diri

PM Belanda terlibat skandal yang merugikan ribuan orang tua

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan seluruh kabinetnya mengundurkan diri pada Jumat (15/1/2020). Hal itu dilakukan setelah mereka terlibat skandal terkait pembayaran kesejahteraan anak yang merugikan ribuan orang tua.

Dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional, Rutte mengatakan dia telah memberitahu Raja Willem-Alexander tentang keputusannya. Ia juga berjanji bahwa pemerintahnya akan terus bekerja untuk membayar kompensasi kepada orang tua yang terkena dampak secepat mungkin, dan juga terus membantu negara memerangi virus corona.

“Kami sependapat bahwa jika seluruh sistem gagal, kami semua harus bertanggung jawab, dan itu mengarah pada kesimpulan bahwa saya baru saja menawarkan kepada raja, pengunduran diri seluruh Kabinet,” kata Rutte.

1. Skandal kesejahteraan anak

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Jajarannya Mengundurkan Diriinstagram.com/cosmogirl_nl

Menurut laporan, Rutte dan pemerintahannya telah membuat kesalahan besar terkait pembayaran kesejahteraan anak. Mereka telah secara keliru menuduh ribuan keluarga melakukan klaim tunjangan yang tidak adil dan meminta mereka untuk mengembalikan dananya. Hal itu telah membuat banyak orang tua terjerumus ke dalam utang.

Sebagai tanggapan atas hal itu, pemerintah telah meminta maaf dan pada Maret 2020 mengalokasikan 500 juta euro atau 784 juta dolar Amerika untuk memberi kompensasi kepada lebih dari 20.000 orang tua.

Pemerintah juga berjanji untuk mereformasi sistem kesejahteraan sebagai akibat dari skandal tersebut dan membayar orang tua yang terkena dampak sebesar 30.000 euro (47 ribu dolar). Pemerintah juga berjanji untuk memperluas skema kompensasi yang ada.

“Semuanya bertujuan untuk menawarkan kepada orang tua dan anak-anak mereka awal yang baru dalam hidup,” kata pemerintah, sebagaimana dilaporkan The Sydney Morning Herald.

Baca Juga: Belanda Lakukan Lockdown 5 Minggu Usai Lonjakan COVID-19

2. Pengunduran diri secara simbolis

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Jajarannya Mengundurkan Diritwitter.com/MinPres

Menurut laporan, pengunduran diri Rutte saat ini hanyalah simbolis. Pemerintahan Rutte akan tetap menjabat dalam mode caretaker sampai koalisi baru terbentuk setelah pemilihan 17 Maret di Belanda.

Meski demikian, pengunduran diri tersebut telah mengakhiri masa jabatan Rutte yang telah berjalan selama satu dekade. Itu juga terjadi di saat partainya dipastikan akan memenangkan pemilihan mendatang.

Tapi, Rutte masih akan bisa menjadi perdana menteri Belanda lagi jika ia berhasil membentuk koalisi baru.

Rutte pada awal pekan ini juga telah mengatakan bahwa pemerintahnya akan dapat terus mengambil keputusan kebijakan yang sulit dalam memerangi virus corona meskipun dalam mode caretaker.

“Kepada Belanda saya katakan: Perjuangan kami melawan virus corona akan terus berlanjut,” kata Rutte.

Baca Juga: Digugat Uni Eropa ke WTO Soal Ekspor Biji Nikel, Pemerintah Siap Lawan

3. Total kasus COVID-19 di Belanda mencapai 901.696

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Jajarannya Mengundurkan DiriDuta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, membaca nama pada batu nisan milik tentara Belanda di pemakaman pasukan sekutu Perang Perang Dunia II, di kawasan Kapaha, Ambon, Rabu (11/1/2012). (ANTARA FOTO/Embong Salampessy)

Belanda merupakan salah satu negara yang memiliki kasus corona terbanyak di dunia. Dengan total 901.696 kasus dilaporkan saat ini, Belanda menduduki peringkat ke-19 negara dengan kasus corona terbanyak di dunia.

Sementara itu, angka kematian akibat virus asal Wuhan, Tiongkok itu di Belanda mencapai 12.868 orang.

Akibat peningkatan kasus harian yang pesat, pemerintah Belanda telah mengumumkan rencana penguncian (lockdown) yang ketat, yang berlaku hingga setidaknya 9 Februari. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan jam malam di tengah kekhawatiran akan terjadinya lonjakan kasus baru akibat adanya varian virus baru yang lebih menular.

Baca Juga: Jerman Terancam Lockdown Hingga April 

Topic:

  • Rehia Sebayang
  • Rochmanudin
  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya