Comscore Tracker

Mengenal Denazifikasi, Alasan yang Diumbar Putin untuk Serang Ukraina

Dari pasca-Perang Dunia II hingga invasi Rusia ke Ukraina

Jakarta, IDN Times - Pada Kamis, 24 Februari 2022, dunia dikejutkan dengan manuver Presiden Rusia Vladimir Putin yang memerintahkan pasukannya untuk melakukan operasi militer di Utara Ukraina. Segera setelah kebijakan tersebut, armada Rusia menginisiasi serangan di daerah perbatasan dan kini semakin mendekati kota-kota besar Ukraina seperti Kiev dan Kharkiv.

Dilansir ABC, Presiden Putin menyebut operasi militer yang dilakukan Rusia diperlukan untuk melindungi keamanan Rusia. Putin menambahkan operasi ini juga bertujuan untuk melakukan apa yang beliau sebut sebagai 'denazifikasi' dan 'demiliterasi' Ukraina.

Lalu, apa yang dimaksud dengan denazifikasi? Di bawah ini adalah lini masa istilah denazifikasi mulai dari asal hingga menjadi alasan Putin untuk menyerang Ukraina.

Baca Juga: [LINIMASA] Sejarah Politik Ukraina Sejak Merdeka dari Rusia

1. Asal usul denazifikasi

Mengenal Denazifikasi, Alasan yang Diumbar Putin untuk Serang Ukrainailustrasi keadaan perang (pexels.com/Kris Møklebust)

Dikutip dari BBC, denazifikasi merupakan proses untuk menghilangkan ideologi dan pengaruh Nazi dari kehidupan masyarakat Jerman. Proses denazifikasi dilakukan oleh armada sekutu kepada tentara serta masyarakat Jerman untuk membersihkan sisa-sisa ideologi Nazi.

Meskipun denazifikasi mencapai puncaknya pada akhir perang dunia kedua, istilah ini pertama kali diungkapkan pada 1943 di Pentagon, Amerika Serikat. Menurut pihak Pentagon, denazifikasi akan menjadi landasan sistem pemerintahan Jerman pasca-Perang Dunia II.

Proses denazifikasi baru dilegalkan menyusul perjanjian Postdam pada Agustus 1945 yang menandai kekalahan blok poros kepada sekutu.

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Lanjut, Harga Emas dan Minyak Mentah Terus Naik

2. Denazifikasi Jerman pasca-Perang Dunia II

Mengenal Denazifikasi, Alasan yang Diumbar Putin untuk Serang Ukrainailustrasi tentara dalam perang (pexels.com/Asim Alnamat)

Proses denazifikasi mencapai puncaknya pasca-Perang Dunia II. Blok sekutu yang memenangkan perang mulai melakukan proses denazifikasi untuk membersihkan sisa-sisa ideologi Nazi pada rakyat Jerman.

Dilansir dari The Guardian. Beberapa kebijakan penerapan denazifikasi terdiri atas :

  1. Partai Nazi dilarang dan siapa saja yang mendukung ideologi Sosialisme Nasional akan dihukum mati.
  2. Simbol swastika dan emblem Nazi lainnya dilarang untuk digunakan di publik.
  3. Rakyat Jerman perlu membuat pernyataan jelas akan keikutsertaaan mereka di partai Nazi.
  4. Eks-Nazi akan mengelilingi kamp konsentrasi atau menonton video tahanan Yahudi.

3. Denazifikasi pada era Perang Dingin

Mengenal Denazifikasi, Alasan yang Diumbar Putin untuk Serang UkrainaMonumen peninggalan Uni Soviet saat perang dingin. (pexels.com/Cristian Salinas Cisternas)

Pasca-Perang Dunia II, Jerman dibagi menjadi empat wilayah yang masing-masing diduduki tentara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Uni Soviet. Tiga wilayah yang disebut pertama kemudian bergabung dan membentuk Jerman Barat, sementara wilayah  yang diduduki Soviet menjadi Jerman Timur.

Terkait denazifikasi, pemerintah Jerman Barat dan Timur menerapkan kebijakan yang berbeda untuk warganya.

Pemerintah Jerman Barat mengambil kebijakan yang sedikit melonggarkan denazifikasi. Hal ini dikarenakan pimpinan Jerman Barat saat itu, Konrad Adenneur, lebih berfokus pada pembangunan industri dan ekonomi yang hancur akibat perang.

Dalam buku Denazification in Soviet-Occupied Germany, Timothy Vogt menjelaskan bagaimana denazifikasi tetap digalakkan dibawah pemerintahan Wilhelm Pieck. Kebijakan seperti propaganda, pengadilan kepada eks-Nazi hingga pengiriman tenaga kerja ke daerah Soviet jamak dilakukan rezim Jerman Timur.

Baca Juga: 10 Tokoh dan Gerakan yang Berani Menentang Nazi saat PD II

4. Denazifikasi pada era modern

Mengenal Denazifikasi, Alasan yang Diumbar Putin untuk Serang UkrainaBeberapa orang anggota kelompok Antifa. (aljazeera.com/John Rudoff)

Berakhirnya era Perang Dingin pada 1991, membuka lembaran baru pada proses denazifikasi. Meski banyak pemerintahan di dunia masih melarang ideologi Nazi, namun larangan yang diberikan tidak seketat seperti pasca-Perang Dunia II dan Perang Dingin.

Memudarnya pengetahuan soal denazifikasi disebabkan masyarakat di era modern menganggap paham Nazi sudah tidak relevan dengan kehidupan terbuka dan demokratis saat ini. Namun, meningkatnya aktivitas dari berbagai organisasi politik berhaluan nasionalis sosialis kembali di Eropa Timur kembali menghidupkan ide denazifikasi.

Munculnya kembali gerakan politik kanan jauh menyebabkan banyak bermunculan kelompok Antifa atau anti fasis. Antifa sendiri menyerukan kembali bahaya fasisme dan menggaungkan kembali denazifikasi.

5. Denazifikasi sebagai alasan Putin serang Ukraina

Istilah denazifikasi kembali menyeruak saat Putin memerintahkan tentara Rusia untuk melakukan operasi militer di utara Ukraina. Putin beralasan perlunya serangan untuk melindungi rakyat Rusia serta melakukan apa yang beliau sebut 'denazifikasi' Ukraina.

Operasi militer dilatarbelakangi oleh sikap Rusia yang tidak senang akan kemesraan Ukraina dengan NATO dan Uni Eropa. Akhirnya, Rusia menempuh jalan militer untuk mencegah Ukraina semakin dekat dengan negara barat. 

Namun, pernyataan Putin dianggap hanya untuk menutupi ambisinya memperluas pengaruh di Ukraina. Dilansir dari Financial Express, alasan denazifikasi dan demiliterasi Ukraina hanya sebagai tameng untuk mewujudkan keinginannya mengembalikan kejayaan Rusia seperti pada masa Uni Soviet dulu.

Denazifikasi telah melalui lini masa yang panjang. Dimulai dari perang dunia kedua hingga melatarbelakangi kisruh terkini antara Rusia dan Ukraina.

Semoga artikel ini menambah wawasanmu terutama soal konflik di Eropa timur ini. Stay educated!

Rizal Khoirul Huda Photo Writer Rizal Khoirul Huda

Mahasiswa semester akhir yang hobi menulis di kala gabut.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya