Comscore Tracker

Buruk Bagi Lingkungan, Inggris Ingin Kurangi Limbah Pakaian

Yuk kurangi belanja baju hanya karena lagi diskon!

London, IDN Times - Sekelompok anggota parlemen Inggris mengusulkan cara untuk mengurangi limbah pakaian. Dalam sebuah rapat yang khusus membahas persoalan tersebut, mereka ingin agar setiap pelaku retail dan merek-merek fashion membayar satu penny untuk setiap kain yang mereka gunakan.

Uang-uang tersebut diharapkan bisa dipakai untuk membiayai sistem daur ulang limbah kain. Selama ini, dengan meningkatnya tren fast fashion yang menyediakan pakaian-pakaian dalam skala besar dengan harga murah, jumlah limbah yang diproduksi pun kian bertambah.

1. Pemerintah harus turun tangan

Buruk Bagi Lingkungan, Inggris Ingin Kurangi Limbah Pakaianunsplash.com/freestocks

"'Fast fashion' berarti kita mengonsumsi secara berlebihan dan tidak memakai pakaian dengan sewajarnya. Para pengecer harus bertanggung jawab atas pakaian-pakaian yang mereka produksi," kata Ketua Komite Audit Lingkungan yang juga anggota parlemen Inggris, Mary Creagh, seperti dilansir Reuters.

Oleh karena itu, perlu upaya tegas dalam memastikan produsen tidak lolos dengan hanya memproduksi, memasarkan dan menjual produk-produk mereka kepada khalayak. "Pemerintah wajib bertindak untuk mengakhiri era membuang-buang baju dengan menyediakan insentif bagi perusahaan yang menawarkan desain berkelanjutan dan layanan perbaikan," tambahnya. 

Baca Juga: Jika Ditumpuk, Limbah Elektronik pada Tahun 2016 Setara 4500 Menara Eiffel

2. Warga Inggris berbelanja lebih banyak baju dibandingkan orang-orang Eropa lainnya

Buruk Bagi Lingkungan, Inggris Ingin Kurangi Limbah Pakaianunsplash.com/Fancycrave

Ini merupakan pertama kalinya parlemen di dunia mengadakan sesi khusus untuk membahas limbah pakaian. Langkah parlemen Inggris tersebut dilatarbelakangi oleh temuan bahwa masyarakat di sana membeli jauh lebih banyak baju dibandingkan orang-orang Eropa lainnya.

Dalam temuan yang dipublikasikan usai rapat disebutkan ada sekitar 300.000 ton limbah pakaian yang dikirim ke tempat pembuangan atau sistem pemrosesan sampah setiap tahun di Inggris. Di sisi lain, industri fashion bernilai sangat besar di Inggris.

3. Tak hanya menguntungkan produsen, industri fashion juga membuka lapangan kerja

Buruk Bagi Lingkungan, Inggris Ingin Kurangi Limbah Pakaianunsplash.com/Artem Bali

Per 2017, dari sektor retail, manufaktur, serta desain, ada sebanyak 890.000 orang yang mendapatkan keuntungan berupa lapangan pekerjaan. Sementara itu, menurut bos British Fashion Council Caroline Rush, industri tersebut diestimasi mencapai nilai USD 41 miliar pada 2018 lalu.

Salah satu penyebabnya adalah penjualan secara online. "Kami senang sektor kami terus tumbuh. Sebenarnya kami melihat banyak sekali tantangan seputar dunia retail dan industri fashion, tapi statistik tahun lalu menunjukkan pertumbuhan baik dari segi kontribusi terhadap GDP maupun peningkatan lapangan kerja, yang mana ini sangat baik untuk perekonomian," ucapnya kepada Evening Standard.

4. Limbah pakaian merugikan bagi lingkungan

Buruk Bagi Lingkungan, Inggris Ingin Kurangi Limbah Pakaianunsplash.com/Becca McHaffie

Meski demikian, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa banyaknya limbah pakaian memunculkan kerugian. Laporan dari Ellen McArthur Foundation menyebutkan limbah pakaian yang dibuang di tempat pembuangan sampah bernilai sekitar USD 106 juta. 

Produksi pakaian dalam skala besar, kemudian dijual dengan murah, lalu dibuang dengan mudah pun berdampak pada lingkungan. Menurut penelitian WRAP.co.uk, pada 2012 ada sebanyak 26 juta emisi karbondioksida yang dihasilkan secara global dalam proses produksi dan penggunaan pakaian. Kontributor tersebarnya adalah produksi serat.

5. Daur ulang pakaian dianggap sebagai cara yang bijaksana

Buruk Bagi Lingkungan, Inggris Ingin Kurangi Limbah Pakaianunsplash.com/Ramon Kagie

Dengan fakta tersebut, para akademisi dan aktivis lingkungan hidup menyarankan agar publik mengurangi belanja dan memilih mendaur ulang pakaian mereka. Memakai kembali atau mendaur ulang pakaian akan menghemat karbon karena masa hidup kain tersebut akan lebih lama. Secara tidak langsung, ekstraksi dan pemrosesan serat pun akan berkurang.

Baca Juga: Jatim Akan Bangun Pengolahan Limbah B3 di Mojokerto

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya