Comscore Tracker

Dari Queen Sampai Linkin Park Protes Lagunya Dipakai Kampanye Trump

Mereka menegaskan pemakaian lagu melanggar hak cipta

Jakarta, IDN Times - Salah satu kebiasaan tim sukses Donald Trump dalam berkampanye adalah memakai lagu-lagu populer milik berbagai musisi, baik sebagai latar video maupun diputar ketika ia sedang menjumpai para pendukungnya.

Namun, yang tetap masih belum dipelajari oleh staf yang bekerja untuk membuat Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat--bahkan hingga empat tahun kemudian--adalah jangan menggunakan lagu tanpa izin dari penciptanya.

Pada akhir pekan kemarin, Linkin Park mengeluarkan somasi kepada tim kampanye Trump karena telah memakai lagu tanpa izin. Grup rock asal Amerika Serikat itu juga menegaskan tidak pernah mendukung Trump. Usai diprotes, Twitter pun menghapus video itu dari platform.

Linkin Park bukan yang pertama. Berikut ini adalah tiga artis yang pernah memprotes Trump karena memakai lagu tanpa izin untuk kebutuhan kampanye:

1. Queen

Grup rock legendaris asal Inggris, Queen, melayangkan protes kepada tim sukses Trump pada 2016 lalu. Melansir Rolling Stone, Trump pertama kali memakai lagu hits Queen berjudul We Are The Champions pada Juni 2016.

Ketika itu, ia masuk babak terakhir pemilihan nominasi calon presiden dari Partai Republik. Lagu diputar saat ia akan memberikan pidato kemenangan di hadapan para pendukungnya.

Gitaris Queen, Brian May, menulis di situsnya bahwa Trump tidak pernah meminta izin untuk memakai lagu tersebut. May juga tidak menutupi sikap keberatannya karena tidak ingin lagu-lagu Queen dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

"Ini bukan pernyataan resmi Queen, tapi saya bisa konfirmasi bahwa izin untuk memakai lagu itu tak pernah diminta maupun diberikan," tulis May dalam situs pribadinya.

"Kami menerima saran soal langkah apa yang bisa kami ambil untuk memastikan ini tidak berlanjut. Apa pun pandangan kami soal platform Trump, mengizinkan musik Queen digunakan sebagai alat kampanye politik selalu berlawanan dengan kebijakan kami," tegasnya.

Rupanya, tim Trump masih keras kepala. Sebulan berikutnya, Trump kembali menggunakan We Are The Champions ketika dirinya lolos sebagai capres dari Partai Republik. Queen pun kembali menunjukkan kegeraman.

"Kami frustrasi karena berulangnya penggunaan lagu kami tanpa izin setelah permintaan sebelumnya untuk berhenti melakukan itu, yang nyatanya tidak diacuhkan oleh Trump dan tim kampanyenya," kata Queen melalui label rekaman Sony/ATV Music.

Apakah para staf Trump menuruti permintaan itu? Rupanya tidak, sebab pada Oktober di tahun yang sama, Trump kembali menggunakan salah satu lagu Queen yaitu We Will Rock You dalam video kampanye yang diunggah ke Twitter. Queen juga menegaskan lagi Trump tidak mendapatkan izin sama sekali untuk memakai lagu tersebut.

Baca Juga: Linkin Park Somasi Trump karena Pakai 'In The End' untuk Kampanye

2. Pharrell Williams

Musisi lain yang menolak lagunya dipakai Trump berkampanye adalah Pharrell Williams. Seperti dilaporkan The Guardian, Trump menggunakan lagu hits Pharrell yang berjudul Happy saat melakukan rali di Indiana pada Oktober 2018.

Pharrell bukan hanya marah karena lagunya dipakai tanpa izin, tapi juga mengingat bahwa lagu bernuansa ceria itu diputar dalam acara temu pendukung yang berlangsung hanya beberapa usai penembakan massal di sinagoga Pittsburg yang menewaskan 11 orang.

"Pharrell belum, dan tidak akan, memberikan izin untuk secara publik menyanyikan atau menampilkan atau menyebarluaskan musiknya," kata Pharrell lewat sebuah surat yang dikeluarkan oleh pengacaranya, Howard King.

"Pada hari saat pembunuhan massal terhadap 11 manusia di tangan 'nasionalis' gila, Anda memainkan lagunya yang berjudul Happy di depan banyak orang di sebuah acara politik di Indiana. Tidak ada yang 'menyenangkan' soal tragedi yang sedang dialami oleh negara kita pada Sabtu kemarin dan tak ada izin yang diberikan untuk memakai lagu ini untuk tujuan tersebut," tambah Pharrell.

3. R.E.M.

R.E.M. menjadi korban tim kampanye Trump berikutnya yang tidak peduli pada peringatan soal pelanggaran hak cipta. Pada Januari 2020, kelompok rock asal Georgia, Amerika Serikat, tersebut mengaku mempertimbangkan menempuh jalur hukum untuk membuat Trump jera.

Seperti dilaporkan Billboard, Trump memakai lagu Everybody Hurts dan Losing My Religion saat berkampanye di Milwaukee. Walau grup tersebut sudah bubar sejak 2011, tapi R.E.M. tetap menegaskan keberatan atas penggunaan lagu-lagu itu tanpa izin.

"Kami sadar bahwa Presiden @realDonaldTrump terus menggunakan musik kami di acara ralinya," tulis basis R.E.M. Mike Mills lewat Twitter. "Kami sedang mengeksplorasi semua jalur legal untuk mencegah ini, tapi jika itu tidak mungkin tolong ketahui bahwa kami tidak mengizinkan penggunaan musik kami oleh laki-laki curang dan suka menipu tersebut."

Bagi R.E.M., itu juga bukan pertama kalinya lagu mereka dipakai Trump. Pada Februari 2019, video kampanye Trump yang berisi cemoohan terhadap para rivalnya dari Partai Demokrat dihapus oleh Twitter. Ini lantaran video itu memakai lagu Everybody Hurts sebagai latar tanpa izin dari R.E.M.

Baca Juga: Donald Trump Membuat 20.000 Klaim Sesat Selama Jadi Presiden

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya