Comscore Tracker

Dilarang Tertawa! Tiongkok Haramkan Parodi Soal Komunisme

Di Indonesia ditakuti, di negaranya sana jadi parodi.

Beijing, IDN Times - Badan pengawas kebudayaan Tiongkok mengeluarkan peringatan kepada siapapun yang memparodikan tokoh maupun segala hal tentang komunisme. Dikutip dari Japan Times, pemerintah telah memberikan denda khusus kepada sejumlah situs yang melanggar aturan itu.

1. Dua situs didenda karena "menghina" karya klasik mengenai komunisme

Dilarang Tertawa! Tiongkok Haramkan Parodi Soal KomunismeAFP/Greg Baker

iQiyi dan Sina adalah situs video populer di Tiongkok. Namun, keduanya menerima denda dari pemerintah setelah dituduh "menghina" serta melakukan "distorsi" terhadap karya-karya klasik tentang komunisme. Denda itu dikeluarkan kurang dari dua minggu setelah aturan baru mengenai parodi secara online diharamkan.

Sayangnya, pemerintah sendiri tidak menyebutkan video mana yang dimaksud menghina tersebut. Selain dua situs itu, ada satu rumah produksi di kawasan Sichuan yang disebut menerima "denda tertinggi menurut hukum" karena membuat parodi sebuah lagu revolusioner, Yellow River Cantata.

Baca juga: Jadi Presiden Seumur Hidup, Xi Jinping Tegaskan Pentingnya Sosialisme

2. Pemerintah melarang berbagai situs melakukan perubahan apapun terhadap karya-karya tertentu

Dilarang Tertawa! Tiongkok Haramkan Parodi Soal KomunismeAFP/Greg Baker

Pada 22 Maret lalu pemerintah Tiongkok mengeluarkan aturan yang melarang pemilik dan pengelola situs-situs internet melakukan "penyuntingan, pengisian suara, atau menambahkan teks terjemahan di beragam karya klasik, radio dan program televisi, atau program audio-visual orisinil lainnya".

Untuk menjalankan itu, pemerintah telah menurunkan hampir 12.000 petugas yang wajib memantau konten-konten di internet. Badan sensor Tiongkok juga sudah menyelidiki lebih dari 7.800 situs dan ada lebih dari 230 pelanggaran yang ditemukan.

3. Aturan itu berdampak negatif terhadap para pembuat konten

Dilarang Tertawa! Tiongkok Haramkan Parodi Soal KomunismeAFP/Wang Zhao

Xi Jinping baru saja dinobatkan menjadi presiden Tiongkok seumur hidup. Salah satu dampak langsungnya adalah Partai Komunis yang semakin mencengkeram kebebasan publik. Aturan yang membatasi apa yang boleh diproduksi pembuat konten itu dianggap justru berdampak negatif.

Wu Jian, seorang analis dari Beijing, mengatakan kepada Reuters bahwa,"Kini artinya banyak pembuat konten harus melakukan transisi dan membuat konten mereka lebih serius. Mereka yang tak patuh, situsnya akan segera ditutup." 

Akibatnya, mereka tak lagi memiliki keleluasaan untuk berkreasi. Sebelumnya, pemerintah sudah menargetkan hip hop sebagai musuh karena dianggap menyebarkan nilai-nilai yang tak sesuai dengan kultur Tiongkok.

Dua pemenang kontes Rap of China, Wang Hao atau PG One, dan Zhou Yan atau GAI, menerima sanksi karena dianggap berperilaku buruk serta menyebarkan konten yang berlawanan dengan nilai-nilai Partai Komunis. GAI, misalnya, mendadak diberhentikan sebagai pengisi acara di salah satu stasiun TV.

PG One sempat dipaksa untuk meminta maaf karena liriknya dinilai menghina perempuan dan mendorong pemakaian narkotika. Setelah itu, media milik pemerintah, Xinhua, menulis bahwa ia "tidak layak mendapatkan panggung".

Baca Juga: Musik Hip-hop Jadi Musuh Baru Pemerintah Tiongkok

Topic:

Berita Terkini Lainnya