Comscore Tracker

Hakim di Singapura Jatuhkan Vonis Mati lewat Zoom

Kelompok HAM menilai ini cara yang kejam dan tidak manusiawi

Singapura, IDN Times - Pandemik COVID-19 turut mengubah tradisi dalam penyampaian vonis kasus yang biasanya dilakukan di ruang sidang. Setidaknya di Singapura, seorang hakim menjatuhkan vonis hukuman mati kepada seorang warga Malaysia lewat sebuah panggilan video dengan aplikasi Zoom.

Laki-laki Malaysia bernama Punithan Genasan itu dianggap terbukti bersalah karena terlibat dalam transaksi heroin pada 2011. Vonis sendiri dijatuhkan pada Jumat minggu lalu (15/5). Ini menjadi kasus kriminal pertama di Singapura di mana putusan final paling berat itu disampaikan secara jarak jauh.

1. Kejaksaan Agung Singapura mengaku melakukannya demi keselamatan semua pihak

Hakim di Singapura Jatuhkan Vonis Mati lewat ZoomPemandangan perahu yang nyaris kosong dekat Merlion Park, saat pariwisata mengalami penurunan curam akibat mewabahnya virus corona di Singapura, pada 26 Maret 2020. ANTARA FOTO/ REUTERS/Edgar Su

Menurut Kejaksaan Agung Singapura, situasi tak biasa ini mengharuskan pihaknya menyampaikan putusan lewat cara yang tak biasa pula. Oleh karena itu, hakim terpaksa melakukannya lewat video meski ganjaran atas perbuatan pelaku adalah hukuman mati.

"Demi keselamatan semua yang terlibat dalam agenda ini, persidangan untuk Jaksa Penuntut Umum melawan Punithan A/L Genasan dilakukan melalui konferensi video," kata juru bicara Kejaksaan Agung Singapura kepada Reuters.

Baca Juga: Singapura Catat 799 Kasus COVID-19 Baru, Mayoritas Buruh Migran

2. Terpidana mengaku tidak keberatan dengan teknis penyampaian vonis

Hakim di Singapura Jatuhkan Vonis Mati lewat ZoomPemandangan Merlion Park dengan kursi dan meja kosong saat Singapura, pada 26 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su

Menurut pengacara Genasan, Peter Fernando, kliennya tidak mempersoalkan bagaimana cara hakim menyampaikan vonis. Ini karena agendanya adalah hanya mendengarkan putusan dan bisa didengar dengan jelas. Pihaknya tak perlu memberikan argumen hukum pada hari itu. Fernando juga mengungkap bahwa Genasan akan mengajukan banding.

Kelompok HAM di Singapura sendiri memprotes penggunaan Zoom dalam menjatuhkan vonis hukuman mati. Human Rights Watch (HRW) juga mengkritik masih berlakunya hukuman mati di negara tersebut yang tak hanya berlaku bagi warga sendiri, tapi juga asing.

"Penggunaan hukuman mati di Singapura jelas kejam dan tak manusiawi, dan pemakaian teknologi jarak jauh seperti Zoom untuk menjatuhkan hukuman mati kepada seseorang membuatnya semakin kejam," kata Phil Robertson, Deputi Direktur HRW di Asia.

3. Singapura memberlakukan lockdown sehingga banyak proses persidangan yang tertunda

Hakim di Singapura Jatuhkan Vonis Mati lewat ZoomAnggota medis membantu pekerja migran masuk ke ambulans di Singapura, pada 24 April 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su

Sejak memberlakukan lockdown pada awal April dan kemungkinan berakhir pada 1 Juni mendatang, banyak proses persidangan di Singapura yang harus ditunda. Sedangkan untuk kasus-kasus yang dirasa sangat mendesak dan penting, agenda disampaikan melalui jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi.

Di dunia, ini bukan pertama kalinya hukuman mati diumumkan kepada pelaku lewat Zoom. Pada awal Mei lalu, sebuah persidangan virtual dilangsungkan di Nigeria di mana seorang laki-laki bernama Olalekan Hameed dinyatakan bersalah telah membunuh atasan ibunya. Kejahatan terjadi pada 2018.

Menurut laporan CNN, hakim menyampaikan vonis dari ruang sidang di Lagos, sedangkan terpidana berada di dalam penjara. Pengacaranya juga menghadiri penyampaian vonis secara virtual. Amnesty International pun menilai cara ini sebagai sesuatu yang buruk. Kelompok HAM itu mempertanyakan etika penyampaian vonis mati lewat jarak jauh.

Dalam sebuah pernyataan, Direktur Amnesty International di Nigeria Osai Ojigho mempersoalkan proses pengambilan keputusan tentang teknis persidangan. "Dalam kasus ini, apakah putusan tidak bisa ditunda lain waktu?" tanya Ojigho.

Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Tenaga Kesehatan Singapura Minim Terpapar COVID-19

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya