Comscore Tracker

India Jadi Bukti Warga Miskin Paling Rentan Saat Ada Lockdown

Warga miskin lebih takut lapar daripada virus corona

New Delhi, IDN Times - Pemerintah India memberlakukan lockdown atau karantina secara nasional sejak 24 Maret lalu. Kebijakan ini berlaku selama 21 hari dan berdampak terhadap kurang lebih 1,3 miliar warga. India kini menjadi negara dengan populasi terbesar yang melakukan lockdown.

Namun, ada harga yang harus dibayar mahal oleh kelompok warga miskin, termasuk para pekerja migran di kota-kota besar yang berasal dari daerah-daerah kecil. Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu meninggalkan New Delhi dengan menggunakan bus, bahkan ribuan lainnya memilih berjalan kaki.

1. Lockdown dilakukan secara mendadak sehingga menimbulkan kepanikan

India Jadi Bukti Warga Miskin Paling Rentan Saat Ada LockdownPekerja migran memadati terminal bus untuk kembali ke kampung halaman mereka saat diberlakukan lockdown 21 hari secara nasional untuk menekan penyebaran virus corona, di Ghaziabad, pinggiran New Delhi, India, pada 28 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Anushree Fadnavis

Baca Juga: Tak Cermat Lakukan Lockdown, India Alami Kekacauan di Dalam Negeri

Pengumuman lockdown yang dilakukan oleh Perdana Menteri Narendra Modi terbilang sangat mendadak. Ia hanya memberikan batas waktu empat jam kepada masyarakat sebelum negara berpenduduk terbesar kedua di dunia itu harus menuruti peraturan untuk tinggal di rumah.

Alhasil, banyak warga yang panik, apalagi mereka yang kehilangan pekerjaan sehingga tidak mendapatkan penghasilan. Dengan situasi ini, mereka buru-buru membereskan barang-barang dan menuju kampung halaman. Beberapa berdesak-desakkan di dalam bus, lainnya nekat berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya. Ada yang sendiri, ada yang harus membawa anak.

Dikutip AFP, polisi mengatakan ada empat migran yang tewas pada Sabtu (28/3) karena tertabrak truk saat akan menuju asal mereka. Pada hari yang sama, seorang migran juga pingsan, kemudian meninggal dunia. Mereka pun tak menghiraukan instruksi untuk menjaga jarak karena virus corona bukan yang mereka takuti.

"Anda takut penyakit, jadi gelandangan. Tapi saya lebih takut kelaparan, bukan [virus] corona," kata seorang migran bernama Papu kepada The New York Times. Ia mengaku tiba di New Delhi tiga minggu lalu untuk mencari kerja. Kini ia terpaksa kembali pulang kampung karena tak punya tempat tinggal dan penghasilan.

2. Pemerintah dianggap gagal mengantisipasi situasi terburuk dan gagap dalam merespons perkembangan kondisi

India Jadi Bukti Warga Miskin Paling Rentan Saat Ada LockdownPara pekerja migran dan keluarganya berlari di belakang bus saat mereka kembali ke desa mereka saat lockdown nasional selama 21 hari di Ghaziabad, pinggiran kota New Delhi, India, pada 29 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi

Lockdown memang tidak semudah hanya berdiam diri di dalam rumah. Masyarakat miskin yang setiap hari menggantungkan hidupnya dari kerja serabutan atau harian sulit untuk mengerti, mengapa mereka harus mengikuti instruksi pemerintah ketika mereka tidak tahu apakah besok bisa makan atau apakah anak mereka bisa minum susu.

Sundaraman dari People's Health Movement, sebuah jaringan akar rumput global yang terdiri dari akademisi, aktivis kesehatan dan masyarakat madani, menilai pemerintah telah salah dalam menerapkan kebijakan lockdown. "Yang benar-benar mengkhawatirkan adalah migrasi besar-besaran telah dimulai di berbagai penjuru negeri," ucapnya kepada Al Jazeera.

"Anda tidak bisa menghentikan transportasi publik begitu saja seperti itu. Lockdown seharusnya dilakukan secara bertahap. Orang-orang tidak boleh terlantar tanpa penghasilan, tanpa pekerjaan. Bahkan di negara otoriter, mereka tahu ini adalah sesuatu yang harus dilakukan negara," tegasnya.

Human Rights Watch pun ikut bersuara. Dalam sebuah rilis pers, Direktur Asia Selatan Meenakshi Ganguly mengingatkan pemerintah harus menyeimbangkan antara pengendalian virus corona dengan perlindungan hak asasi manusia. Jika tidak, alih-alih membaik, situasi di India justru akan memburuk.

"Pemerintah India menghadapi tantangan luar biasa untuk melindungi lebih dari satu miliar orang yang tinggal berdesakkan, tapi peningkatan upaya untuk mencegah penyebaran virus corona di India perlu menyertakan perlindungan hak," kata Ganguly. 

"Otoritas setempat wajib menyadari bahwa malnutrisi dan penyakit yang tak terawat akan memperburuk masalah dan wajib mematiskan bahwa kelompok paling marjinal tidak menanggung beban tak adil akibat ketiadaan suplai esensial," tambahnya, merujuk kepada kebutuhan makan, minum dan tempat tinggal.

3. Perdana Menteri Narendra Modi meminta maaf kepada publik atas kekacauan ini

India Jadi Bukti Warga Miskin Paling Rentan Saat Ada LockdownPekerja migran bergantungan ke sebuah pintu bus yang bergerak saat mereka kembali ke desa mereka di tengah lockdown nasional selama 21 hari di Ghaziabad, pinggiran kota New Delhi, India, pada 29 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi

Kekacauan diperparah dengan tidak adanya koordinasi jelas antara pemerintah pusat dan negara bagian. The New York Times melaporkan dari 36 negara bagian, hanya satu yaitu Uttar Pradesh, yang berencana membawa warganya pulang dari New Delhi pada akhir pekan kemarin. Pemerintah mengumumkan ada 1.000 bus yang akan mengantar mereka kembali ke asal.

Ribuan migran mengantre di pinggiran New Delhi. Bus yang tersedia kurang dari yang dijanjikan. Banyak yang dipaksa pergi dari lokasi. Dalam hitungan jam, pemerintah pusat menginstruksikan pemerintah negara bagian untuk menutup perbatasan. Pekerja migran dilarang meninggalkan tempat. Mereka yang kebingungan di jalan jadi target kekerasan aparat keamanan yang siap melayangkan pentungan.

#ModiMadeDisaster atau bencana yang dibuat oleh Modi jadi trending topic di Twitter pada hari tersebut. "Pemerintah tak punya rencana cadangan yang bisa digunakan untuk eksodus ini," cuit politisi India Rahul Gandhi. "Kami akan mati karena berjalan kaki dan kelaparan sebelum dibunuh oleh [virus] corona," ucap seorang migran bernama Madhav Raj kepada Reuters.

Modi akhirnya meminta maaf. "Pertama saya ingin memohon maaf kepada seluruh masyarakat," kata Modi dalam sebuah siaran radio. Menurutnya, warga miskin India "pasti bertanya-tanya Perdana Menteri macam apa yang membuat kita harus melalui begitu banyak masalah". Namun, ia berharap publik mengerti bahwa tak ada alternatif lain.

Sampai kini, India melaporkan lebih dari 1.000 kasus virus corona di mana 27 di antaranya meninggal dunia. Pemerintah sendiri menggelontorkan paket stimulus sebesar Rp370 triliun yang beberapa akan ditransfer untuk warga miskin dan guna menyediakan makanan untuk mereka. Tanpa memperhatikan kebutuhan dasar mereka, pemerintah jangan berharap instruksi lockdown akan ditaati tanpa persoalan.

Baca Juga: 10 FOTO Suasana India Saat Lockdown yang Berujung Kekacauan

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya