Comscore Tracker

Pejabat Selandia Baru Sebut Facebook Tidak Bisa Dipercaya

Facebook tayangkan live streaming penembakan Christchurch

Wellington, IDN Times - Komisioner Privasi Selandia Baru John Edwards menyerang Facebook karena sempat menayangkan live streaming penembakan di Christchurch pada Jumat (15/3). Melalui Twitter, Edwards menyebut Facebook "pembohong patologis yang bobrok secara moral".

Ia mengikuti langkah Perdana Menteri Jacinda Ardern yang mengecam Facebook karena lalai, sehingga video penembakan itu tersebar ke berbagai media sosial dan ditonton khalayak. Penembakan yang diduga dilakukan warga Australia bernama Brenton Tarrant itu menewaskan 50 orang.

Baca Juga: Facebook Luncurkan Fitur Info untuk Kandidat Caleg di Pemilu 2019

1. Edwards mengatakan "Facebook tak bisa dipercaya"

Pejabat Selandia Baru Sebut Facebook Tidak Bisa Dipercayaunsplash.com/William Iven

Menurut Edwards, banyak kelalaian yang sudah dilakukan Facebook dan mengakibatkan kerugian besar terhadap masyarakat.

"Facebook tak bisa dipercaya," tulis dia. "Mereka adalah pembohong patologis yang bobrok secara moral, yang memungkinkan genosida (Myanmar), memfasilitasi pihak-pihak asing yang melemahkan institusi-institusi demokratis."

"[Mereka] memungkinkan penayangan bunuh diri, pemerkosaan, dan pembunuhan secara live, terus menyimpan dan mempublikasikan video penyerangan di masjid, meloloskan pengiklan untuk menargetkan 'pembenci Yahudi' dan segmen pasar penuh kebencian lainnya, serta menolak menerima tanggung jawab apa pun atas konten atau kerugian yang dibuat," kata Edward, melanjutkan.

2. Edwards berpendapat Mark Zuckerberg tidak peduli soal tanggung jawab Facebook

Pejabat Selandia Baru Sebut Facebook Tidak Bisa DipercayaANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su

Setelah itu, ia menulis cuitan "They #don'tgiveazuck" yang merupakan permainan kata dari "mereka tidak peduli" dan nama pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Edwards mengaku kecewa atas komentar Zuckerberg ketika ia diwawancarai stasiun televisi Amerika Serikat ABC.

Ia gagal menerapkan perubahan yang dibutuhkan, terutama soal menunda live streaming agar tak setiap video bisa dengan mudah ditayangkan. Namun, salah satu orang terkaya di dunia itu mengatakan penyerangan masjid di Christchurch adalah hasil dari "aktor-aktor buruk", bukan teknologi. Ia menegaskan penundaan penayangan live streaming merugikan pengguna Facebook saat mau membagikan momen bahagia.

Baca Juga: Penembakan di Christchurch, PM Selandia Baru Tolak Sebut Nama Pelaku

3. Edwards percaya teknologi bisa menyebabkan kerugian bagi publik

Pejabat Selandia Baru Sebut Facebook Tidak Bisa DipercayaANTARA FOTO/REUTERS/Jason Lee

Saat wawancara dengan RNZ, Edwards menyatakan rasa tidak setuju dengan pendirian Zuckerberg. "Ini adalah sebuah teknologi yang mampu menyebabkan kerugian sangat besar," ucapnya. Apa yang diungkapkan Edwards senada dengan pernyataan Ardern.

Dalam pidato pertamanya di parlemen usai penembakan, ia menyinggung tentang peran media sosial dalam menyebarluaskan video penembakan hingga beberapa hari setelah kejadian. Menurutnya, ini sungguh tidak layak apalagi media sosial "bukan tukang pos" yang hanya sekadar mengirim pesan.

4. Ardern ingin media sosial lebih berkomitmen memerangi penyebaran video penembakan

Pejabat Selandia Baru Sebut Facebook Tidak Bisa DipercayaANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su

Ia kecewa dengan peran media sosial dalam menyebarluaskan video penembakan hingga beberapa hari setelah kejadian. Menurutnya, ini sungguh tidak layak apalagi media sosial "bukan tukang pos" yang hanya sekadar mengirim pesan.

"Kita tidak bisa diam saja dan menerima bahwa platform-platform ini sekadar hadir dan apa yang dikatakan di situ bukan tanggung jawab tempat yang mempublikasikannya," tegas Ardern.

5. Facebook sempat mengaku sudah menghapus video-video tersebut

Pejabat Selandia Baru Sebut Facebook Tidak Bisa DipercayaANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva

Salah satu yang beredar luas adalah potongan video live streaming Tarrant yang diunggah ke Facebook. Potongan video itu kemudian disebar juga ke platform lain yang dimiliki Mark Zuckerberg, misalnya Instagram.

Facebook sendiri mengaku sudah mengaku sudah menghapus 1,5 juta video penembakan dalam 24 jam pertama usai kejadian. Ardern berkata sudah berkomunikasi dengan Facebook dan menegaskan potongan video itu "tidak bisa, tidak seharusnya, disebarluaskan, diakses, bahkan bisa ditonton".

Baca Juga: Selandia Baru Kritik Erdogan karena Tayangkan Video Penembakan

Topic:

  • Rochmanudin

Just For You