Comscore Tracker

Tak Cuma di AS, Paris Sampai Tokyo Juga Protes Kematian George Floyd

Rasisme dan brutalisme polisi ada di mana-mana

Minneapolis, IDN Times - Kematian seorang pria kulit hitam di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat bernama George Floyd pada minggu lalu menimbulkan protes besar di negara tersebut. Menurut laporan NBC News, masyarakat di berbagai kota di 50 negara bagian Amerika Serikat turun ke jalan untuk meminta keadilan atas kematian Floyd dan banyak orang kulit hitam lainnya, serta menuntut berakhirnya rasisme dan brutalisme polisi.

Rupanya, gelombang protes ini juga menyulut reaksi warga di belahan dunia lain. Ratusan orang di Paris, Prancis, turun ke jalan untuk menyuarakan keprihatinan mereka terhadap diskriminasi berbasis ras, terutama oleh negara dan aparat. Begitu juga dengan orang-orang di Selandia Baru, Jepang, Jerman dan Irlandia yang mengungkapkan solidaritas mereka terhadap kelompok minoritas kulit hitam.

1. Demonstrasi di Paris turut berlangsung untuk mengenang kematian laki-laki kulit Prancis

Mengutip The Guardian, ada sekitar 20.000 orang yang berunjuk rasa di Paris pada Selasa (2/6) waktu setempat. Mereka tak hanya menggaungkan nama Floyd, tapi juga Adama Traore. Warga Prancis mengetahui Traore sebagai laki-laki kulit hitam yang meninggal saat ditahan oleh polisi pada 2016.

Menggunakan tagar #BlackLivesMatter dalam poster-poster, mereka meminta agar kekerasan dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam diakhiri. “Hari ini kita tak hanya bicara soal perjuangan keluarga Traore. Ini adalah perjuangan bagi setiap orang. Saat kita berjuang untuk George Floyd, kita berjuang untuk Adama Traore,” kata saudara perempuan Traore di hadapan massa.

Sama seperti Floyd, hasil otopsi Traore juga diperdebatkan. Medis yang diutus otoritas mengatakan Traore meninggal karena gagal jantung. Sedangkan otopsi mandiri yang diminta keluarga menyebut ia tewas akibat ditindih oleh tiga polisi yang menangkapnya sehingga tak bisa bernapas.

Baca Juga: KJRI LA Imbau WNI Tak Perlu Ikut-Ikutan Aksi Demo Soal George Floyd

2. Tiga kota di Selandia Baru jadi lokasi protes yang kemudian dikritik oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern

Di Selandia Baru, protes berlangsung di tiga kota yaitu Wellington, Auckland dan Christchurch pada Senin (1/6). Berdasarkan laporan NZHerald, ada ribuan yang ikut berunjuk rasa di jalan dengan membawa poster-poster serta meneriakkan yel-yel anti-rasisme serta kekerasan oleh kepolisian tak hanya terhadap warga kulit hitam, tapi juga warga asli Selandia Baru.

Foto-foto yang beredar di media sosial juga memperlihatkan demonstran membakar topi MAGA (Make America Great Again) yang jadi atribut kampanye Donald Trump. Seorang guru disebut memakai topi itu saat mengikuti protes yang kemudian memunculkan kritik dari berbagai pihak.

Aksi melawan rasisme dan brutalisme polisi itu tak luput dari perdebatan mengenai jaga jarak fisik di tengah pandemik COVID-19. Perdana Menteri Jacinda Ardern menilai mereka berlaku tak adil bagi warga yang patuh terhadap aturan agar tak berkumpul di keramaian. “Mereka telah melanggar aturan. Itu tidak benar,” kata Ardern, seperti dikutip SBS.

“Saya sangat mengerti sentimen di balik itu (protes), apa yang mereka perjuangkan dan apa yang mereka lawan,” lanjutnya. “Yang saya minta adalah saat kita masih dalam pandemik di Selandia Baru dan kita berusaha menjaga satu sama lain tetap selamat, kita perlu mencari cara lain untuk mengungkapkan solidaritas itu.”

Baca Juga: Unjuk Rasa George Floyd Diprediksi Picu Banyak Kasus Baru COVID-19

3. Ribuan orang di Irlandia melakukan protes di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat

Demonstrasi yang terjadi di Dublin pada awal pekan ini diikuti oleh setidaknya 5.000 orang, begitu bunyi laporan The Irish Times. Ratusan lainnya turun ke jalanan di Belfast. Mayoritas yang berpartisipasi adalah warga muda berusia antara 16 hingga 30 tahun. Mereka meneriakkan yel-yel Black Lives Matter untuk mendukung gerakan kulit hitam yang awalnya muncul di Amerika Serikat itu.

Unjuk rasa di Dublin sendiri berakhir di depan gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat. Sedangkan pada Minggu (31/5), doa bersama digelar di Belfast untuk mengenang para korban rasisme dan brutalisme polisi di seluruh dunia. Sama seperti di Selandia Baru, protes di Irlandia juga diwarnai kontroversi soal aturan jaga jarak.

4. Tak hanya warga turun ke jalan, protes di Jerman juga dilakukan oleh pesepak bola Bundesliga

Berlin tak ketinggalan untuk menyuarakan keprihatinan mereka terhadap rasisme sistemik yang terjadi di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Pada akhir pekan, ribuan orang memadati jalan untuk mendukung gerakan Black Lives Matter. Seperti dilaporkan Deutsche Welle, demonstran membawa poster bertuliskan “Jangan bunuh kami” dan “Keadilan bagi George Floyd”.

Sejumlah seniman jalanan pun turut berpartisipasi dengan membuat mural Floyd pada bekas tembok Berlin yang terkenal itu. Bahkan, protes sampai ke lapangan hijau di mana pemain Borussia Dortmund, Jadon Sancho, dan pemain Borussia Monchengladbach, Marcus Thuram, memberikan tribute masing-masing.

“Dia membuat sebuah tanda melawan rasisme, satu yang kita semua benar-benar dukung. Saya percaya setiap orang mendukung penuh, setiap orang berpikir sama dengannya,” kata pelatih Monchengladbach Marco Rose yang mengomentari aksi berlutut Thuram. Sedangkan Sancho memilih selebrasi dengan memperlihatkan kaos bertuliskan “Keadilan bagi George Floyd”.

5. Shibuya jadi pusat protes terhadap brutalisme polisi dan tuntutan keadilan bagi Floyd

Video-video juga bermunculan di media sosial yang menunjukkan ratusan warga Jepang berdemonstrasi di depan kantor polisi Shibuya pada Sabtu (30/5). The Guardian melaporkan demonstrasi itu terjadi setelah video dua orang polisi menginterogasi seorang laki-laki Kurdi di jalan dengan kekerasan menjadi viral.

Sebanyak 200-an warga lokal dan asing mengecam sikap polisi yang dianggap rasis tersebut. Mereka juga menuntut keadilan atas kematian Floyd di tangan polisi. Laki-laki Kurdi itu sendiri dituding melanggar lalu lintas dan dua polisi memaksanya berlutut di tanah sambil kedua tangannya ditahan dengan kuat.

Baca Juga: FIFA Dukung Solidaritas Pemain Bundesliga untuk George Floyd  

Topic:

  • Dwifantya Aquina
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya