Comscore Tracker

Saat Twitter Jadi "Medan Perang" Antara Iran dan Amerika Serikat

Ayatollah Khamenei menuding ada "musuh Iran" di balik protes anti-pemerintah.

Tehran, IDN Times - Protes anti-pemerintah di Iran memasuki hari ketujuh. Tak hanya terpusat di ibu kota Tehran, protes tersebut juga terjadi beberapa kota lainnya. Hingga Selasa waktu setempat (2/1), korban tewas sudah mencapai 21 orang. Pertempuran tak hanya terjadi di dunia nyata, dua pihak yang berseteru juga terlibat adu cuitan di jagat maya.

1. Iran menuding ada "musuh asing" yang menggerakkan protes itu

Saat Twitter Jadi Medan Perang Antara Iran dan Amerika SerikatTwitter.com/khamenei_ir

Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengunggah sebuah cuitan untuk merespons protes masyarakat. Ia secara terang-terangan menyalahkan "musuh" Iran sebagai pihak yang berada di balik protes itu. Meski demikian, ia tidak menyebutkan siapa saja yang dimaksud.

"Dalam kejadian baru-baru ini, para musuh Iran telah bersekongkol & memanfaatkan beragam cara yang mereka punya, termasuk uang, senjata, politik dan intelijen, untuk membuat Republik Islam bermasalah. Musuh itu selalu mencari sebuah kesempatan & celah apapun untuk menginfiltrasi & menyerang bangsa Iran," tulisnya melalui Twitter pada Selasa (2/1).

Baca Juga: Demonstrasi Anti Pemerintah Terjadi di Iran, 50 Orang Lebih Ditahan

2. Trump berkomentar tentang situasi dalam negeri Iran di media sosial

Saat Twitter Jadi Medan Perang Antara Iran dan Amerika Serikattwitter.com/realDonaldTrump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkomentar di Twitter mengenai kondisi negara yang sangat dimusuhinya itu. Ia memberikan pujian kepada warga Iran karena telah menentang pemerintah yang disebutnya melanggar hak asasi manusia. Trump juga menyalahkan Obama.

"Masyarakat Iran akhirnya bertindak melawan rezim Iran yang brutal dan korup. Semua uang yang dengan bodohnya Presiden Obama berikan masuk ke terorisme dan "kantong-kantong" mereka sendiri. Warga tak punya cukup makanan, ada inflasi besar dan tak ada hak asasi manusia. Amerika Serikat menyaksikan!," tulisnya.

3. Mike Pence juga menggunakan Twitter untuk memberikan komentar

Saat Twitter Jadi Medan Perang Antara Iran dan Amerika SerikatTwitter.com/VP

Selang beberapa saat setelah Trump mengunggah cuitannya, Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, juga mengatakan sesuatu melalui Twitter. Isi komentarnya pun hampir senada dengan Trump yang menyebut pemerintah Iran terlibat terorisme dan tak peduli pada warganya.

Ia menulis,"Kita butuh orang-orang cinta dama di manapun untuk berdiri bersama warga Iran & melawan Pasukan Penjaga Revolusioner Iran—yang membatasi kebebasan dasar & mencuri uang Iran untuk mendukung terorisme di luar negeri alih-alih membantu warga Iran yang bekerja keras di negaranya."

4. Menteri Luar Negeri Iran ikut menyindir Trump dan negara-negara kawasan dengan keras

Saat Twitter Jadi Medan Perang Antara Iran dan Amerika SerikatTwitter.com/Jzarif

Orang penting berikutnya yang menggunakan Twitter untuk berkomentar adalah Javad Zarif. Menteri luar negeri Iran itu mengeluarkan sindiran untuk Trump dan beberapa negara yang ia anggap dekat dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

"Keamanan dan stabilitas Iran bergantung kepada masyarakat sendiri, yang—tak seperti warga dari "sahabat-sahabat" regional Trump—memiliki hak untuk memilih dan melakukan protes. Hak-hak yang diperjuangkan dengan susah payah ini akan dilindungi dan para penyusup tak akan diizinkan untuk menyabotasenya melalui kekerasan dan pengrusakan," tulis mantan duta besar Iran untuk PBB itu.

5. Protes dilakukan warga untuk menyuarakan rasa frustrasi terhadap kondisi Iran

Saat Twitter Jadi Medan Perang Antara Iran dan Amerika SerikatANTARA FOTO/President.ir/Handout via REUTERS

Dikutip dari The New York Times, para peserta protes didominasi oleh anak-anak muda Iran di area-area pinggiran serta kota-kota kecil yang menyebut pemerintah tidak becus mengurus perekonomian. Beberapa pengamat memperkirakan tingkat pengangguran di Iran adalah 40 persen, yang berarti hampir separuh populasi tidak memiliki mata pencaharian.

Mereka juga meyakini kemarahan publik diawali ketika proposal anggaran pemerintah bocor pada Desember lalu. Untuk pertama kalinya, apa saja yang terdapat dalam proposal anggaran negara bisa diketahui publik.

Mereka geram ketika mendapati bahwa miliaran dolar uang dialokasikan untuk beberapa organisasi garis keras, militer serta yayasan-yayasan keagamaan. Untuk yang terakhir, ada dugaan kuat itu dimanfaatkan untuk memperkaya para ulama elit Iran.

Di sisi lain, proposal itu berisi usulan untuk mengakhiri subsidi tunai untuk jutaan warga, meningkatkan harga bahan bakar dan privatisasi sekolah-sekolah negeri. Reaksi awal publik disalurkan melalui layanan seperti Telegram—yang kini diblokir pemerintah—dan kemudian menjalar ke jalanan.

Baca Juga: Qatar Terkucil, Iran Kirim 5 Pesawat Berisi Makanan

Topic:

Just For You