Comscore Tracker

Ini Penyebab Luhut Batal Bertemu Bos Tesla di Amerika Serikat

Luhut juga sempat bertemu dengan Presiden Trump di AS

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dipastikan batal bertemu bos Tesla, Elon Musk dalam kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat pada pekan ini. Pertemuan itu batal dilakukan karena Musk terkonfirmasi tertular COVID-19. 

VOA Indonesia Rabu, 18 November 2020 melaporkan, alasan di balik batalnya pertemuan mereka, karena Musk terpapar penyakit yang dipicu virus Sars-CoV-2. Juru bicara Menko Marves, Jodi Mahardi mengatakan belum ada lagi pertemuan lainnya dengan Tesla selama Luhut berada di Negeri Paman Sam. 

"Gak jadi (bertemu). Kan dia (Elon Musk) terkena COVID-19," kata Jodi ketika dikonfirmasi hari ini. 

Padahal, menurut laporan kantor berita Reuters, Luhut yang didampingi Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar diutus khusus oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo untuk menemui bos Tesla tersebut. "(Pertemuan ini) sangat penting, karena kami memiliki sebuah rencana besar untuk membuat Indonesia menjadi produsen terbesar untuk komoditas baterai litium dan kami memiliki cadangan nikel terbesar," tutur Jokowi ketika itu. 

Kepada Reuters, pada Jumat, 13 November 2020 lalu, Luhut tak bersedia berbicara banyak mengenai pertemuan dengan para petinggi Tesla. Namun, ia mengatakan ada peluang bahwa Tesla berminat untuk berinvestasi di proses pembuatan nikel di Indonesia untuk memotong biaya. 

Bila tidak bertemu Tesla, lalu siapa saja yang hendak ditemui Luhut selama kunjungan kerja di Negeri Paman Sam?

1. Menko Luhut sempat bertemu dengan Presiden Donald Trump dan Wapres Mike Pence

Ini Penyebab Luhut Batal Bertemu Bos Tesla di Amerika SerikatMenko Luhut Pandjaitan ketika bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih (Dokumentasi Kemenko Marves)

Di dalam keterangan tertulisnya, Menko Luhut sempat menyambangi Gedung Putih pada Selasa, 17 November 2020 untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump. Di dalam pertemuan itu, Luhut menyampaikan salam dan ucapan terima kasih Presiden Joko Widodo atas kerja samanya selama ini. Dia menyebut jika Jokowi juga menyampaikan penilaian positif atas peningkatan hubungan ekonomi kedua negara. 

Selain bertemu Trump, Menko Luhut juga sempat bertemu dengan Wapres, Mike Pence. Di kantor Pence, AS menawarkan kerja sama produksi vaksin bersama antara perusahaan farmasi di Negeri Paman Sam dengan Indonesia. 

Luhut juga menemui Penasihat Keamanan Nasional (NSA) Robert O'Brien. Keduanya membahas mengenai kemitraan strategis antara Indonesia dengan AS di bidang pertahanan dan teknologi. Luhut dan O'Brien juga bertukar pandangan mengenai geopolitik global. 

Jokowi diketahui sudah mengucapkan selama secara terbuka kepada Joe Biden sebagai pemenang pemilu 3 November 2020. Meski Trump hingga saat ini masih membantah menerima hasil itu. Namun, Luhut menyampaikan pesan Jokowi agar pertemanan tetap dijaga. 

"Saya atas nama Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Donald Trump. Apapun hasil resmi pemilu AS, kita ini akan selalu menjadi kawan," ujar pria yang sempat menjadi Menko Polhukam itu. 

Baca Juga: Keren! Elon Musk Ekspansi ke Jateng, Bangun Pabrik Tesla di Batang

2. Luhut sempat berdialog dengan Direktur IMF dan Presden Bank Dunia di gedung KBRI

Ini Penyebab Luhut Batal Bertemu Bos Tesla di Amerika SerikatMenko Luhut Pandjaitan usai berdialog dengan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva (Dokumentasi Kemenko Marves)

Sementara, pada Senin, 16 November 2020 lalu Menko Luhut melakukan pertemuan dengan beberapa pihak, yakni CEO Conservation International, M Sanjayan, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, Presiden Bank Dunia, David Malpass, dan Perwakilan USTR, Robert Lightizer. 

Dalam pertemuan dengan CEO CI, keterangan tertulis dari Kemenko Marves menyebut Indonesia merupakan negara yang terbaik dalam menangani aset hutan. Luhut dan Sanjayan sempat berdiskus mengenai peluang pendanaan bersama dengan mitra swasta untuk program konservasi dan restorasi untuk kredit karbon baik di kawasan pesisir dan darat.

"Sanjayan mengakui bahwa Brasil, Republik Demokratik Kongo dan Indonesia merupakan negara kunci karena aset yang dimiliki," kata Luhut. 

Saat melakukan pertemuan dengan IMF, Indonesia sempat mendapatkan pujian dari organisasi moneter, karena pemerintah dinilai berhasil menerapkan disiplin fiskal yang baik. Sehingga, saat krisis bisa mengeluarkan stimulus tanpa meningkatkan beban utang secara signifikan. 

Sedangan, dalam pertemuannya dengan Bank Dunia, Luhut sempat memberikan penjelasan mengenai penerapan UU Cipta Kerja. Luhut kembali membanggakan UU yang diprotes luas di dalam negeri itu, sebagai aturan yang akan memberi manfaat bagi rakyat Indonesia. 

"Saya sangat senang bisa mendiskusikan Omnibus Law tentang penciptaan kerja dengan Menteri Pandjaitan yang implementasinya akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia," tutur David Malpass. 

3. CEO Tesla Elon Musk mengakui tertular COVID-19

Ini Penyebab Luhut Batal Bertemu Bos Tesla di Amerika SerikatCEO Tesla, Elon Musk (www.instagram.com/@elonmusk)

Bos Tesla, Elon Musk menjadi satu dari beberapa CEO yang sempat mengaku secara terbuka terpapar COVID-19. Namun, ia sempat meragukan hasil tes yang telah dilalui. Melalui cuitannya pada Jumat, 13 November 2020, Musk mengaku sempat menjalani empat kali tes. 

"Hasil dua tes menunjukkan negatif, sedangkan dua tes lainnya menunjukkan hasil positif. Ini diperoleh dari mesin yang sama, tes yang sama dan perawat yang sama. Tes rapid antigen dari BD," demikian cuit Musk pekan lalu. 

Keraguan Musk terhadap hasil tesnya disambut dengan komentar senada dari warganet di media sosial. Mereka mengatakan tingkat positif dari tes COVID-19 memiliki peluang besar untuk keliru. Diagnosa yang diperoleh pun berpotensi besar keliru. 

Sebagian dari mereka yang membuat klaim tersebut adalah orang-orang yang sejak awal telah menentang kebijakan karantina wilayah atau lockdown. Musk sendiri termasuk orang yang kerap meremehkan dampak bahaya COVID-19. 

Harian Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada Sabtu, 14 November 2020 lalu bahwa Musk kembali melakukan tes swab dan hasilnya keluar pada Minggu kemarin.

"Hampir tidak ada gejala hari ini, semoga bisa memperoleh hasil yang lebih baik," kata Musk di akun media sosialnya. 

Namun, setelah itu, ia tak menyampaikan hasil tes swab tersebut ke publik. Bila dilihat dari gejala yang dialami, Musk mengatakan hanya mengalami batuk ringan dan deman ringan selama beberapa hari terakhir. 

Meski meremehkan pandemik, pada Maret lalu Musk pernah menyampaikan prediksinya bahwa kasus COVID-19 tidak akan lagi muncul di AS pada akhir April. Namun, kenyataannya, AS kini menjadi episentrum dunia COVID-19. 

Di bulan Maret, Musk juga pernah menyebut rasa panik di benak publik justru jauh lebih berbahaya ketimbang virus corona itu sendiri.

"Tapi, itu pun bila kepanikan benar-benar sudah menyebabkan rasa bahaya bagi publik," katanya. 

Baca Juga: Punya Harta Rp1.453 Triliun, Elon Musk Masuk Jajaran Orang Kaya Dunia

Topic:

  • Ilyas Listianto Mujib

Berita Terkini Lainnya