Comscore Tracker

Mampu Kendalikan COVID-19, Selandia Baru Ogah Segera Lakukan Vaksinasi

Selandia Baru mulai vaksinasi pada April 2021

Jakarta, IDN Times - Otoritas Selandia Baru memiliki strategi yang berbeda mengenai vaksinasi COVID-19. Bila negara lain termasuk Indonesia ingin vaksinasi bisa dilakukan secepatnya, maka Selandia Baru memilih menundanya.

Selandia Baru berencana mulai vaksinasi pada April 2021. Saat itu dilakukan, maka Pemerintah Selandia Baru tak akan mengeluarkan izin darurat penggunaan (EUA) vaksin. Artinya, vaksin COVID-19 yang diterima warga Selandia Baru telah rampung melalui uji klinis tahap ketiga. 

Laman Stuff Selandia Baru, Rabu, 20 Januari 2021 melaporkan, Perdana Menteru Jacinda Ardern mengonfirmasi hal tersebut. Dalam siaran daring melalui Facebook perdana di tahun 2021, Ardern menyatakan saat ini ada lebih banyak negara lain yang membutuhkan vaksin COVID-19. Sehingga, negara-negara tersebut lebih layak untuk diprioritaskan menerima vaksin COVID-19. 

"Ada begitu banyak, banyak negara yang berada dalam kondisi sangat buruk (pandemiknya) yang membutuhkan vaksin untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa," kata Ardern. 

"Meski begitu, kita tetap dalam posisi yang stabil dan siap untuk menerima giliran vaksin (yang sudah dipesan)," lanjut dia. 

Selandia Baru memang termasuk salah satu negara di dunia yang menuai pujian dari komunitas internasional lantaran sukses membendung pandemik COVID-19.

Berdasarkan data yang dikutip World O Meter per Kamis (21/1/2021), ada 2.267 kasus COVID-19 di Negeri Kiwi. Sebanyak 2.166 berhasil sembuh, sedangkan angka kematian hanya mencapai 25 kasus. Sementara, kasus aktifnya sangat kecil yakni 76. 

Ardern menjelaskan, saat ini Selandia Baru tengah memulai proses vaksinasi yang akan digelar pertengahan tahun. Namun, pemerintah sudah memperoleh berbagai informasi dari perusahaan farmasi yang menyediakan vaksin bagi Selandia Baru dan otoritas kesehatan di negaranya. 

Vaksin apa yang rencananya akan diterima oleh warga Selandia Baru?

1. Selandia Baru telah membeli vaksin COVID-19 dari empat perusahaan farmasi

Mampu Kendalikan COVID-19, Selandia Baru Ogah Segera Lakukan VaksinasiPerdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern (www.instagram.com/@jacindaardern)

Laman NPR pada 17 Desember 2020 lalu melaporkan, Selandia Baru sudah membeli di tahap awal vaksin dari empat perusahaan farmasi yaitu Novavax,  AstraZeneca, Pfizer-BioNTec dan Janssen Pharmaceutica.

Selain membeli untuk memvaksinasi warganya, Selandia Baru juga berencana memberikan ke negara tetangganya seperti Samoa, Tonga, Cook Island, Tokelau, Nieu dan Tuvalu. Semua negara tetangganya ini berada di Kepulauan Pasifik. 

Dalam kesepakatan yang diteken pada akhir 2020 lalu, Selandia Baru berhasil mengamankan pasokan 7,6 juta dosis vaksin dari AstraZeneca yang cukup diberikan bagi 3,8 juta warga dan 10,72 juta dosis vaksin Novavax. Vaksin dari Novavax cukup untuk diberikan ke 5,36 juta warga, masing-masing vaksin itu harus diberikan dalam dua dosis. 

"Pendekatan yang kami gunakan mengikuti kemungkinan bagi beberapa vaksin hanya sesuai untuk populasi tertentu atau pendistribusian di beberapa area," kata Ardern yang memastikan vaksin COVID-19 akan diberikan secara cuma-cuma bagi warganya.

Sementara, Menteri Riset, Sains dan Inovasi, Megan Woods mengatakan pemerintah sengaja membeli beberapa merek vaksin agar semua warga Selandia Baru bisa divaksinasi. 

"Bahkan, kalau ternyata jumlah (vaksin) yang kami beli lebih banyak dari yang kami butuhkan, itu lebih baik. Itu sebuah investasi yang layak," kata Woods.

Baca Juga: Selandia Baru Berhasil Kalahkan COVID-19 Dua Kali, Apa Rahasianya?

2. Selandia Baru tetap akan menutup wilayah perbatasan meski vaksinasi dimulai April 2021

Mampu Kendalikan COVID-19, Selandia Baru Ogah Segera Lakukan VaksinasiIlustrasi pesawat (Pesawat) (IDN Times/Arief Rahmat)

Dalam sesi daring itu, Ardern mendapatkan pertanyaan dari warganya apakah vaksin bisa menggantikan proses karantina. Ia pun tidak memberikan jawaban yang pasti. 

Ardern mengatakan, prioritas pemerintah saat ini adalah memastikan keamanan dan keselamatan warga.

"Itu berarti, kita harus melakukan satu dari dua strategi ini. Pertama, kita harus memastikan semua warga telah divaksinasi, sebab kita tahu bisa saja mereka tetap terpapar COVID-19 sehingga tidak mengalami gejala berat atau kedua. Kita perlu memastikan apakah orang yang sudah divaksinasi tak dapat lagi menularkan COVID-19," kata dia. 

Ia memastikan, saat ini belum ada penelitian yang menjelaskan secara gamblang apakah orang yang sudah divaksinasi tak lagi menularkan COVID-19 kepada orang lain.

"Kami akan terus mencari bukti-bukti saintifik apakah setelah divaksinasi bisa mempengaruhi aturan karantina. Tapi, sambil menunggu hal tersebut maka area perbatasan tetap ditutup," ujarnya lagi. 

3. Para ahli mendorong PM Ardern mempercepat jadwal vaksinasi

Mampu Kendalikan COVID-19, Selandia Baru Ogah Segera Lakukan VaksinasiIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Di sisi lain, para ahli kesehatan justru mendorong pemerintah mempercepat jadwal imunisasi massal COVID-19. Sebab, virus corona sudah bermutasi dan lebih mudah menyebar. Apalagi Selandia Baru masih menerima warganya yang baru datang dari luar negeri. 

"Selandia Baru tengah berada di titik dilema. Pemerintah memiliki titik perbatasan yang rawan bocor dari sistem karantina mandiri, sehingga meningkatkan jumlah orang yang bisa saja sudah terinfeksi mutasi baru virus, menyebar ke orang lain. Sementara, strategi vaksinasi belum rampung," kata pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Auckland, Des Gorman yang dikutip dari laman Financial Times (FT). 

"Mereka seharusnya mempercepat kedatangan vaksin dan saran saya tutup perbatasan untuk semua kedatangan dari Inggris, Amerika Serikat dan Afrika Selatan," ujar Gorman lagi. 

Ia mewanti-wanti bila ada satu saja yang dibiarkan masuk dari area itu maka berpotensi meningkatkan transmisi virus corona di komunitas. Sementara, pada April mendatang kelompok yang diprioritaskan menerima vaksin adalah para petugas perbatasan, sedangkan warga baru mulai divaksinasi pada Juli 2021. 

Baca Juga: Selandia Baru Tawarkan Vaksin COVID-19 ke Negara Tetangga

Topic:

  • Ilyas Listianto Mujib

Berita Terkini Lainnya