Comscore Tracker

Siapa Li-Meng Yan, Ilmuwan yang Klaim COVID-19 Dibuat di Laboratorium?

Li kabur dari Tiongkok dan kini bersembunyi di AS 

Jakarta, IDN Times - Nama ilmuwan asal Tiongkok, Li-Meng Yan, kembali menjadi sorotan lantaran ia lagi-lagi berbicara ke publik bahwa virus corona tidak berasal dari alam. Li mengklaim, virus yang diberi nama Sars-CoV-2 itu dibuat di laboratorium militer tentara Tiongkok yang disebut People's Liberation Army (PLA).

COVID-19 disebut dimodifikasi dari virus corona yang dibawa oleh kelelawar yang bernama cc45 dan zxc21. Usai dimodifikasi di laboratorium, virus itu kemudian menjadi patogen. 

Dalam wawancara terbaru kepada media Inggris, ITV, dengan tajuk "Loose Woman" yang tayang di YouTube pada 11 September 2020, Li kembali menyebut sejak awal Tiongkok sengaja menutup-nutupi penemuan COVID-19. Bahkan ia menyebut, klaim bahwa virus corona kali pertama ditemukan di pasar basah di Wuhan hanya sebuah pengalihan. 

"Berdasarkan informasi intelijen di CDC (Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Tiongkok, dokter setempat, dan orang lain di Tiongkok, selain itu didukung bukti-bukti yang saya kerjakan mengenai vaksin COVID-19, imunologi dan virologi di Universitas Hong Kong, bahwa semuanya sudah diverifikasi, virus itu berasal dari laboratorium di Wuhan dan dikendalikan oleh Pemerintah Tiongkok," kata perempuan yang sempat mengajar di Fakultas Kesehatan Publik Universitas Hong Kong, seperti dikutip Selasa (15/9/2020). 

Ketika ditanya apakah ia memiliki bukti yang kuat untuk mendukung klaim tersebut, Li mengatakan segera merilisnya ke publik. 

"Ada dua laporan yang akan dirilis dan publik akan tahu dari bukti-bukti tersebut," ujarnya lagi. 

Bagaimana rekam jejak Li-Meng Yan sesungguhnya? Apa motivasi yang mendorongnya berani mengatakan bahwa virus corona bukan berasal dari alam?

1. Dr. Li-Meng Yan sempat tercatat sebagai pengajar di Universitas Hong Kong

Siapa Li-Meng Yan, Ilmuwan yang Klaim COVID-19 Dibuat di Laboratorium?Kartu identitas yang menunjukkan Li Meng Yan terdaftar sebagau pengajar di Universitas Hong Kong (Potongan video wawancara di Fox News)

Nama Li sesungguhnya sudah menjadi sorotan ketika ia bersedia diwawancara secara eksklusif oleh stasiun televisi Fox News pada 10 Juli 2020. Dalam wawancara dengan durasi 13:42 menit itu, Li mengatakan, ia bekerja sebagai pengajar di Universitas Hong Kong. 

Perempuan yang diketahui ahli di bidang virologi itu turut bekerja di laboratorium yang dijadikan rujukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu Centre of Influenza Research di Hong Kong. Ia mengklaim, laboratorium yang dijadikan rujukan itu turut meneliti mengenai awal kemunculan virus corona. 

Li mengklaim, dirinya termasuk salah satu dari sejumlah ilmuwan di dunia yang meneliti sejak awal kemunculan virus corona yakni Desember 2019. Ia mengatakan, sejak virus corona yang menyerupai SARS ditemukan pada 31 Desember 2019 di Wuhan, atasannya, Dr. Leo Poon, memintanya untuk melakukan penyelidikan rahasia mengenai apa yang terjadi di daratan Tiongkok. 

"Tetapi, Pemerintah Tiongkok menolak menerima penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan dari luar negeri termasuk dari Hong Kong. Oleh sebab itu, saya mengandalkan bantuan dari teman-teman saya," ungkap Li. 

Salah satu teman yang ia andalkan adalah seorang ilmuwan yang bekerja di CDC. Dalam pembicaraan melalui pesan pendek pada Desember 2019, sudah muncul klaster keluarga yang terpapar virus corona. 

"Ia mengetahui informasi itu langsung dan tahu bahwa virus ini bisa menular antar manusia," tuturnya lagi. 

Namun, ketika dicek ke situs resmi Universitas Hong Kong, tidak ada lagi nama Li yang tercantum sebagai salah satu staf pengajar. Semua data mengenai Li diduga telah dihapus oleh otoritas kampus. Bahkan, pihak kampus juga mencabut akses Li terhadap e-mail kampus dan situs tersebut. 

Dalam pernyataan tertulis kepada Fox News, Juru Bicara Universitas Hong Kong mengatakan, Li sudah tidak tercatat lagi sebagai staf pengajar. 

"Dr. Li-Meng Yan bukan lagi staf pengajar kampus ini. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mantan dan staf pengajar kami yang masih tercatat, kami tidak akan mengungkap data pribadi mengenai beliau, harap dimengerti," demikian pernyataan tertulis itu. 

Baca Juga: Merinding! Video Penghuni Apartemen di Wuhan Teriak ‘Wuhan, Jiayou!’

2. Dr. Li-Meng Yan menuding Tiongkok sejak awal sudah menutup-nutupi penyakit COVID-19

Siapa Li-Meng Yan, Ilmuwan yang Klaim COVID-19 Dibuat di Laboratorium?Virolog asal Tiongkok Li Meng Yan (www.foxnews.com)

Begitu memperoleh informasi dari rekannya di CDC Tiongkok, Li langsung melaporkannya ke atasan dia. Salah satu yang ia laporkan yakni virus corona terbukti menular dengan mudah antar manusia. 

"Tetapi, dia (atasan saya) hanya menganggukan kepala dan menyuruh saya tetap bekerja seperti biasa," kata Li mengenang kembali peristiwa itu. 

Pada 9 Januari 2020, WHO memang mengumumkan ada sebuah virus yang sedang diteliti di Tiongkok yang bisa mengakibatkan penyakit parah kepada sejumlah pasien. Namun, WHO ketika itu menyebut penyakit itu tidak menular antar manusia. Informasi yang mereka miliki ketika itu masih terbatas. 

Namun, seiring informasi pelan-pelan terkuak, para dokter dan ilmuwan yang semula membahas isu ini secara terbuka menjadi diam. 

"Banyak dokter yang mengatakan mereka tidak bisa membahas isu tersebut, tetapi kita harus tetap menggunakan masker," ungkap Li menirukan pernyataan beberapa rekannya. 

Menurut sumber yang ia peroleh, memasuki bulan Januari 2020, jumlah individu yang terinfeksi virus itu semakin bertambah. Li pun mencoba menggali informasi lebih banyak. 

"Ada banyak pasien yang tidak memperoleh perawatan dan hasil diagnosa tepat waktu. Dokter di rumah sakit merasa takut (tertular), tetapi mereka tidak bisa berbicara apa pun," ujarnya. 

Li kemudian melaporkan kembali temuan itu kepada atasannya pada 16 Januari 2020, tetapi atasannya meminta dia untuk tutup mulut dan berhati-hati. 

"Dia memperingatkan saya agar tidak menyentuh garis merah yang artinya pemerintah, atau kita semua akan mendapat masalah dan menghilang," kata dia menirukan ucapan atasannya. 

Salah satu individu yang diklaimnya tahu mengenai virus corona sejak awal tahun adalah Profesor Malik Peiris. Ia adalah direktur di laboratorium Universitas Hong Kong. Namun, menurut Li, Malik tidak melakukan tindakan apa pun. 

Peiris tidak merespons saat dimintai komentarnya. Di situs WHO, Peiris tertulis sebagai penasihat Komite Regulasi Darurat WHO untuk pneumonia karena Novel Coronavirus 2019-nCoV alias COVID-19. 

3. Dr. Li-Meng Yan merasa keselamatannya terancam hingga memutuskan kabur ke AS

Siapa Li-Meng Yan, Ilmuwan yang Klaim COVID-19 Dibuat di Laboratorium?Ilustrasi bendera Amerika Serikat (ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly)

Dr. Li kemudian memutuskan untuk meninggalkan Hong Kong dan kabur ke Amerika Serikat. Ia berangkat dari Hong Kong dengan menumpang maskapai Cathay Pacific pada 28 April 2020. 

Ia percaya nyawanya terancam bila mengungkapkan klaim-klaimnya itu di Tiongkok. Bahkan, ketika menjejakkan kaki di Negeri Paman Sam, Li sudah siap dengan konsekuensi tidak akan lagi bisa menemui keluarga dan rekan-rekannya di Tiongkok. Namun, menurut Li, risiko itu sebanding dengan informasi yang hendak ia sampaikan ke dunia. 

"Alasan saya datang ke AS karena saya ingin menyampaikan pesan kebenaran mengenai COVID-19," tutur Li dari lokasi yang dirahasiakan ketika melakukan wawancara. 

Bila ia mengungkap kisah tersebut di Tiongkok, Li memprediksi keesokan harinya ia akan ditangkap atau hilang akibat dibunuh. 

"Saya tahu bagaimana mereka memperlakukan whistleblower," ujarnya lagi. 

Saat tiba di bandara di Los Angeles usai menjalani 13 jam penerbangan, Li sempat dicegat oleh petugas imigrasi. Khawatir akan dipulangkan kembali ke Tiongkok, Li akhirnya mengatakan bahwa ia ingin mengungkap kebenaran mengenai COVID-19. 

"Jadi, saya katakan kepada mereka jangan kembalikan saya ke Tiongkok. Saya katakan saya datang kemari untuk mengungkap kebenaran mengenai COVID-19. Saya juga memohon perlindungan, sebab bila tidak Pemerintah Tiongkok akan membunuh saya," tutur dia. 

Akibat pernyataan itu, Li sempat dimintai keterangan selama berjam-jam oleh Biro Investigasi Federal (FBI). Namun, akhirnya ia tetap diberikan akses untuk bermukim di AS. 

Saat Li merasa aman sementara waktu di AS, keluarganya justru diintimidasi oleh otoritas Tiongkok. Menurut Li, rumah orang tuanya di Qingdao didatangi agen intelijen.

Kedua orang tua Li sempat dimintai keterangan. Apartemennya juga digeledah. Saat Li mengontak keluarga, ibunya memohon agar Li segera kembali ke Tiongkok. Kedua orang tuanya juga mengaku apa yang dilakukan atau disampaikan oleh Li ke media. 

4. Tiongkok dan WHO membantah berusaha menutup-nutupi COVID-19

Siapa Li-Meng Yan, Ilmuwan yang Klaim COVID-19 Dibuat di Laboratorium?Seorang pria membawa bendera China dari sebuah rumah di seberang Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Chengdu, provinsi Sichuan, China, Minggu (26/7/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter)

Sementara itu, baik Pemerintah Tiongkok maupun WHO sama-sama membantah klaim bahwa mereka berusaha menutup-nutupi penyakit COVID-19 dari dunia. Stasiun berita Fox News sudah meminta komentar kepada Kedutaan Tiongkok di Washington DC.

Mereka mengaku tidak mengenal warganya bernama Li-Meng Yan. Bahkan, pejabat dari kedutaan menyebut sejak awal Tiongkok sukses menghadapi pandemik COVID-19. 

"Kami tidak pernah mendengar mengenai orang ini. Pemerintah Tiongkok telah merespons secara efektif dan cepat pandemik COVID-19 sejak awal kemunculan wabah. Semua upaya untuk mengatasi pandemik itu jelas ditulis di buku putih berjudul 'Fighting COVID-19: China in Action'. Fakta-fakta itulah yang berbicara," demikian pernyataan tertulis Kedutaan Tiongkok di Washington DC. 

WHO membantah bahwa Dr. Li-Meng Yan, Dr. Leo Poon, dan Malik Peiris bekerja langsung untuk organisasi yang bermarkas di Jenewa itu. 

"Profesor Malik Peiris adalah ahli penyakit menular yang pernah bertugas di WHO dan bagian dari kelompok para ahli, sama seperti banyak orang penting lainnya di lapangan. Tetapi, hal itu tidak menjadikannya staf WHO atau mewakili organisasi tersebut," kata Juru Bicara WHO, Margaret Ann Harris, dalam surelnya. 

Sementara, Li hingga kini belum mengungkap bukti-bukti apa yang ia miliki untuk mendukung klaimnya bahwa virus corona dibuat di laboratorium militer. Ia berjanji dalam waktu dekat akan mengungkapnya kepada publik. 

5. Klaim Dr. Li-Meng Yan soal virus corona dibuat di laboratorium diragukan oleh banyak ilmuwan

Siapa Li-Meng Yan, Ilmuwan yang Klaim COVID-19 Dibuat di Laboratorium?Ilustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat)

Namun, klaim Li bahwa virus corona buatan manusia dan tidak berasal dari alam sudah pernah disampaikan oleh beberapa orang. Banyak ilmuwan yang meragukan bahkan membantah disinformasi tersebut. 

Direktur Institut Virologi Wuhan, Yuan Zhiming, membantah dengan tegas bahwa bug dari laboratoriumnya tidak sengaja menyebar ke luar. 

"Tidak mungkin virus ini berasal dari kami," ungkap Yuan pada April lalu kepada media. 

Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith, Brisbane, Australia, Dicky Budiman, hingga saat ini klaim yang disampaikan Li itu belum terbukti. 

"Malah dari beberapa riset terbaru menunjukkan virus ini sudah ditemukan sejak puluhan tahun lalu dari beberapa komunitas di Tiongkok. Artinya, virus itu sudah ada tapi tampaknya virus ini menjadi semakin pintar," ungkap Dicky kepada IDN Times melalui pesan pendek pada hari ini. 

Sars-CoV-2 kata Dicky, bisa beradaptasi dengan beragam situasi sehingga menimbulkan pandemik. Sementara, di satu sisi bila benar virus itu dibuat di laboratorium, seharusnya Tiongkok tidak perlu repot untuk melakukan uji klinis vaksin COVID-19. 

"Logikanya kan kalau memang virus itu dibuat, tidak butuh waktu lama untuk membuat vaksinnya. Meski sekarang sudah ada (vaksin), sejauh ini belum terbukti efektif dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia," katanya lagi. 

Baca Juga: Masuki Laut Natuna, Kapal Tiongkok Ogah Diusir ke Luar

Topic:

  • Santi Dewi
  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya