Comscore Tracker

Vietnam Tak Mau Buru-buru Buka Penerbangan untuk Turis Asing

Padahal, Vietnam sudah berhasil mengendalikan COVID-19

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengatakan kendati negaranya sudah berhasil mengendalikan pandemik COVID-19, tetapi ia tak ingin terburu-buru membuka pintu bagi turis asing. Ia khawatir bila terburu-buru justru akan menyebabkan gelombang kedua pandemik tersebut. 

"Tidak ada ceritanya kami terburu-buru untuk membuka pintu perbatasan," ungkap PM Nguyen dalam pernyataan resminya dan diunggah di situs resmi Pemerintah Vietnam pada Kamis (25/6). 

Ia menambahkan Vietnam belum siap menerima kedatangan turis asing. Namun, PM Nguyen membuat pengecualian bagi tenaga ahli asing, pekerja di tingkat manajemen tinggi, dan para calon investor. 

"Tapi, mereka semua akan dimonitor secara ketat," kata dia lagi. 

Lalu, bagaimana dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara? Bagaimana pula dengan Selandia Baru yang sukses mengendalikan pandemik COVID-19 dan berencana untuk membuka penerbangan internasional?

1. Tenaga kerja ahli asing yang masuk ke Vietnam harus menjalani karantina dulu

Vietnam Tak Mau Buru-buru Buka Penerbangan untuk Turis AsingANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Tenaga kerja ahli dari negara lain yang masuk ke Vietnam bisa menjejakan kaki dengan sederet protokol kesehatan. Mereka akan menumpang pesawat khusus dan dikarantina di beberapa hotel. Tujuan Vietnam tetap membolehkan mereka masuk agar perekonomian tetap bisa berjalan. 

PM Nguyen bahkan berpikir penerbangan semacam itu justru perlu lebih banyak ditingkatkan. Pada awal Juni, Vietnam memang sempat disebut-sebut siap membuka kembali penerbangan internasional khusus bagi negara yang tak lagi memiliki kasus COVID-19 selama 30 hari berturut-turut. 

Negara ASEAN lainnya yang sudah berhasil mengendalikan pandemik COVID-19 dan berencana membuka penerbangan internasional secara terbatas, antara lain Malaysia dan Thailand. Mereka berencana untuk membuka kembali penerbangan bagi turis dari Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang. 

Pada Juli mendatang, Thailand yang sudah berhasil menekan transmisi domestik selama 31 hari berturut-turut akan membuka pintu bagi pelancong bisnis dalam jangka waktu pendek dan wistawan yang ingin berobat. 

Baca Juga: Jepang Hendak Cabut Larangan Masuk Bagi 4 Negara Ini Selama Pandemik

2. Selandia Baru membuka kembali penerbangan internasional ke Jepang

Vietnam Tak Mau Buru-buru Buka Penerbangan untuk Turis Asinginstagram.com/jacindaardern

Sementara, Pemerintah Selandia Baru resmi membuka penerbangan internasional pada Kamis (25/6) menuju ke Jepang. Penerbangan itu merespons pemberitahuan yang disampaikan oleh Negeri Sakura bahwa mereka membolehkan warga Selandia Baru menjejakan kaki di negaranya tanpa perlu dikarantina lebih dulu. 

"Kami dengan bahagia menyampaikan kepada para pelanggan untuk kembali melakukan perjalanan di mana di waktu yang bersamaan kami memulai kembali layanan ke Bandara Narita pada bulan ini. Tetapi, kami menyadari untuk membangun kembali jaringan internsional membutuhkan waktu lebih lama," ungkap General Manager maskapai Air New Zealand, Scott Carr dan dikutip laman RNZ pada (10/6) lalu. 

Pada awal Juni lalu, maskapai nasional itu mengeluarkan dana sekitar $20 juta untuk dikembalikan ke 15 ribu pelanggan karena penerbangannya dibatalkan akibat pandemik COVID-19. 

3. Selandia Baru menolak rencana untuk mulai membuka penerbangan ke Australia pada 1 Juli

Vietnam Tak Mau Buru-buru Buka Penerbangan untuk Turis Asingunsplash.com/Road Trip with Raj

Sementara, Perdana Menteri Jacinda Ardern menolak usulan dari para pengusaha untuk memulai penerbangan kembali Selandia Baru - Australia dan sebaliknya pada awal Juli. Sebuah proposal disodorkan oleh para pengusaha Selandia Baru dan Australia kepada pemerintah untuk membuka kembali penerbangan di antara kedua negara. Penerbangan uji coba diusulkan dilakukan pada (1/7) mendatang. 

Tetapi, berdasarkan laporan Times of India, Menlu Selandia Baru, Winston Peters, mengatakan rencana semacam itu belum disetujui untuk dilakukan oleh pemerintah kedua negara. Peters menyebut waktu (1/7) terlalu mepet dan kedua negara masih menyepakati kerangka kerja yang lebih kondusif. 

PM Ardern menilai tanggal yang lebih masuk akal untuk membuka kembali penerbangan internasional adalah September. 

Baca Juga: Usai Klaim Bebas COVID-19, Selandia Baru Konfirmasi Dua Kasus Baru

Topic:

  • Santi Dewi

Berita Terkini Lainnya