Comscore Tracker

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs Biden

#AmbassadorTalk Dubes RI di AS

Jakarta, IDN Times - Tiga hari setelah dilantik oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Muhammad Lutfi sudah diterima di Gedung Putih. Duta Besar Republik Indonesia untuk AS itu, menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Donald J Trump. Prosesnya kilat, mengingat banyak dubes lain harus menunggu belasan hari untuk kesempatan yang sama. “Jadi saya pergi tanggal 14 (September 2020), sampai di Amerika tanggal 15, tanggal 16 Swab, tanggal 17 menyerahkan surat kepercayaan.

Kali kedua, dia bertemu Trump saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Padjaitan pada hari Selasa (17/11/2020). Pertemuan kedua berlangsung 20 menitan. Trump didampingi putrinya Ivanka Trump dan menantunya Jared Kushner. Keduanya penasihat Presiden. Hadir juga Adam Seth Boehler, Ketua International Development Finance Corporation (IDFC), lembaga dana pembangunan yang dibentuk di era Trump. Indonesia berharap investasi dana untuk Sovereign Wealth Fund, lembaga dana abadi sebagai implementasi Undang-Undang Cipta Kerja.

Lutfi sebelumnya adalah pengusaha terkenal, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), kemudian Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pernah menjabat Duta Besar Indonesia di Jepang, lantas menjabat sebagai Menteri Perdagangan. Saat kampanye Pilpres 2019, sosok yang dekat dengan Jusuf Kalla dan Erick Thohir ini, jadi bagian dari tim sukses Jokowi.

Dua kali bertemu Trump, sebelum dan sesudah Trump dinyatakan kalah pilpres AS 2020, tentu menarik. Apa bedanya?

“Kalau saya boleh bilang dua-duanya sangat hangat, dan beliau ini mempunyai tingkat humor yang sangat tinggi gitu. Jadi waktu ketemu pertama kali itu ada cerita lucunya ya, jadi begitu saya memperkenalkan istri saya, saya bilang sama Presiden Trump saya enggak akan…kan jadi kepala protokol nasional mereka tuh waktu saya masuk ke Oval Office itu dibilang nya “Mr President this is Ambassador Extraordinary Plenipotentiary, his excellency Muhammad Lutfi from Indonesia”, jadi waktu saya mengenalkan istri saya, saya bilang sama Donald Trump saya bilang bahwa saya yang duta besarnya, yang berkuasa penuh dan luar biasa itu adalah istri saya.

Jadi ada Bianca (Adinegoro), dia bilang “wah tadi saya menghormati kamu, sekarang menghormati kamu lebih lagi karena istri kamu cantik”. Katanya. Bianca langsung, ‘aduh apa sih’. Jadi luar biasa dan sangat hangat, begitu juga dengan Pak Luhut kemarin. Itu cerita pertamanya beliau itu ke Pak Luhut itu, “You know that I won big ya. Very big katanya begitu sambil ketawa. Jadi sangat hangat, sangat bersahabat dan dalam tingkat humor yang luar biasa tinggi,” ujar Lutfi, dalam wawancara khusus dengan IDN Times, Sabtu pagi waktu Indonesia Barat (21/11/2020).

Trump juga semangat bicara golf.

“Jadi dalam official-official seperti itu kita membicarakan bahwa salam dari Presiden Jokowi, kita semua berharap bahwa hubungan kedua negara akan jadi baik. Tapi itu singkat sekali. Dia bilang oke. Dia bilang bahwa dia kenal baik sama Pak Jokowi. Dia menganggap Pak Jokowi adalah orang yang hebat, sahabat sejatinya dia. Tapi ceritanya yang panjang itu bagaimana cerita pukulan golf dia itu. Begitu ngomong golf itu bisa 10 menit sendiri. Jadi pada dasarnya beliau itu hangat dan sangat bersahabat,” tambah Lutfi.

Baca Juga: Siapa yang Lebih Baik bagi ASEAN, Trump atau Biden?

1. Dubes Lutfi soal tancap gas bertemu investor potensial di AS, setelah resmi bertugas

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenWawancara Khusus Dubes RI untuk AS Muhammad Lutfi dengan IDN Times/Youtube IDN Times

Data BKPM pada 2019, AS adalah sumber penanaman modal asing ketujuh dengan investasi sebesar 989,348 juta (AS) dan 191 proyek. Memang investor Amerika itu selalu membahas masalah daripada buruh. Jadi setelah Omnibus Law ini sebenarnya problem hiring dan firing yang mereka complaint selalu itu sudah terjawabkan. Jadi mudah-mudahan ini membawa angin segar bagi investor Amerika.

Dalam dua bulan terakhir ini, setidaknya ada dua investasi besar AS di Indonesia. Jadi yang pertama itu Kimberly-Clark itu membeli perusahaan Indonesia namanya Softex, untuk sanitary perempuan dan itu juga akan menjadi basis produksi untuk pembalut wanita dan pampers.

Jadi mereka akan membuat production hub di Indonesia untuk pasar ASEAN. Jadi nilainya di atas 1 miliar dolar AS dan kemudian yang kedua ini ada satu perusahaan yang berinvestasi, yang meng-convert dari batu bara menjadi etanol dan ini investasinya lebih dari 2,2 miliar dolar AS. Sebentar lagi akan diumumkan. Saya tidak bisa menyebutkan yang mana tetapi pokoknya ini mengonversi dari batu bara menjadi etanol. Ini adalah suatu yang amat luar biasa dan ini saya melihat bahwa datang kembali gelombang investasi industrial Amerika kembali ke Indonesia.

Sekarang ini Indonesia menjadi negara yang demokratis, menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan memberikan keterbukaan baik secara demokrasi maupun mengeluarkan pendapat. Hal-hal ini membuat Indonesia berdiri tinggi sekali di kawasan karena mempunyai nilai-nilai yang sama dengan AS.

Untuk itu saya tidak surprised kalau di masa-masa yang akan datang ini, kita akan melihat kembalinya industri-industri besar AS akan datang ke Indonesia. Bayangan saya ke depan ini, mereka itu bukan hanya investasi di industri berat seperti yang saya utarakan tadi, mengubah batu bara menjadi etanol atau industri konsumen tingkat tinggi seperti Softex.

Tetapi saya melihat di dalam dua tiga  tahun ke depan industri Amerika di Indonesia sendiri adalah berbasiskan teknologi, berbasiskan digital, berbasiskan artificial intelligence. Ini yang mestinya kita akan dukung bersama karena ketiga, keempat hal yang saya utarakan itu akan memperbaiki daripada situasi logistik di Indonesia dan juga akan memperbaiki daripada struktur perekonomian Indonesia.

Dan saya berharap bahwa di dalam tiga empat tahun ke depan, akan tumbuh unicorn-unicorn baru Indonesia yang berbasiskan digital dan akan memperbaiki prasarana kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya melihat ada dua hal yang penting dalam hal ini, yaitu adalah karena COVID-19 ini kita akan ketemu dua hal baru yaitu bagaimana revolusi anak-anak Indonesia belajar dan guru-guru mengajar.

Jadi platform digital untuk mengajar dan belajar ini akan menjadi tren baru atau Indonesia akan menjadi lokomotif baru untuk industri ini dan yang kedua adalah pelayanan kesehatan. Jadi pelayanan kesehatan itu, karena jumlah dokter dan pasien di Indonesia ini seperti menganga jumlahnya, saya merasa bahwa pasti dalam dua tiga tahun ke depan akan ketemu platform digital baru yang bisa merevolusi daripada pusat pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

2. Mengapa peringkat AS sebagai investor asing di Indonesia masih di urutan ke-16?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenIlustrasi uang kertas dolar Amerika Serikat. unsplash.com/Neonbrand

Kita mesti sadari bahwa ada terjadi shifting atau perubahan daripada cara kita berdagang. Jadi Indonesia ini dalam shifting pola-pola itu juga. Jadi kalau zaman dulu, kita itu pola berdagangnya itu adalah persaingan. Karena persaingan jadi maunya bagaimana caranya kita menjual sebanyak-banyaknya dan menutup pasar kita agar kita membeli sesedikit-dikitnya.

Era persaingan itu sudah lewat. Jadi sekarang ini kita memasuki era yang namanya kolaborasi. Untuk kita menjual lebih banyak, kita juga mesti mau membeli lebih banyak. Contohnya adalah Vietnam.

Jadi Vietnam itu waktu tahun 2014-2015 mereka membuka market mereka, membuka pasar mereka dengan mengikuti perjanjian Perdagangan Trans Pacific Partnership Agreement. Jadi ini 12 negara termasuk Amerika Serikat menjadi basis pasar Vietnam untuk bisa terbuka.

Karena mereka melihat bahwa pasarnya dari negara lainnya adalah yang paling menarik, maka berbondong-bondong terutama industri elektronika itu berinvestasi di Vietnam. Dalam tiga empat  tahun terakhir ini Vietnam berhasil menjadi eksportir elektronika salah satu yang paling kuat di dunia. Bahkan jumlahnya lebih dari 105 persen dari GDP-nya itu hasil daripada ekspor.

Ini adalah tren yang baru. Buka pasar menjadi pusat industri investasi, kemudian menjual jauh lebih banyak. Kita sudah melihat ini tren itu sudah diikuti juga oleh Indonesia. Sebagai contoh misalnya, ketika saya menjadi menteri perdagangan, Indonesia itu hanya mempunyai dua skema perdagangan bilateral yaitu Indonesia-Jepang (CEPA) dan Indonesia-Pakistan (PTA).

Jadi hanya beberapa saja kita diberikan dan itu mengakibatkan harga kelapa sawit Indonesia, CPO kita ke Pakistan itu 20 persen lebih murah daripada Malaysia. Ini negara sebesar ini hanya memiliki dua perjanjian perdagangan. Perjanjian yang ketiga adalah skema ASEAN. Jadi ASEAN 10 sama China, Korea, Jepang, New Zealand dan Australia.

Jadi, ini yang kita punya. Enggak ada yang lain. Karena kita memang mencoba menutup diri selain sebanyak mungkin, supaya kita tidak usah membeli barang-barang mereka. Nah sekarang pada zaman Pak Jokowi yang pertama, itu strategi kita di shifting, tiba-tiba kita menandatangani perjanjian perdagangan dengan EFTA. EFTA itu adalah empat negara non-EU. Kita bilang ini small Europe (Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein)

Baca Juga: Dubes RI di Swiss: Indonesia Sukses Ekspor Emas ke Negeri Kaya Itu

Jadi kalau kita bisa tanda tangan dengan 4 negara ini, perjanjian dengan negara Eropa jalan. Tiba-tiba kita sudah menandatangani perjanjian dengan Australia, dan juga sudah diratifikasi oleh DPR, yang ketiga kita mempunyai perjanjian perdagangan bebas dengan Cile.  Jadi tiba-tiba kita sudah men-double, lebih dari double, dan kita sedang mengikuti perjanjian-perjanjian.

Hari minggu kemarin adalah RCEP. RCEP ini adalah perjanjian perdagangan terbesar, lebih besar daripada yang dipunyai oleh PBB meskipun India tidak jadi ikut di dalamnya. Ini adalah bagian-bagian supaya kita bisa melihat bagaimana kita ke depannya.

Karena investasi ini terjadi, jadi kita sekarang mudah menjual barang-barang industri. Sebagai contoh, ketika saya menjadi Dubes RI di Jepang, investasi otomotif itu lebih dari 7 miliar dolar. Didominasi oleh Suzuki, Honda, Daihatsu, Toyota dan Mitsubishi Motors. Dan ini semua produsen mobil ini men-double kapasitasnya di Indonesia. Apalagi Daihatsu. Produksi Daihatsu di Indonesia ini lebih besar daripada Daihatsu di Jepang. Sekarang, produk otomotif itu menjadi nomor lima terbesar produk ekpornya dari Indonesia…

Saya bisa membayangkan dalam satu dua tahun ke depan itu pasar Australia akan masuk Toyota Innova atau Kijang Innova itu dan ini akan membuat bahwa kita ini menjadi menjual barang-barang berkualitas tinggi dan bernilai tinggi sekali.

Di Morowali kemarin itu investasinya 8 miliar dolar AS. Pada 2021 industri steel kita ini akan menjadi nomor dua terbesar di dunia bahkan untuk ekspornya mengalahkan otomotif yang notabenenya diekspor oleh Jepang dan ini menyebabkan kita harus bergiat dan kita harus bisa mempunyai perjanjian-perjanjian perdagangan dengan negara-negara lain, dan ini menurut saya menjadikan pertimbangan bahwa kita ini sudah mempunyai shifting daripada pola pikir kita.

Karena itu artinya dengan kolaborasi ini kita membuka pasar dan investasi masuk ke Indonesia menciptakan lapangan pekerjaan dan kita bisa mengekspor lebih banyak keluar negeri dan dengan kuatnya perdagangan kita itu, akan terjadi shifting juga di dalam GDP kita. Kalau sekarang ini 34 persen dari konsumsi. Nah mestinya 50 persen lebih dari hasil ekspor dan impor. Hari ini baru 34 persen.

Mudah-mudahan dalam 10 tahun ke depan ini akan terjadi transisi di mana ekonomi kita akan didominasi oleh perdagangan dan ini adalah bagian daripada de-industrialisasi di Indonesia.

3. Soal perbedaan hubungan ekonomi RI-AS di era Trump dengan era Joe Biden

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenCawapres di pemilu AS tahun 2020, Joe Biden dan Donald Trump (Star Tribune)

Secara internasionalnya, kita bisa melihat bahwa kemarin itu Presiden Trump seperti mereset hubungan-hubungan perdagangannya dan hubungan-hubungan bilateralnya kepada negara-negara lain, contohnya. Jadi kalau Presiden Trump itu memilih untuk mengadakan hubungan itu bilateral. Contohnya dia tidak mengikuti secara aktif daripada organisasi-organisasi multilateral.

Pasif. Bahkan sempat mengancam untuk keluar dari WHO. Begitu juga dengan Perjanjian Pertahanan NATO, marah-marah karena negara lain tidak mau menyumbangkan komitmen dana untuk organisasi tersebut. Kemudian juga dalam WTO.

Jadi ini menyebabkan banyaknya permasalahan-permasalahan yang juga kita hadapi. Sebagai contoh misalnya ini masalah vaksin ya, kalau kita melihat penyelesaiannya Presiden Obama yang dari Partai Demokrat, pada 2008 ketika terjadi financial crisis di Eropa dan AS, mereka itu mengundang banyak negara untuk mencoba bekerja sama untuk dampak ekonomi daripada krisis itu tidak seburuk seperti yang kita hadapi dalam masalah pandemik COVID-19 ini.

Jadi kalau kita lihat sekarang ini, race, perebutan, lomba untuk mendapatkan vaksin itu kita kerjakan sendiri-sendiri. China ngerjain sendiri, Inggris ngerjain sendiri, Rusia ngerjain sendiri, Amerika ngerjain sendiri. Karena kan mustinya ini kan bisa kita laksanakan sama-sama gitu kan ya.

Misalkan RNA yang dikerjakan oleh Moderna sama Pfizer itu mungkin bisa dikerjakan oleh negara-negara maju. Tetapi seperti yang dikerjakan Johnson & Johnson, atau yang dikerjakan oleh China itu jauh lebih simple. Bahkan itu mengerjakan cuma satu kali. Kalau yang lain kan dua-dua nih. J&J cuma sekali dan harganya relatif murah.

Saya bisa membayangkan nanti kalau kembali ke zamannya pemerintah Joe Biden ini mereka akan bekerja sama secara multilateral. Jadi perdagangan instead of China sama Amerika, Indonesia sama Amerika, mereka mungkin akan kembali meskipun jalan ke sana sangat sulit. Jadi multilateralisme ini akan jalan di zamannya Presiden Biden dan beliau sudah memberikan isyarat akan mengerjakan itu.

Kalau itu yang akan terjadi, buat Indonesia mestinya ini adalah sesuatu yang bukan asing lagi buat kita. Kita sebagai negara terbesar di ASEAN, notabenenya adalah pemimpin ASEAN, mestinya kita mempunyai nilai tambah tersendiri dalam menjadi mitra sejati Amerika.

Jadi saya ..waktu di Jakarta, kemarin itu Pak Jokowi bilang bahwa Indonesia dan Amerika Serikat itu teman sejati. Tetapi teman sejati itu mesti menjaga hubungannya, mesti terjadi dialog, mesti gak boleh terjadi take it for granted sifatnya. Itu kan ya. Jadi saya juga mengatakan bahwa Indonesia dan AS ini adalah the old new best friend. Jadi temen lama yang akan menjadi sahabat sejati baru.

Ini saya merasa bahwa siapa pun pemimpin di AS, menurut saya Indonesia akan berdiri sangat tinggi di kawasan karena kita mempunyai nilai-nilai kebebasan-kebebasan yang sama dengan AS.

4. Soal presiden dari Partai Demokrat biasanya itu lebih concern terhadap soal-soal hak asasi manusia dibandingkan dengan Republik yang sangat pro-bisnis

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenWawancara Khusus Dubes RI untuk AS Muhammad Lutfi dengan IDN Times/Youtube IDN Times

Memang Demokrat itu lebih menitikberatkan kepada hak asasi manusia, kemudian berbicara tentang isu lingkungan, itu memang menjadi menjadi hal-hal yang lebih banyak dibicarakan dibandingkan dengan partai Republik.

Tetapi saya melihat kemarin ya Pak Luhut berbicara konservasi internasional itu mereka itu terkagum-kagum bahkan Managing Director-nya IMF itu memuji daripada bagaimana Indonesia berbicara tentang lingkungan. Itu Pak Luhut menantang apa yang sudah dikerjakan Indonesia dibandingkan dengan banyak negara-negara, terutama negara maju di Eropa dan AS. Dan saya melihat sendiri,  Kristalina (Georgieva), Managing Director IMF, memuji-muji apa yang dikerjakan oleh Indonesia.

Kalau untuk HAM, saya terus terang saja kalau berbicara HAM ini di Indonesia kan ya, ini Indonesia yang berbeda dengan 20 tahun lalu. Kalau saya sempat mendampingi Pak Prabowo Subianto, pokoknya sudah datang, sudah diterima dengan penghormatan militer di Pentagon, gitu kan. Saya saksinya, dan mereka mengatakan bahwa Indonesia sekarang dengan Indonesia 20 tahun lalu adalah yang berbeda.

Mungkin orangnya bisa sama tapi Pak Prabowo juga yang sekarang dengan yang dulu itu juga sudah menjadi orang yang berbeda. Bisa dibayangkan, beliau itu dipilih oleh lebih dari 60 juta orang loh di Indonesia. Itu banyak sekali orangnya. Jadi karena nilai-nilai ini kita bisa merasa bahwa enggak ada permasalahan atau hambatan yang bisa mempengaruhi kerja sama Indonesia-AS siapa pun presiden AS meski dari Partai Demokrat atau Republik.

5. Soal mengapa Menko Luhut bertemu Trump yang mau turun, tidak menunggu ketemu Joe Biden sesudah dilantik 20 Januari 2021?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenMenko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bertemu Presiden AS Donald Trump (Dok. White House Amerika Serikat)

Yang pasti bahwa beliau itu datang sebagai sahabat. Sahabat itu datang ketika kawannya sedang suka atau tidak suka. Mungkin hari ini sedang tidak begitu suka. Tapi saya mendampingi beliau dan beliau mengatakan bahwa penghormatannya kepada pemerintahan Presiden Trump.

Begitu juga saat di USTR, bertemu dengan menteri kesehatan, menteri energi, national security council itu menteri-menteri semua dan mengatakan bahwa Indonesia berterima kasih karena Indonesia diperpanjang Generalized System Preference (GSP)-nya. Di mana semua negara lain apakah di-hold, apakah dihilangkan, dikurangkan. Thailand itu dikurangkan separuh, hilang nilainya 2,4 miliar dolar AS, menjadikan Indonesia negara terbesar nantinya yang menikmati GSP itu.

Dan saya bisa melihat itu semua pejabat Amerika itu berterima kasih dan merasa bersahabat sekali dengan Pak Jokowi dan Pak Luhut secara pribadi. Jadi, ini adalah nilai-nilai perkawanan. Jadi ini sebenarnya sangat penting dan beliau ini masih presiden sampai 19 Januari 2021 dan itu beliau masih bisa memutuskan semua kekuatan presidensialnya bahkan beliau sudah mengatakan bahwa dia akan mengeluarkan executive order-executive order untuk menjalankan pemerintahannya yang kalau kita lihat ini masih tersisa mungkin 59-60 hari.

Ini diplomasi. Jadi bukan berarti terus kita datang sekarang terus kita musuhan sama pemerintahan yang akan datang. Enggak juga. Bahkan ini menunjukkan bahwa kita ini sangat menghargai seorang sahabat. Sahabat yang sedang jatuh, maupun sahabat yang sedang baru naik.

Jadi, menurut hemat saya karena saya mendampingi, saya melihat langsung pembicaraannya, itu sangat produktif dan ini akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi Indonesia.

6. Apakah ketika berangkat dari Jakarta memang sudah ada jadwal bertemu Trump?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenMenko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bertemu Presiden AS Donald Trump (Dok. White House Amerika Serikat)

Saya yang mengatur schedule itu ya dan kita juga memang memohon untuk kalau bisa bertemu dan karena schedule beliau memungkinkan, kita waktu itu juga lagi dalam pertemuan dengan menteri lain, level office gitu, jadi biasa ini kan kalau saya mendampingi pejabat asing juga kan ketemu sama Pak Jokowi, juga begitu biasanya. Jadi ini memang sesuatu yang biasa aja maksudnya dan memang begitu kosong kita masuk.

Apakah sudah ada komitmen dana dari AS untuk Sovereign Wealth Fund Indonesia, karena di situ hadir juga Adam Boehler?

Jadi komitmennya sudah dituliskan, sudah ada di tangannya Pak Luhut. Nanti kita tunggu deh begitu beliau selesai karantina dan menghadap presiden.

Anggaran IDFC sudah disetujui oleh kongres. Kongres itu menyetujui daripada eksekusi bagaimana uangnya jalan segala macam, tetapi begitu mereka ingin memberikan dananya segala macam itu diserahkan kepada manajemennya dengan board of directors-nya mereka sudah diseutujui semua oleh kongres.

Jadi proses pembentukan organisasinya oleh kongres, tetapi bagaimana manajemennya itu oleh profesional.

7. Mengapa ada pembicaraan soal vaksin? Bukankah kita sudah binding 30 juta dosis dengan Novavax lewat Bio Farma?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenIlustrasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Dokumentasi Sinovac)

Jadi gini, Novavax malah itu justru yang kecil kan. Kalau yang sekarang ini lagi hot dan santer itu adalah Pfizer dan Moderna. Jadi itu vaksin yang mati, tapi mempunyai spike daripada protein yang diikat dengan dibekukan pada tingkat kebekuan yang rendah, minus. Menjadikan ini proses yang sangat sulit untuk bisa dibawa ke negara kepulauan seperti Indonesia apalagi negara tropis gitu kan.

Jadi kalau itu tidak bisa jalan, mereka tuh mengatakan bahwa yang sejalan itu adalah sebenarnya Johnson & Johnson. Jadi mereka itu sangat team mate sekali waktu mau mengadakan kerja sama sebelum trial stage 3 ini berhasil. Nah begitu mereka berhasil ke stage 3, pemerintah AS sangat mendorong kepada perusahaan-perusahaan ini untuk berdiplomasi jual vaksin ke luar negeri.

Oleh sebab itu, Senin pagi waktu Washington DC ini kita akan meneruskan pembicaraan Pak Luhut dengan Mike Pence, Wapres AS di Gedung Putih untuk berbicara dengan Kemenkes mereka untuk kerja sama masalah vaksin ini. Apa yang cocok, apa yang kurang. Jadi kalau kita dengar itu, J&J itu harganya kira-kira 12 atau 13 dolar, tetapi satu ampul. Jadi sekali aja, gak perlu 2 kali. Jadi membuat harganya sangat kompetitif dan ini mereka akan masuk stage 3 akhir tahun ini dan siap dipasarkan mungkin Februari-Maret tahun depan. Tidak perlu didinginkan di -70 Fahrenheit.

8. Kehadiran Jared Kushner yang dikenal sebagai utusan Presiden Trump urusan konflik Israel dan Palestina, apakah ini dibahas juga?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs Biden(Ilustrasi di jalur Gaza) ANTARA FOTO/ REUTERS / Mohammed Salem

Waktu kita berbicara dengan Presiden Trump kita cuman berbicara tentang masalah persahabatan dan permasalahan daripada ekonomi terutama kaitannya dengan perdagangan Indonesia di AS.

9. Saat ke Indonesia, Adam Boehler sempat menyebut soal investasi mobil listrik, termasuk Tesla. Ini dibahas juga?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenMenko Kemaritman dan Investasi Luhut Pandjaitan bertemu dengan CEO IDFC, Adam Boehler (www.instagram.com/@luhut.pandjaitan)

Pada hari terakhir kunjungan Pak Luhut, kami sempat bertemu kembali dengan tim  Gedung Putih itu, berbicara tentang masalah sensitivitas masalah lithium battery. Lithium  battery ini adalah menurut saya, game changer yang akan terjadi pada 10-15 tahun yang akan datang. Persaingannya itu adalah bagaimana mendapatkan baterai litium.

Dan ini akan menjadi mungkin penemuan terbesar sejak James Watt menemukan mesin uap. Ini akan menjadi revolusi besar sekali dan Indonesia semestinya menjadi negara yang leading karena kita mempunyai copper dan mempunyai nikel terbesar di dunia. Dan ini kita tidak bisa mengulangi permasalahan teknologi telekomunikasi di masa lalu, tidak bisa lagi mengulangi kesalahan kita di masa lalu.

Ini kita harus memastikan bahwa kita ada di depan dalam persaingan tersebut. Jadi kerja sama dengan AS terutama dengan menemukan baterai lithium dengan kekuatan tinggi tanpa isi ulang ini menjadi agenda utama dan ini Pak Luhut benar-benar berada di depan dan kita mesti …bukan hanya berbicara dengan China tetapi kita juga berbicara dengan semua negara yang mempunyai pengaruh terhadap masalah itu dan yang sudah menjadi pembicaraan adalah bahwa Tesla adalah salah satu counterpart terbaik kita di AS.

Jared Kushner sendiri akan mengenalkan tim KBRI dengan industri manufacturing mobil di AS. Jadi saya belum bisa mengutarakan pada perusahaan siapa tetapi akan saya bawa pada kesempatan pertama untuk memastikan bahwa Indonesia mendapatkan tempat-tempat strategis di dalam pengembangan industri lithium battery dan ini menurut saya adalah hal yang wajib kita kerjakan dan kerja sama kita dengan siapa pun terutama dibantu oleh Gedung Putih menjadi sangat penting.

10. Trump nampak friendly ke Indonesia. Mereka minta apa sebagai imbalannya?

[WANSUS] Dubes Lutfi soal Indonesia-AS di Era Trump vs BidenJokowi bersama dengan Donald Trump (Twitter.com/jokowi)

Saya itu sebenarnya mungkin bicaranya musti lebih diplomatis, tapi saya ingin mengatakan kepada pemirsanya Mbak Uni bahwa Indonesia ini mempunyai posisi yang sangat strategis. Karena kerja sama lithium battery kita ini yang ada sekarang ini dengan China. Kita bilang sama AS karena kita sudah reform iklim investasi kita ini, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin kerja sama.

Tetapi kita ingatkan kepada AS, eh kalau anda tidak investasi di litium battery ini sekarang, pada hari ini, suatu hari anda akan membeli baterai saya dengan teknologi China. Ini adalah suatu hal yang sangat mengganggu. Dan itu adalah bagaimana kepiawaian diplomasi kita untuk berbicara dan menegaskan masalah-masalah seperti itu.

… penting di situ diplomat Indonesia untuk berada peran aktif memastikan bahwa kita ini adalah negara yang penting. Kenapa? Karena dengan begitu kita akan menjadi mitra bicara yang jujur, yang baik dan sepenuh hati untuk perdamaian dan kesejahteraan.

 

Transkrip oleh Rehia Sebayang

Baca Juga: Xi Jinping Tetapkan Tiongkok Sebagai Titik Poros Perdagangan Global

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya