Comscore Tracker

[Cek Fakta] Debat Capres AS Donald Trump Vs Joe Biden Edisi Kedua

Banyak kebohongan dan tuduhan dilontarkan Trump

Jakarta, IDN Times - Debat calon presiden Amerika Serikat (AS) kedua antara petahana dari Partai Republik Donald Trump, dengan mantan wakil presiden mewakili Partai Demokrat, Joe Biden, berlangsung pada Kamis (22/10/2020).

Selama 90 menit debat dihelat, tidak sedikit kebohongan yang dilontarkan Trump. Apa saja itu?

Baca Juga: Debat Final Capres AS 2020, Biden Ancam Iran, Tiongkok, dan Rusia

1. Dua juta orang meninggal dunia karena COVID-19 jika tidak ada pencegahan

[Cek Fakta] Debat Capres AS Donald Trump Vs Joe Biden Edisi KeduaJoe Biden saat menyampaikan jawaban dalam Debat Calon Presiden Amerika Serikat pada Kamis, 22 Oktober 2020 (Twitter.com/JoeBiden)

Trump berkata, “2,2 juta orang, dicontohkan, diharapkan akan mati.”

Pernyataan itu dikutip secara keliru berdasarkan perkiraan awal pandemik COVID-19. Pada Maret, Gedung Putih memproyeksikan antara 1,5-2,2 juta orang akan meninggal akibat virus corona jika tidak ada pencegahan yang diambil, seperti seruan menjaga jarak, karantina wilayah, hingga tidak menggunakan masker.

Dengan sejumlah intervensi, proyeksi menunjukkan, jumlah korban tewas berkisar antara 100 ribu hingga 240 ribu akibat virus corona.

Tujuh bulan berselang, lebih dari 220 ribu tewas dan ahli kesehatan masyarakat memperingatkan tentang gelombang baru COVID-19. Studi dari Universitas Columbia memprediksi, Trump mampu mencegah 130 ribu hingga 210 ribu kematian.

Sebaliknya, Trump justru menilai angka kematian saat ini sebagai sebuah pencapaian, karena diukur dari angka prediksi tanpa intervensi.

2. Tidak benar warga AS akan divaksinasi dalam waktu dekat

[Cek Fakta] Debat Capres AS Donald Trump Vs Joe Biden Edisi KeduaIlustrasi vaksin (ANTARA FOTO/AAP Image/David Mariuz via REUTERS)

Trump berkata, “kami memiliki vaksin yang sudah siap, akan diumumkan dalam beberapa minggu (mendatang).”

Pernyataan itu bukan kali pertama Trump menyampaikan bahwa vaksin sudah siap pakai. Bahkan, dia menekankan supaya vaksin siap produksi sebelum hari pemilihan. Tapi para ilmuan dan ahli kesehatan masyarakat mengatakan jadwal yang dituntut Trump itu tidak realistis.

Trump memang optimis vaksin virus corona bisa tersedia jelang akhir 2020. Tapi, Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Robert Redfield, mengutarakan di hadapan kongres bahwa dosis vaksin yang tersedia dalam waktu dekat tidak akan mencakup seluruh warga AS.

Prediksinya, butuh waktu hingga kuartal ketiga 2021 untuk memulihkan sebagaimana sedia kala.

3. Trump bukan musuh terberat Rusia

[Cek Fakta] Debat Capres AS Donald Trump Vs Joe Biden Edisi KeduaPresiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara untuk mendebat moderator Kristen Welker dari NBC bersama dengan Ibu Negara Melania Trump setelah debat kampanye kepresidenan 2020 kedua dengan calon presiden dari Demokrat Joe Biden di Belmont University di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, Kamis (22/10/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar)

Trump melontarkan ungkapan, "tidak ada yang lebih tangguh dari saya di Rusia."

Pemerintahan Trump diketahui telah memberikan sanksi kepada Rusia atas tindakan spionase dan serangan terhadap para pembangkang Rusia di luar negeri. AS juga telah mengusir sejumlah mata-mata Rusia.

Kendati, meski mendapat desakan dari Kongres, Trump sering kali memperlambat sanksi yang telah dijatuhkan. Trump bahkan menolak mengkritik pemimpin Rusia Vladimir Purin secara terbuka.

Trump justru mengaku percaya kepada Putin dan yakin dia tidak ikut campur pada Pilpres 2016, meski laporan intelijen menunjukkan sebaliknya, yang membuat dirinya bisa mengalahkan Hillary Clinton.

4. Tidak ada bukti bahwa Biden terkait korupsi di Ukraina dan Tiongkok

[Cek Fakta] Debat Capres AS Donald Trump Vs Joe Biden Edisi KeduaJoe Biden dalam Debat Calon Presiden Amerika Serikat pada Kamis, 23 Oktober 2020 (Twitter.com/JoeBiden)

Trump juga melontarkan ungkapan tak berdasar kepada Biden, “saya tidak menghasilkan uang dari Tiongkok. Kamulah yang begitu. Saya tidak menghasilkan uang dari Ukraina. Kamu melakukannya.”

Pengusaha properti itu menyerang Biden terkait bisnis luar negeri anaknya di Ukraina dan Tiongkok. Tapi sejauh ini, belum ada bukti jelas bahwa Biden menyelahgunakan wewenangnya saat menjabat sebagai wakil presiden untuk keuntungan keluarga. Belum ada bukti juga bahwa Biden secara personal diuntungkan secara finansial.

Trump dan timnya mengandalkan informasi dari email yang diduga diperoleh dari laptop Hunter, putra Biden, yang ditinggalkan. Biden membantah melakukan kesalahan. Senat yang dikendalikan oleh Partai Republik, baru-baru ini, juga menyelesaikan investigasi terkait, yang hasilnya tidak mendukung tuduhan Trump.
 

Baca Juga: Debat Trump vs Biden pada Tanggal 15 Oktober Dibatalkan!

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya