Comscore Tracker

PBB: 22 Juta Warga Afghanistan Terancam Mati Kelaparan

Krisis di Afghanistan memburuk sejak Taliban berkuasa

Jakarta, IDN Times – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan jutaan warga Afghanistan, termasuk anak-anak, bisa mati kelaparan jika bantuan kemanusiaan tidak segera didistribusikan. Afghanistan di ambang kehancuran akibat kekeringan panjang, ketidakstabilan politik dan krissi ekonomi setelah Taliban berkuasa, hingga pandemik COVID-19.

Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia PBB (WFP) David Beasley menyampaikan, 22,8 juta dari 39 juta penduduk Afghanistan menghadapi kerawanan pangan akut. Jumlahnya meningkat dari 14 juta sejak dua bulan lalu.

"Anak-anak akan meninggal. Orang-orang bisa kelaparan. Keadaan akan menjadi jauh lebih buruk," katanya di Dubai, dikutip dari The Straits Times.

1. Bencana kemanusiaan datang lebih cepat dari perkiraan

PBB: 22 Juta Warga Afghanistan Terancam Mati KelaparanAfghanistan. (Pixabay.com/ArmyAmber)

Sejak Taliban menguasai pemerintahan pada pertengahan Agustus lalu, lembaga donor dan sejumlah negara menghentikan distribusi bantuan kemanusiaan kepada Afghanistan. Amerika Serikat (AS) dan institusi finansial internasional membekukan aset keuangan Afghanistan di luar negeri.

"Saya tidak tahu bagaimana Anda akan kehilangan jutaan orang, terutama anak-anak, karena keruntuhan ekonomi dan (program yang) kita jalani kekurangan dana," ujar Beasley.

"Apa yang kami prediksi terjadi lebih cepat dari perkiraan. Kabul jatuh lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun dan ekonomi juga begitu," lanjutnya.

Baca Juga: IMF: Ekonomi Afghanistan Bisa Minus 30 Persen setelah Dikuasai Taliban

2. PBB butuh Rp3,1 triliun per bulan untuk mencegah kelaparan di Afghanistan

PBB: 22 Juta Warga Afghanistan Terancam Mati KelaparanAnak-anak Afghanistan di ibukota Kabul pada tahun 2020. (Unsplash.com/Sohaib Ghyasi)

Demi membantu krisis di Afghanistan, WFP setidaknya membutuhkan dana hingga 220 juta dolar AS (sekitar Rp3,1 triliun) per bulan guna memberi makan 23 juta orang yang rentan kelaparan saat musim dingin mendekat.

Makanya, Beasley mendesak supaya setiap dolar yang dialokasikan untuk pembangunan dialihkan untuk bantuan kemanusiaan. Sejumlah negara sudah melakukan itu.

Dia juga berharap, sanksi berupa pembekuan akses keuangan bisa dihentikan dan dicairkan melalui badan kemanusiaan atau lembaga donor.

"Anda harus mencairkan dana ini sehingga orang dapat bertahan hidup," ujar dia.

3. Khawatir kejadian eksodus pengungsi Suriah akan terulang kembali

PBB: 22 Juta Warga Afghanistan Terancam Mati KelaparanIlustrasi Pengungsi (IDN Times/Mardya Shakti)

Banyak warga Afghanistan yang menjual hartanya untuk membeli makanan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan Taliban tidak mampu membayar upah aparatur sipil negara.

Berdasarkan penuturan Beasley, setelah beberapa donor gagal memenuhi janjinya, WFP memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk membantu kebutuhan pangan di Afghanistan hingga Desember 2021 mendatang.

Komunitas internasional berada di tengah dilema. Di satu sisi, para pemimpin dunia ingin mencegah bencana kemanusiaan di Afghanistan. Tapi, mereka tidak ingin bantuan kemanusiaan diberikan melalui Taliban, yang berarti secara tidak langsung mengakui pemerintahan mereka.

Kekhawatiran Beasley adalah bencana kemanusiaan Afghanistan dapat memicu krisis pengungsi seperti Suriah 2015 silam.
 
"Saya tidak berpikir para pemimpin di dunia menyadari apa yang akan terjadi," kata dia.

Baca Juga: Dilanda Krisis, Penggunaan Mata Uang Kripto Melonjak di Afghanistan

Topic:

  • Satria Permana

Berita Terkini Lainnya