Comscore Tracker

Rencana Penundaan Program Vaksinasi di Australia Menuai Kritik

Australia ingin melihat hasil suntik vaksin di negara lain

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia memutuskan menunda program vaksinasi nasional selama mungkin sembari mengamati hasil penggunaan vaksin di berbagai negara. Penggunaan vaksin sebagai cara memerangi COVID-19 tidak terlalu mendesak, mengingat langkah pencegahan seperti sistem karantina wilayah sudah dinilai efektif.

Dalam tujuh hari terakhir, tercatat hanya terjadi 10 kasus penularan lokal, termasuk di tujuh negara bagian New South Wales dan tiga di Queensland. Adapun total kasus corona di Australia mencapai 28.753 kasus dan 909 kematian.
 
Ketika banyak negara telah memulai program vaksinasi sejak awal 2021, otoritas Negeri Kanguru tetap berpegang pada rencananya untuk memulai penyuntikkan pada Februari. Penetapan waktu itupun dipenuhi desakan, sebab Kementerian Kesehatan sebelumnya mencanangkan program vaksinasi nasional pada Maret 2021.

1. Menyulut kritik dari berbagai ahli medis

Rencana Penundaan Program Vaksinasi di Australia Menuai KritikIlustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Baca Juga: Vaksin Moderna Jadi Vaksin Kedua yang Disetujui FDA

Keinginan pemerintah untuk menunda vaksinasi nasional menuai kontroversi. Bagi sebagian ahli medis, vaksinasi dinilai mendesak di tengah ancaman varian baru corona yang lebih menular.
 
Di sisi lain, pakar kesehatan dari Universitas New South Wales Bill Bowtell menegaskan, vaksin yang telah memperoleh izin darurat sudah dinyatakan aman. Oleh sebab itu, tidak ada lagi alasan untuk menunda program vaksinasi.
 
"Kita harus segera memulai. Kita tidak bisa menunda ini. Situasi global tidak memungkinkan kita untuk menunggu (program vaksinasi)," kata Bill sebagaimana dikutip dari The Straits Times, Jumat (22/1/2021).

2. Perdebatan juga terjadi pada vaksin mana yang digunakan

Rencana Penundaan Program Vaksinasi di Australia Menuai KritikIlustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain persoalan waktu penyuntikkan, terjadi pula perdebatan tentang vaksin mana yang harus digunakan oleh Australia. Saat ini, Australia telah mendapatkan 53,8 juta dosis vaksin AstraZaneca dan 10 juta dosis vaksin Pfizer.
 
Seorang ahli penyakit menular dari Monash University Michelle Ananda-Rajah mengatakan, Australia harus mencoba untuk mendapatkan lebih banyak dosis vaksin Pfizer dan Moderna. Sebab, angka efikasi dari AstraZaneca dinilai kurang memuaskan.
 
"Kami perlu mengubah strategi. Ini benar-benar untuk memastikan bahwa kami memperoleh vaksin yang terbaik. (AstraZaneca) tidak akan memberi kekebalan kawanan pada tingkat populasi. Kami hanya tidak percaya, tentu berdasarkan data kami saat ini,” kata dia.

3. Begini skema vaksinasi Australia

Rencana Penundaan Program Vaksinasi di Australia Menuai KritikIlustrasi Penyuntikan Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Semula, Australia berencana untuk menggunakan Pfizer untuk memvaksinasi kelompok rentan, sedangkan AstraZaneca diperuntukkan kepada sebagian besar populasi.
 
Kampanye vaksinasi nasional mengutamakan petugas kesehatan, staf di fasilitas karantina, orang-orang tua dengan penyakit komorbid, penyandang disabilitas, dan pekerja yang berurusan dengan kedatangan internasional sebagai kelompok prioritas.  
 
Kepala petugas medis Australia Paul Kelly mengatakan, lebih penting menggunakan vaksin yang sudah tersedia meski tingkat efikasinya sedikit di atas 50 persen, daripada menungu vaksin lain memiliki tingkat kemanjuran lebih tinggi.
 
"(Vaksin) AstraZeneca ada di sini, kami tidak perlu mengantri untuk itu. Ini akan menyelamatkan nyawa dengan melindungi sebagian besar penduduk Australia,” ujar dia.

Baca Juga: Mampu Kendalikan COVID-19, Selandia Baru Ogah Segera Lakukan Vaksinasi

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya