Comscore Tracker

[OPINI] Andai Kita Bisa Buat Alternatif Sejarah 21 Februari

Terinsipirasi buku "What If Jesus Have Never Been Born"

Pada tahun 1848 Karl Marx dan Fredrich Engels menerbitkan buku Manifesto Komunis yang sempat mempengaruhi sepertiga umat manusia di dunia untuk menguji coba Marxisme komunisme selama 74 tahun sejak 1917 di Rusia sampai bubarnya Uni Soviet di tahun 1991. Pada tahun 1921 filsuf politik aliran liberal Jown Rawls di Amerika Serikat lahir dan memberikan sintesis teori sosial demokrasi liberal yang menghargai meritokrasi. Tetapi ia juga tetap menyantuni kelompok masyarakat yang tertinggal tanpa menghambat konstestasi individual berbasis equal klaim akan kesempatan luar terbuka dalam persaingan produktivitas.

Pada tahun 1999 dalam buku Law of the People Rawls seolah meramalkan bahwa dalam mandala global, kekuatan lebih yang dimiliki oleh negara demokrasi boleh dipakai untuk mendemokratiskan negara gagal yang membiarkan pelanggaran HAM berat democide terhadap rakyatnya sendiri. 

Pada tahun 1957 Presiden Sukarno mengumumkan konsepsi presiden untuk menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin sebagai alternatif dari demokrasi liberal Barat yang tidak cocok untuk Indonesia. Presiden mengusulkan pembentukan Kabinet Gotong Royong kaki -4 dengan mengikutsertakan semua partai terutama empat besar pemenang pemilu 1955.

Waktu itu kabinet Ali Roem Idham hasil pemilu 1955 hanya merupakan koalisi PNI Masyumi dan NU. Sementara, PKI dikucilkan di luar kabinet. Presiden juga mengusulkan pembentukan Dewan Nasional yang memberdayakan golongan fungsional di samping partai politik dan kabinet. By the way, 20 Februari 1957 adalah lahirnya Astra dan 21 Februari 1957 adalah berdirinya Bank  Central Asia yang dalam sejarahnya pernah mempunyai Komisaris  bernama Hasan Din, ayahanda Ibu Negara Fatmawati.

Tentu saja itu sejarah lama era 1950an ketika Jendral Soeharto hanya jadi Panglima Diponegoro. Nasib dua konglomerat pendiri Astra dan pendiri BCA berbeda tapi sangat saling terdampak dengan dinasti politik Indonesia. Tahun 1957 pada 10 Desember juga adalah lahirnya Permina di bawah Ibnu Sutowo yang akan menggurita jadi cikal bakal Pertamina.

Konsepsi Presiden itu memang akan terwujud secara “terpaksa” setelah Kabinet Ali jatuh Maret 1957, digantikan oleh Kabinet Karya Juanda yang disusun oleh Presiden Sukarno sendiri sebagai formatur memicu ketidakpuasan berupa  pemberontakan PRRI Permesta 15 Februari 1958. Dekrit Preiden kembali ke UUD 1945 pada 5 Juli 1959 mengukuhkan doktrin Konsepsi Presiden 21 Februari dengan dibentuknya Kabinet Kerja dipimpin Presiden Sukaro sendiri sebagai Perdana Menteri dan mantan PM Ir Juanda jadi Menteri Pertama.

Ideologi komunisme sedang mengalami pasang naik 1957 karena Uni Soviet mengorbitkan Sputnik dan mengorbitkan kosmonaut Uni Soviet mendahului AS. PKI memenangkan pemilu DPRD 1957 dan beberapa kursi Gubernur seperti Bali. Sementara, Walikota Solo diduduki oleh kader atau diusung  oleh PKI.

Perjuangan Irian Barat menutupi konflik api dalam sekam antara TNI/AD dalam membendung PKI, setelah pembubaran Masyumi/PSI 1960. PKI mengklaim sebagai partai komunis terbesar di luar RRT dan Uni Soviet dalam acara HUT 45 PKI pada 20 Mei 1965 di Stadion Utama. Tapi klaim arogan itu bagaikan balon meletus ketika kudeta G30S ditumpas habis oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto pada 1 Oktober 1965.

Dalam 100 hari sejak 1 Oktober situasi Indonesia memburuk dan sanering Rp1000 uang lama diganti Rp1 uang baru pada 13 Desember 1965 yang memicu demo besar mulai 10 Januari 1966 yang hanya makan waktu 60 hari lagi untuk memaksa Bung Karno mengeluarkan Supersemar. Dokumen itu juga membuka peluang bagi Soeharto untuk secara bertahap melengserkan kudeta merayap.

Bung Karno kembali melakukan blunder ketika memecat Menko Hankam KASAB Jendral A H Nasution pada reshuffle Kabinet Dwikora II 24 Februari 1966 yang memicu demonstrasi hingga menewaskan Pahlawan Ampera Arief Rahman Hakim.

Dengan Supersemar, Soeharto menahan 15 menteri Kabinet Dwikora II dan menciutkan jadi Kabinet Dwikora III serta merombak Kabinet 100 menteri dengan menurukan pangkat separuh menteri jadi deputy menteri (termasuk bekas Menko Maritim Ali Sadikin). Untung Bung Karno sempat mengangkat Ali Sadikin sebagai Gubernur pada 28 April 1966. Sebab sebelum Sidang Umum Ke-III MPRS mengubah status Supersemar dari sekedar perintah presiden menjadi Ketetapan MPRS yang justru akan dipergunakan oleh Soeharto sebagai keris Empu Gandring untuk mencabut kekuasaan Presiden Sukarno secara bertahap melalui MPRS.

Melalui proses SU III MPRS 22 Juni - 5 Juli 1966 TAP MPRS mewajibkan Presiden Sukarno membentuk Kabinet Ampera dengan Jendral Soeharto sebagai Ketua Presidium Kabinet. Maka Kabinet Dwikora III diganti Kabinet Ampera 25 Juli 1966. Laporan Pertanggung Jawaban Presiden Sukarno yang diberi judul "Nawaksara" ditolak oleh MPRS dan DPRGR. Proses pemakzulan sudah disiapkan sejak 9 Februari 1967 setelah penjelasan tambahan Presiden Sukarno pelengkap Nawaksara juga ditolak MPRS pada 10 Januari 1967.

Maka pada 20 Februari 1967 Bung Karno menyerahkan kekuasaan kepada Jendral Soeharto selaku Pengemban Supersemar. Penyerahan kekuasaan 20 Februari diumumkan 21 Februari dan Soeharto dikukuhkan jadi Pejabat Presiden oleh MPRS pada 12 Maret 1967.

Fast forward ke 1972, 21 - 28 Februari Presiden Nixon melakukan lawatan terobosan ke Beijing dan bertemu Ketua Partai Komunikasi Tiongkok Mao Zedong. Semua peristiwa itu telah menjadi sejarah yang tidak bisa diubah oleh siapa pun. Yang ingin saya tekankan dengan mazhab alternative history yang mulai berkembang setelah terbitnya buku "What If  Jesus Have Never Been Born" karya James Kennedy pada 1994 dan "What If" oleh Robert Cowley 2003 adalah beberapa putusan yang kemudian akan jadi blunder sejarah itu bisa dihindari oleh yang bersangkutan. Tentu catatan sejarah akan berbeda.

Tapi seperti dikata kuncikan oleh Hendrik Willem van Loon yang wafat pada 11 Maret 1944 bahwa Even God Cannot Change History. Kita dan bahkan Tuhan tidak bisa mengubah sejarah, tapi kita semua bisa membuat dan mengambil kebijakan sekarang berdasarkan pengalaman masa lalu, agar sejarah masa depan kita tidak sekedar daur ulang blunder sejarah masa lampau.

Dengan catatan itu saya kirimkan kolom ini kepada Bapak Jendral AM Hendropriyono dan Ibu Taty beserta Mas Andhika, Mas Diaz, anak cucu cicit sekalian. Selamat bersyukur memasuki Kawin Emas semoga tetap bahagia di masa depan melintasi usia seabad yang sudah menjadi standard WHO bahwa manusia akan bisa menuju Homo Deus berusia seabad. Semoga prediksi itu tidak dikalahkan oleh Covid-19. 

Tapi kalau membaca sejarah tentang 21 Februari yang masih banyak bisa digali kita harus tetap optimistis, beriman dan bersyukur serta berpengharapan dan tetap bekerja untuk turut menciptakan sejarah yang lebih bahagia dan terutama tidak mendaur ulang blunder masa lalu. God bless us all!

Opini by Christianto Wibisono, Ketua Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Topic:

  • Santi Dewi

Berita Terkini Lainnya