Comscore Tracker

Tak Hanya Sejarah, Inilah 4 Pelajaran Penting Dari Tragedi Mei 1998

Semoga tak pernah ada lagi tragedi seperti ini!

20 tahun lalu, tepatnya bulan Mei 1998, sebuah sejarah kelam menyelimuti negeri kita tercinta, Indonesia. Sebuah chaos besar-besaran terjadi di ibu kota dan kota-kota besar lainnya. Bagi mereka yang menjadi saksi mata, hari itu negeri ini seolah menjadi sebuah negara antah berantah, di mana manusia berubah menjadi kejam dan beringas.

Tragedi ini merupakan sebuah kisah yang menyakitkan dan menyedihkan bagi ibu pertiwi. Bermula dari krisis moneter dan tewasnya 4 mahasiswa Trisakti saat melakukan unjuk rasa 12 Mei 1998, kemarahan rakyat kepada rezim orde baru semakin menjadi-jadi setiap harinya.

Puncaknya sebuah kerusuhan besar yang tak manusiawi meletus di beberapa kota, termasuk Jakarta. Penjarahan, pembakaran, pelecehan seksual, pemerkosaan hingga pembunuhan pun menjadi sebuah kisah yang menyelimuti tragedi ini.

Api di Klender, Jakarta Timur menjadi sebuah tragedi yang paling parah. Saat itu masa membarikade dan membakar Yogya Dept Store, di mana kurang lebih seribu orang harus terjebak dan meregang nyawa di sana.

Namun di balik setiap kisah pasti akan selalu terselip sebuah hikmah, sekelam apapun ceritanya. Bagi kita sebagai generasi millennial, sejarah tersebut haruslah menjadi cermin supaya mampu membuat negeri ini jadi lebih baik lagi.

Empat hal ini yang bisa kamu lakukan saat berkaca dari kisah Mei 1998.

1. Mahasiswa merupakan sang tonggak perubahan, perbaikilah negeri kita dengan pendidikan

Tak Hanya Sejarah, Inilah 4 Pelajaran Penting Dari Tragedi Mei 1998pexels.com/ Pixabay

Satu hal yang melatar belakang tragedi Mei 98 adalah runtuhnya perekonomian Asia yang menyebabkan jatuhnya nilai Rupiah terhadap Dolar. Hal tersebut menjadi efek domino, yang kemudian membuat harga-harga barang dan kebutuhan pokok naik.

Tak ayal hal tersebut membuat rakyat menjerit. Ditambah lagi dengan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahan orde baru yang dipimpin Soeharto saat itu.

Mahasiswa pun saat itu menjadi tombak pertama yang berani menyuarakan pikirannya melalui unjuk rasa, meskipun militer tak kalah garang menghadang mereka. Tragedi Trisakti merupakan saksi jika mahasiswa saat itu menjadi agen perubahan untuk negeri ini. Meskipun harus menelan korban, namun sebuah pembaruan lahir pada Mei 1998 yaitu Reformasi.

Namun bagi kita yang hidup di era sekarang ini, untuk sebuah perubahan negeri yang lebih baik lagi tidaklah harus sampai meneteskan darah. Generasi muda bisa memulainya dengan belajar sebaik mungkin dan meraih prestasi setinggi-tingginya.

Pendidikan adalah senjata sebuah perubahan. Maka jika kita sebagai generasi muda dibekali dengan pendidikan yang baik, arah negeri ini ke depannya pastilah baik pula.

2. Apapun warna kulitmu, perbedaanlah yang membuat kita menjadi kesatuan yang indah

Tak Hanya Sejarah, Inilah 4 Pelajaran Penting Dari Tragedi Mei 1998.idntimes.com

Isu rasial menjadi yang paling serius saat aksi kerusuhan Mei 1998. Tak sedikit rumah dan toko milik oleh orang Tionghoa menjadi sasaran penjarahan serta pembakaran massa yang beringas saat itu. Bahkan mereka menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan pada saat itu.

Entah siapa yang memulainya. Namun satu hal yang pasti. Mereka yang bertanah air, berbahasa dan berwarga negara Indonesia, apapun warna kulit dan agamanya, pasti memiliki hak yang sama di negara ini.

Isu diskriminasi etnis memang tak hanya terjadi di Indonesia saja. Bahkan menjadi permasalahan dunia sejak dulu. Satu hal yang menurut saya menjadi sebuah pemicunya. Yaitu cara kita memandang terhadap manusia. Nilai tinggi seorang manusia bukan dilihat dari warna kulit ataupun asal mereka. Namun dari nilai-nilai kebaikan yang ada dalam diri mereka.

Kadangkala, untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik lagi, bukanlah dengan cara mengubah dunia itu sendiri. Melainkan dengan mengubah cara pandang, hati dan diri kita sendiri. Kita seringkali salah menafsirkan dunia ini.

Kita memandangnya hanya dari sudut mata kita sendiri. Padahal dunia ini isinya beraneka ragam manusia. So, stop diskriminasi dan mulailah melihat perbedaan dari berbagai sudut pandang. Akan selalu ada keindahan di dalamnya.

3. Negara wajib melindungi perempuan

Tak Hanya Sejarah, Inilah 4 Pelajaran Penting Dari Tragedi Mei 1998ert.gr

Isu lain yang tak kalah menyedihkan dari tragedi 1998 adalah kasus pelecehan dan pemerkosaan terhadap perempuan. Bahkan tak sedikit dari mereka tak mendapatkan keadilan hingga saat ini. Mereka harus menanggung penderitaan yang tak terkira baik mental maupun secara fisik.

Sayangnya, saat ini pun isu tersebut masih menjadi masalah, dan kurang mendapatkan perhatian yang cukup baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Perempuan merupakan tiang Negara yang harus mendapatkan perlindungan dan keadilan dari Negara. Peran perempuan dalam memperbaiki negeri ini tak kalah penting dari peran laki-laki. Sehingga Negara wajib memberikan perlindungan dan ruang yang lebih bagi mereka untuk bergerak memperbaiki negeri ini.

Para perempuan yang menjadi TKW di luar negeri merupakan pahlawan devisa negeri ini. Maka Negara wajib melindungi mereka dengan undang-undang, yang memastikan mereka mendapatkan haknya secara utuh.

Para perempuan yang mampu berprestasi, maka Negara wajib mensupport dan mewadahi mereka untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi.

Di sisi lain, perempuan juga harus mendapatkan ruang untuk berekspresi. Namun tentunya sesuai dengan koridor agama, budaya dan nilai yang dianut oleh bangsa ini. Apalagi dengan kondisi zaman sekarang, di mana kita mudah dimasuki budaya-budaya asing, yang terkadang tak sesuai dengan nilai-nilai bangsa ini.

Sehingga sangat penting juga bagi kita, khususnya perempuan, untuk memiliki prinsip-prinsip hidup yang kuat. Sehingga mampu untuk melindungi diri dan orang lain di sekitar kita.

4. Bekerja sesuai passion, sebuah gerakan memajukan bangsa

Tak Hanya Sejarah, Inilah 4 Pelajaran Penting Dari Tragedi Mei 1998idntimes.com

Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu lakukan untuk negaramu.

- Mantan presiden Amerika Serikat, John F Kennedy -

Di tengah berbagai permasalahan negeri ini, kita perlu menjadi pemecah masalah, bukan menambah masalah. Tragedi Mei 1998 menjadi cerminan jika ekonomi merupakan permasalahan yang harus kita selesaikan bersama-sama. Kita tak bisa menggantungkan semuanya kepada pemerintah.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Entreupreneurship dan bekerja sesuai passion merupakan kunci bagi generasi muda saat ini, untuk memberikan kontribusi bagi negeri kita. Mampu menciptakan lapangan kerja sendiri akan menjadi hal yang sangat luar biasa jika bisa dilakukan oleh anak-anak muda sekarang.

Sudah banyak sekali contohnya. Seperti Winston Utomo melalui IDN Times, Achmad Zaky dengan Bukalapaknya, hingga Dian Pelangi yang mampu menjadi perepmuan paling berpengaruh di Asia berkat passionnya dalam fashion.

Mereka bisa menjadi contoh-contoh anak muda yang menginspirasi. Kita pun bisa menjadi seperti merek. Diawali dari sebuah langkah kecil, yaitu melakukan sesuatu yang kita sukai dan memberikan manfaat bagi orang lain sekecil apapun.

Ganjar Firmansyah Photo Community Writer Ganjar Firmansyah

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Community IDN Times

Topic:

  • Irma Yudistirani

Just For You