Comscore Tracker

Pandemik COVID-19 dan Gaya Liputan Baruku

Kegiatanku sehari-hari meliput di Istana sangatlah seru

Aku jurnalis IDN Times. Sehari-hari, aku ditugaskan meliput agenda Presiden Joko "Jokowi" Widodo, mulai agenda harian presiden hingga keterangan-keterangan pers para menteri usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan.

Sebelum pandemik COVID-19 melanda, kegiatanku sehari-hari meliput di Istana sangatlah seru. Bisa bertemu teman-teman dari media lain, bisa melontarkan pertanyaan langsung kepada para menteri lewat doorstop dan bisa mengikuti konferensi pers secara langsung di Kantor Presiden atau pilar Istana.

Namun, setelah pandemik melanda, semua berubah. Aku yang tak siap dengan datangnya pandemik ini merasa jenuh, kesal, hingga bosan menjalani aktivitas sehari-hari. Tetapi, kondisi memaksaku harus melalui semua ini.

Liputan yang berbeda, dari semula di lapangan hingga bekerja dalam ruangan

Pandemik COVID-19 di Indonesia sudah hampir setahun melanda. Selama itu pun aku harus menjalani aktivitas di rumah. Kini, aku tak bisa lagi duduk bersama teman-teman wartawan lainnya di pressroom ataupun wawancara langsung lewat doorstop bersama menteri.

Pandemik virus corona yang datang tiba-tiba ini menuntutku harus melakukan segala aktivitas melalui virtual. Meliput keterangan pers lewat virtual, menghubungi narasumber lewat telepon atau WhatsApp, hingga meliput kegiatan presiden juga harus virtual.

Semua aktivitas ini baru kurasakan di saat pandemik. Sebagai orang lapangan, aku dituntut harus selalu stand by di pos liputan yaitu Istana. Sekarang, rasanya berbeda. Aku harus menulis berita di dalam kamar setiap harinya. Sosialisasi dengan teman-teman hanya melalui WhatsApp. Interaksi dengan narasumber juga harus virtual.

Melakukan kegiatan yang disukai untuk menghindari stres

Selama pandemik melanda, kegiatanku serasa membosankan karena tidak bisa meliput ke lapangan. Aku merasa pekerjaan juga semakin banyak saat bekerja di rumah. Mulai dari agenda liputan yang menumpuk, hingga berita-berita yang ditulis semakin banyak.

Tidak dipungkiri, bekerja dari rumah dan pandemik tentu membuatku stres. Tapi, aku coba isi kegiatan di rumah itu dengan olahraga atau menonton film agar bisa menghilangkan stres.

Sesekali juga kuajak teman-temanku bertemu di sebuah kafe, agar masih bisa merasakan sosialisasi bertemu dengan orang-orang secara tatap muka. Tetapi, tetap dengan mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

Berbagai cara dilakukan agar pandemik ini tidak menyerang kesehatan mental. Karena yang awalnya terbiasa di lapangan, sekarang aku harus terbiasa bekerja dalam ruangan.

Positif COVID-19 bukanlah akhir segalanya

Setiap hari aku selalu menulis berita-berita mengenai COVID-19. Tak disangka, aku pun harus merasakan jadi pasien COVID-19. Akhir tahun lalu, aku harus menerima kenyataan positif COVID-19.

Awalnya, aku merasakan demam, batuk dan flu yang tak kunjung sembuh. Kondisi kesehatan menurun setelah meliput reshuffle kabinet di Istana. Aku juga saat itu tidak disiplin mengkonsumsi vitamin, sehingga mungkin daya tahan tubuhku lemah.

Setelah merasa demam, batuk dan flu yang tak kunjung sembuh, akhirnya aku mencoba untuk melakukan rapid antigen. Keesokan harinya, aku kaget karena melihat hasilnya positif. Untuk lebih memastikan lagi, akhirnya aku mencoba PCR tes. Namun, ternyata hasilnya tetap positif.

Usai dikonfirmasi positif, aku harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Pada saat itu, Wisma Atlet memang sedang penuh, jadi pihak puskesmas menyarankan agar melakukan isolasi mandiri di rumah, dengan protokol yang ketat.

Sekitar dua mingguan menjalani isolasi mandiri di rumah, sebisa mungkin aku harus membuat diriku bahagia karena imun tidak boleh sampai turun. Sejak positif COVID-19, akhirnya aku rajin mengkonsumsi vitamin dan semakin giat berolahraga.

Jadi, aku mengingatkan kepada kalian agar selalu menjaga kesehatan. Selalu terapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak). Karena hanya itulah yang bisa melindungimu dari COVID-19.

#SatuTahunPandemik adalah refleksi dari personel IDN Times soal satu tahun virus corona menghantam kehidupan di Indonesia. Baca semua opini mereka di sini.

Baca Juga: Setahun Pandemik: Kawal Orangtua adalah Jalan Ninjaku

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya