Comscore Tracker

Drastis! Transformasi Komunikasi BI di Era Digital

Manfaatkan semua saluran media

Batam, Indonesia – Ada banyak kisah soal bagaimana mengelola komunikasi sebuah bank sentral. “Never Explain, Never Excuse”, demikian kata-kata Montagu Norman, Gubernur Bank England, bank sentral Inggris yang menjabat pada 1921-1944.

Manusia bisa salah. Tapi kalau pengelola bank sentral melakukan kesalahan, mereka tidak akan menjelaskan, tidak akan minta maaf kepada publik. Pada dasarnya, bank sentral adalah lembaga yang bekerja dalam diam. Sebuah buku yang ditulis William Greider berjudul, Secrets of The Temple, How The Federal Reserve Runs The Country, menggambarkan bank sentral AS itu sebagai sebuah “Kuil Rahasia”.

Bukan hanya itu, sebuah buku soal sosok Alan Greenspan, Ketua Fed yang dianggap legendaris bahkan memotret dia bagaikan “penyihir”. Lewat tongkat sihirnya, keputusan menaikan atau menurunkan suku bunga, Greenspan membangun reputasi sebagai penentu ekonomi AS, dan pastinya ekonomi dunia. Orang mencermati warna tas kerja yang digunakan Greenspan pada hari pengambilan keputusan penting itu.

Apakah tas warna coklat? Atau warna hitam? Bertahun-tahun kemudian hal itu diceritakan Andrea Mitchell jurnalis senior di NBC TV, dalam buku memoarnya, Talking Back to Presidents, Dictators and Assorted Scoundrels. Andrea Mitchell adalah istri Greenspan. Ketua Fed, sebutan untuk gubernur bank sentral di negeri Barack Obama ini menjadi bukti lain, bank sentral dikelola dalam sunyi, tak banyak bicara. Greenspan menjabat Ketua Fed cukup lama, 1987 sampai 2006.

Meliput Bank Indonesia adalah area penugasan pertama saya sebagai jurnalis, saat memulai profesi ini awal 1990an. BI, Departemen Keuangan, dan Menteri Koordinator Ekonomi Industri serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bagaikan “rumah” bagi saya setiap harinya. Saya menghabiskan berjam-jam setiap harinya meliput lembaga ini sebagai jurnalis di majalah mingguan Warta Ekonomi. Itu adalah era di mana mendapatkan komentar gubernur BI atau pejabat bank negara, hanya bisa saat mereka mau bicara. Bisa saat pidato baik di acara instansi, atau di peluncuran sebuah bank.

Saat itu sedang terjadi deregulasi pendirian bank. Hampir setiap hari ada peresmian kantor bank yang baru. Di luar itu, Gubernur BI Adrianus Mooy, biasanya menjawab cecaran pertanyaan jurnalis dengan senyum. Begitu pun, kami jurnalis lapangan tak putus asa, tetap rajin doorstop, mencegat narasumber.

Kendati demikian, saat itu BI sudah menunjuk seorang jurubicara, namanya Dahlan Sutalaksana. Jabatan resminya adalah direktur Pasar Uang dan Giralisasi, tetapi ditambah jadi jubir. Dahlan sosok yang cukup sabar menghadapi cecaran pertanyaan jurnalis. Sosoknya ramah, selalu berusaha terbuka kepada jurnalis, sekalipun mewakili institusi yang terkesan “rahasia”.

BI di era Dahlan mulai membuka diri. Jurnalis boleh masuk ke area kantor di kawasan Jalan MH Thamrin. Ruang Chandra, tempat acara di kantor BI jadi langganan tujuan peliputan. Kami juga boleh “menerobos” dan wawancara Pak Dahlan sampai ke ruangannya. Belum ada telepon seluler saat itu. Satu-satunya cara dapat informasi adalah bertemu langsung.

Pengalaman meliput BI itu kembali muncul saat saya diminta  menjadi salah satu pembicara di forum Peningkatan Kapasitas untuk Media, yang dilakukan BI Kepulauan Riau, di Batam, pekan lalu, 12 November 2021. “Kami di BI Kepri, berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan stakeholders, termasuk media. Di era digital kami harus sesuaikan pola komunikasi agar masyarakat dapat perkembangan informasi secepat mungkin,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri, Musni Hardi Kasuma Atmaja, saat kami berbincang-bincang, usai acara itu.

Saat membuka acara yang berlangsung di sebuah hotel di Batam itu, Musni mengatakan bahwa masyarakat diharapkan memahami kata dan data yang disajikan dalam bentuk berita, sehingga tidak ada salah penafsiran.

Kepada 25-an jurnalis yang mengikuti acara, Musni menyampaikan tiga tugas BI, yaitu mengelola sistem moneter, sistem pembayaran dan stabilitas sistem keuangan.

Drastis! Transformasi Komunikasi BI di Era DigitalIDN Times/Hana Adi Perdana

Baca Juga: Gubernur BI: Digitalisasi Kunci Akselerator Pemulihan Ekonomi

Saluran komunikasi kebijkan di BI dikuatkan dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Di era digital interaktivitas, komunikasi dua arah dilakukan lewat website maupun akun media sosial resmi BI.

Penjelasan lebih detail soal bagaimana transformasi komunikasi di BI, disampaikan Irfan Farulian, Kepala Divisi Relasi Media Massa dan Opinion Maker, Departemen Komunikasi Bank Indonesia. Irfan mengutip ucapan Gubernur BI Perry Warjiyo yang mengatakan, “Komunikasi merupakan instrumen kebijakan yang sangat kuat agar kebijakan tersebut dapat diterima baik oleh pemangku kepentingan. Apabila hal ini terwujud maka kredibilitas bank sentral akan dapat dicapai.”

Gubernur Perry beranggapan, “meningkatnya kredibilitas bank sentral akan dapat meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan moneter itu sendiri.” Singkat kata, fungsi komunikasi sebagai instrumen kebijakan membentuk ekspektasi dan literasi.

Tantangan yang harus dijawab komunikasi BI digital tak lepas dari pola konsumsi informasi masyarakat saat ini. Mengutip laporan Reuters Institute-Oxford University 2021, Irfan memaparkan bahwa kian banyak yang mengakses informasi lewat saluran digital.

Menurut studi itu, 58 persen sumber berita berasal dari televisi, 89 persen dari media daring termasuk media sosial, 20 persen mendapatkannya dari media cetak, dan 64 persen dari media sosial saja. Sebanyak 85 persen mengakses berita lewat telepon seluler, 37 persen dari komputer, 10 persen dari tablet dan hanya 19 persen yang membayar untuk mengakses media digital.

“Komunikasi BI juga harus bisa mengimbangi maraknya hoaks di era post-truth,” kata Irfan.

Menyesuaikan diri dengan bagaimana masyarakat mengakses informasi, BI mendekati khalayak lewat hampir semua saluran yang ada, termasuk website resmi yang saat November 2021 memiliki pengguna lebih dari 2,8 juta. “Jika kita lihat top pencarian setiap harinya adalah soal kurs BI,” ujar Irfan.

Komunikasi di era 4.0 yang dijalankan bank sentral ini bahkan sudah menyediakan layanan chat-bot yang bisa menjawab pertanyaan yang sering datang dari pengguna. “BI juga memiliki BI Mobile Apps,” kata Irfan.

Baca Juga: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 3,5 Persen

Kegiatan membangun kapasitas bagi awak media adalah bagian dari upaya BI membangun komunikasi dengan media yang menjadi jembatan dengan khalayaknya.

‘Beberapa dekade lalu, ada semacam kesepahaman di lingkungan bank sentral bahwa pembuat kebijakan moneter sebaiknya gak banyak bicara. Dalam tahun belakangan pemahaman akan komunikasi dan transparansi di lingkungan bank sentral berubah drastis. Makin jelas bagi semuanya bahwa mengelola ekspektasi adalah pusat dari perumusan kebijakan moneter, kebijakan komunikasi meningkat perannya menjadi instrumen kunci pengelolaaan bank sentral,” demikian Alan S. Blinder dan kawan-kawan penulisanya, dalam kertas kerja soal komunikasi bank sentral dan kebijakan moneter, yang diterbitkan bank sentral Eropa pada 2008.

Salah satu hal menonjol dari BI sebagai lembaga yang kokoh dan gak pernah kekurangan dana, adalah kualitas riset dan surveinya yang mumpuni. Setiap tahun, saya pun selalu menunggu Pidato Akhir Tahun Gubernur BI yang isinya adalah prospek perekonomian dan arah kebijakan BI. Tahun ini, akan disampaikan pada 24 November 2021, lewat saluran YouTube, Facebook dan Instagram BI. Untuk komunikasi soal ini pun, BI memasang iklan separuh halaman di koran terkemuka. Soal komunikasi publik, BI memang all-out.

Baca Juga: Bank Indonesia: Pengertian dan Sejarahnya

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya