Comscore Tracker

Tahun 2020, Tahun Pandemik dan Tarik Rem Darurat

COVID-19 masih merajalela

Jakarta, IDN Times – Tahun 2020 bisa digambarkan dalam berbagai bentuk ekspresi. Tahun pandemik COVID-19. Tahun penuh ketidakpastian. Tahun bersejarah. Tahun yang luar biasa. Tahun yang tidak terbayangkan (unprecedented). Tahun akselerasi digital. Ada banyak istilah yang bisa disematkan.

Bagi saya, dan mungkin bagi sejumlah warga dunia juga, tahun ini adalah tahun penuh doa (prayers), bersabar (patience), penuh kegigihan (persistence) dan tahun di serba kepepet, sehingga kita harus memutar otak dan kreasi untuk bertahan secara pragmatis (pragmatic).

Saya termasuk jutaan individu yang memasuki lorong panjang pandemik dengan was-was, karena memiliki penyakit bawaan alias komorbid. Menjalankan disiplin protokol kesehatan 3 M, yaitu menggunakan masker, menjaga jarak fisik dari kerumunan dan sering mencuci tangan dengan air sabun mengalir, saya coba jalankan dengan ketat.

Begitu pula konsumsi vitamin, berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi (kecuali kalau hari mendung), dan olahraga ringan minimal 30 menit sehari. Dari hari ke hari, berdoa untuk diri sendiri, keluarga, teman, kenalan dan semuanya. Pandemik mengajarkan satu hal penting, kita tidak mungkin sehat sendirian. Semua orang perlu sehat dan bertahan dari sengatan virus.

Baca Juga: 10 Hal Bagaimana Pandemik Virus Corona Mengubah Dunia

Tahun 2020, Tahun Pandemik dan Tarik Rem DaruratDokter meninggal karena COVID-19 ( ANTARA FOTO/Ampelsa)

Tsunami pandemik yang menyapu dunia pola hidup, termasuk bekerja dan belajar. Membatalkan sejuta rencana. Jutaan orang mengalami pemutusan hubungan kerja, kekerasan dalam rumah tangga, meningkat beban kerja karena terkurung di rumah saja. Pembatasan aktivitas dengan segala konsekuensinya. Bersabar jadi mantra, termasuk melihat mereka yang tak peduli bahkan tidak percaya virus corona, pemerintah yang penuh penyangkalan dan menanggapi pandemik dengan bercanda. 

Saya termasuk yang beruntung. Terbiasa bekerja dari rumah sejak akhir 2014. Memiliki tempat bekerja yang nyaman di rumah. Keluarga yang mendukung dan bisa diajak berbagi dalam kerja rumah tangga, olahraga sampai menyeimbangkan hidup dengan hobi dan sejenak hidup udara segar. Anak yang sudah cukup dewasa. Tim kerja yang muda dan adaptif, kantor yang sejak awal menganggap pandemik adalah hal yang perlu disikapi serius, dan banyak lagi. Tapi, saya tahu banyak yang kondisinya berbeda.

Pandemik menjadi etalase kegigihan, perjuangan. Dari dokter dan tenaga kesehatan, usaha rumahan, baik yang lama maupun yang baru, karena tuntutan hidup tuk bertahan. Pekerja lepas yang mendadak kehilangan mata pencaharian, anak-anak yang belajar dan kesulitan cari sinyal. Masih banyak lagi. Termasuk kegigihan kami di media. Menangkap peluang akselerasi digital, menjadi garda depan mencari berita, berjibaku dengan perubahan kerja dan kegiatan dari luring ke daring. Apa saja dilakukan, selama halal dan tidak melanggar etik moral.

Baca Juga: [LINIMASA-4] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia

Tahun 2020, Tahun Pandemik dan Tarik Rem DaruratIlustrasi personel Satgas Mobile COVID-19 memeriksa kondisi pasien diduga terjangkit virus Corona (COVID-19) di ruang isolasi Rumah Sakit Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Rabu (11/3). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Pandemik ini adalah perang panjang dengan musuh yang tidak kelihatan. Banyak hati tercekat, menahan lara tak bisa memeluk keluarga yang meregang nyawa. Dari nama yang hanya kenal di deretan kalimat berita, korban yang gugur dalam perjuangan melawan virus corona makin dekat ke lingkaran sahabat dan keluarga. Hari terakhir 2020, bertambah 8.002 kasus menjadi 735 ribu, 21.944 meninggal dunia dan 604 ribu sembuh. Kurva pandemik terus mengirim sinyal menggetarkan jiwa.

Tahun 2021, kita dijanjikan peluru perak, vaksin. Pejabat menebar harapan dan janji pemulihan ekonomi. Saya mengamini semua harapan, karena siapa sih yang ingin hidup terus dalam belenggu ketakutan seperti ini? Siapa yang tak ingin bertemu sanak keluarga, berpelukan melepas kangen yang tertahan? Bekerja dan ngobrol ceria di kantor dengan teman. Bepergian menikmati Indonesia dan dunia? Tapi, kita harus banyak berdoa, bersabar, berjuang dan berkreasi apa saja yang bisa kita lakukan. Bersyukur, bertahan.

Minggu-minggu terakhir 2020, saya banyak meluangkan waktu untuk “hening”, “diam”, seraya menjelajahi Kebun Raya. Dalam sepi pada pagi hari, sambil memacu kaki, fokus mencapai target 10 ribu langkah, saya mencoba “menjauh” dari kebisingan. Stillness is The Key, demikian judul buku tulisan Ryan Holiday. Mengumpulkan energi dan semangat untuk menyambut 2021, masih dengan sisa-sisa ketidakpastian. COVID-19 masih merajalela. Pandemik pada 2020, bagaikan rem darurat. Untuk dunia. Untuk kita.

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya