Comscore Tracker

[OPINI] Dualisme Peran Sebagai Ibu dan Working Mother

Bagaimana jika seorang ibu juga harus WFH?

Hadirnya pandemi Covid-19 memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan kebijakan dan kebiasaan baru, salah satunya adalah kebijakan Work From Home (WFH). Nyatanya tidak hanya petugas kesehatan saja  yang beban kerjanya meningkat, namun seorang ibu yang bekerja atau working mother juga salah satunya. Menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, dalam prosesnya sangat menguras tenaga dan emosi. Kemudian ditambah diberlakukannya kebijakan Work From Home dan School From Home yang mengharuskan seorang ibu merangkap kedua peran sebagai ibu dan working mother. Hal tersebut ternyata membawa dampak pada kesehatan psikologis seorang ibu.

Mengacu pada hasil temuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Profil Perempuan Indonesia (2019), pekerja perempuan berumur 15 tahun keatas yang berstatus kawin sebesar 80 persen dengan rata-rata waktu kerja 40 jam dalam seminggu. Kebanyakan motivasi seorang perempuan untuk  bekerja antara lain, tuntutan finansial, menggantikan peran suami, pemanfaatan kondisi kesehatan, dan adanya eksistensi sebagai ibu sekaligus wanita pekerja merupakan contoh terbaik dalam keluarga. Mungkin bagi sebagian perempuan karier kebijakan WFH merupakan sebuah privelese, tetapi tidak bisa menampik fakta bahwa bagaimana lekatnya pekerjaan domestik pada perempuan. Melekatnya pekerjaan domestik membuat para ibu pekerja tidak bisa sepenuhnya fokus pada kesibukan kantor, melainkan memaksanya untuk bisa melakukan multitasking.

Multitasking merupakan aktivitas melakukan beberapa hal dalam satu waktu. Nyatanya multitasking tidak mempercepat pekerjaan selesai, justru menurunkan produktivitas. Ketika menjalankan multitasking, fokus akan terpecah dan dapat berdampak panjang pada kondisi psikologis seseorang. Ibu pekerja lebih rentan mengalami konflik pekerjaan dan keluarga (work-family conflict) (Susanti, Matulessy, & Pratikto, 2017). Seorang ibu diposisikan untuk tetap bisa mengurus anak, suami, dan rumah tangga bersamaan dengan kewajiban kantor. Beberapa mungkin memiliki ART untuk membantu pekerjaan rumah, namun bukan berarti membebaskan seorang ibu terhadap distraksi yang ada. Butuh waktu, energi, dan emosi untuk memfokuskan diri mengimplementasikan ide dalam pekerjaan.

Mindfulness sebagai sebuah solusi

[OPINI] Dualisme Peran Sebagai Ibu dan Working MotherLionsroar.com

Kondisi demikian tanpa disadari berpengaruh pada kesejahteraan psikologis seorang ibu. Sejalan dengan apa yang dikemukaan Carol Ryff (1898, dalam Susanti, Matulessy, & Pratikto, 2017) terdapat enam dimensi kesejahteraan psikologis (psychological well-being), yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan perkembangan pribadi. Ibu pekerja yang mengalami work-family conflict akan mempengaruhi dimensi kesejahteraan psikologisnya. Misalnya, berawal dari rasa stres buruk akibat beban pekerjaan atau pekerjaan yang menumpuk. Akhirnya, menimbulkan emosi yang tidak stabil dan berdampak pada penurunan kinerja juga produktivitas. Ada pula situasi seorang ibu yang berhadapan pada kondisi tidak pernah jenak, seakan dituntut harus tetap produktif saat WFH yang mengarah pada toxic productivity.

Kemudian apa yang bisa dilakukan ibu pekerja untuk mengatasi hal tersebut? Salah satu caranya adalah membiasakan praktek mindfulness atau sadar penuh dalam kegiatan sehari-hari. Sejalan dengan definisi Kabat-Zinn, mindfulness adalah kesadaran  yang timbul dari memberi perhatian akan sebuah pengalaman saat ini secara disengaja, tanpa penilaian supaya merespon dengan penerimaan bukan bereaksi terhadap pengalaman sehari-hari (1990, dalam Maharani, 2016). Singkatnya, dengan mempraktekkan mindfulness diharapkan seseorang memiliki kesadaran untuk dapat memaknai sebuah peristiwa baik atau buruk secara netral, sehingga menghasilkan kesejahteraan diri.

Dalam mindfulness, kesadaran difokuskan pada masa kini, bukan pada penyesalan masa lalu atau ketakutan akan masa depan. Kesadaran yang muncul membantu untuk melihat situasi dan permasalahan secara lebih jernih juga menghadirkan alternatif penyelesaian. Terlepas dari berbagai peran yang harus dijalani, berdasarkan penelitian yang dilakukan Ruth Natalian Susanti dkk (2017)  mindfulness dapat tingkatkan kondisi psychological well-being ibu pekerja. Bentuk latihan mindfulness yang dilakukan ibu pekerja yang mengalami work-family conflict dalam penelitiannya, seperti mindful breathing, body scan, mindful activity, dan mindful drinking tea.

Kondisi mindful nyatanya memberikan kesadaran terhadap kontrol diri pada individu, mengurangi timbulnya keterpecahan pikiran, perasaan tidak nyaman, gelisah, dan cemas. Sehingga mengurangi beban yang timbul dari peran ganda seorang ibu dalam kesehariannya. Ketika seseorang melihat situasi lebih jernih, menghasilkan keputusan yang lebih tepat yang harapannya tercapai keseimbangan di antara dunia kerja maupun keluarga.

Sumber Rujukan:

Agustina, R., & Sudibya, I. G. (2018). Pengaruh Work Family Conflict terhadap Stres Kerja dan Kinerja Wanita Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Praya Lombok. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 7.3 .

Maharani, E. A. (2016). Pengaruh Pelatihan Berbasis Mindfulness terhadap Tingkat Stress Pada Guru Paud. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan 9 (2) .

Marliani, R., Nasrudin, E., Rahmawati, R., & Ramdani, Z. (2020). Regulasi Emosi, Stres, dan Kesejahteraan Psikologis: Studi Pada Ibu Work From Home dalam Menghadapi Pandemi Covid-19.

Badan Pusat Statistik. (2019). Profil Perempuan Indonesia 2019. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Susanti, R. N., Matulessy, A., & Pratikto, H. (2017). Efektivitas Pelatihan Mindfulness Untuk Meningkatkan Psychological Well-Being Ibu Bekerja yang Mengalami Work Family Conflict. Kariman 5(2) .

Baca Juga: [OPINI] Definisi Cantik bagi Perempuan, Bisakah Berubah?

Almira Shakilla Photo Writer Almira Shakilla

Never been better

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya