Comscore Tracker

[Opini] Ngeksis Karena Bencana: Antara Charity, Musisi, & Gempa Lombok

Mendadak Jogja dipenuhi poster-poster konser charity

Gempa di Lombok mendadak menjadi berita utama di media massa dan elektronik. Korban gempapun terbilang sangat banyak dan merusak berbagai bangunan hingga sarana infrastruktur lainnya. Presiden beserta jajarannya langsung turun tangan untuk menangani kondisi yang ada.

Cuitan simpati tentang bencana ini datang dari berbagai orang di penjuru Indonesia (Bahkan Dunia). Hal-hal lainpun dilakukan agar dapat membantu korban bencana di Lombok. Satu hal mendasar yang dilakukan adalah melakukan penggalangan dana dan barang.

Berbagai cara dilakukan untuk melakukan penggalangan dana dan barang tersebut. Mulai dari “turun langsung” ke jalanan hingga menebar spanduk pengalangan yang berisi nomor rekening. Narasi tentang pedihnya bencana semakin digaungkan agar menumbuhkan rasa simpati dari masyarakat, sehingga mau menyumbang. Kalangan-kalangan tertentu seperti musisi tidak mau kalah dan ikut melakukan penggalangan juga. Seperti mengadakan konser musik Charity.

Tempat saya berdomisili, yaitu Yogyakarta, mendadak dipenuhi poster-poster konser charity yang diadakan oleh berbagai musisi. Publikasi gencar dilakukan baik melalui publikasi fisik maupun melalu media sosial. Setiap komunitas musik di penjuru Yogyakarta mengadakan konser charity-nya dengan tetap menyesuaikan gaya musik setiap komunitas tersebut.

Bahkan ada beberapa grup musik yang tampil pada lebih dari satu konser charity. Pembuatan acara-acara seperti ini menjadi tidak kalah besarnya dengan konser musik gratisan yang kerap diadakan oleh berbagai perusahaan rokok.

Di satu sisi kita menjadi terenyuh. Karena setiap kalangan termasuk musisi ikut peduli dengan kondisi yang sedang menimpa saudara kita di Lombok. Biarpun begitu, ada satu sisi lainnya yang perlu diangkat, benarkah konser-konser charity itu merupakan murni kepedulian terhadap sesama? Apakah tidak ada “agenda lain” di balik acara tersebut? Benarkah mereka tidak menuai keuntungan dibalik konser charity yang mereka adakan?

Tulisan ini tidak untuk membangun opini bahwa para musisi yang membuat konser charity adalah munafik. Biarpun begitu tidak bisa dipungkiri bahwa ada hasil-hasil lain yang pasti didapat dari pengadaan konser charity. Gempa dan Tsunami di Aceh pada tahun 2004 dan gempa di Yogyakarta pada tahun 2006 mampu mengangkat satu artis senior kembali ke popularitas, yaitu Ebiet G Ade.

Setiap ada bumper untuk liputan khusus bencana tersebut atau ringkasan cuplikan mengenai dampak bencana, lagu-lagu dari Ebiet G Ade menjadi background music-nya. Alhasil generasi millennialpun menjadi sangat familiar dengan karya beliau.

Contoh lainnya adalah ketika terjadinya pertempuran Gaza sekitar tahun 2008-2009. Musisi asal Amerika bernama Michael Heart membuat lagu berjudul We Will Not Go Down. Lagu itu berisi tentang semangat orang-orang di Gaza, yang tidak pernah menyerah terlepas dari sengitnya pertempuran dengan Israel. Karya ini juga sebagai bentuk dukungan Heart terhadap Palestina.

Lagu inipun menjadi populer dan hits, biarpun lagu tersebut bisa diunduh gratis dan tidak menerima profit apapun. Orang-orangpun menjadi semakin tertegun dengan keadaan di Gaza. Karena lagu tersebut dan semakin banyak orang yang menyumbang melalui berbagai organisasi kemanusiaan.

Sekali lagi, saya tidak menuduh para musisi seperti Ebiet G Ade dan Michael Heart ini sebagai orang yang mengambil “keuntungan” dari bencana (Bahkan lagu yang diangkat dalam setiap bumper atau cuplikan kejadian bencanapun pasti bukan keinginan awal dari pak Ebiet, melainkan dari instansi medianya).

Saya yakin bahwa tidak semua musisi-musisi yang melakukan konser charity untuk saudara kita di Lombok hanya berpikir seperti itu. Biarpun begitu kedua, contoh di atas membuktikan bahwa rasa kepedulian dan simpati mereka yang mereka tuang ternyata berbalik memberikan “berkah” bagi mereka sendiri, meskipun secara tidak langsung.

Simpati pada dasarnya adalah sebuah reaksi perasaan dari hal-hal yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang. Reaksi ini yang kemudian membuat seseorang ingin memahami hal yang terjadi dari orang-orang tersebut. Setelah itu mulailah ada tindakan nyata dari seseorang terhadap keadaan orang lain. Mulai dari pujian, kritik, bahkan bantuan nyata.

Konser-konser charity yang dilakukan oleh para musisi khususnya untuk peristiwa gempa Lombok pada dasarnya adalah bentuk simpati dari mereka terhadap para korban gempa. Kita bisa berharap bahwa itulah motivasi utama mereka.

Biarpun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa bencana terkadang membawa “berkah” bagi segelintir orang. Konser charity membawa berkah bagi para musisi dengan adanya “wadah tambahan” agar mereka semakin terkenal. Pemilik tempat konser seperti gedung atau lapangan mendapat tambahan keuntungan karena ada yang menyewa tempatnya.

Pemilik sound system atau para vendor juga “ketiban untung” dengan banyaknya konser yang harus membutuhkan alat-alatnya. Para kumpulan event organizer juga mendulang rejeki dengan adanya beberapa konser charity yang harus mereka tangani.

Perkataan di atas memang terkesan antipati terhadap saudara kita yang sedang terkena musibah di Lombok. Biarpun begitu sebenarnya saya ingin mengajak kita semua untuk berefleksi tentang hal-hal yang selama ini kita anggap telah “membantu”. Jangan sampai skema yang saya tulis di atas menjadi “sengaja” untuk dilakukan, dan menghilangkan esensi kita untuk saling membantu dan peduli.

Jangan sampai perputaran “keuntungan” dari bencana ini menjadi skema yang lumrah, dan membuat para musisi dan orang-orang terkait menjadi tidak jauh bedanya dengan koruptor yang “seenak jidat” mengambil uang rakyat yang sangat membutuhkan. Biarlah musik yang menjadi media untuk meringankan beban saudara kita di Lombok, dan bantuan yang sudah dikumpulkan untuk mereka harus sampai kepada mereka.

Semoga saudara-saudara kita di Lombok diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi bencana.

Andi Alexander Photo Community Writer Andi Alexander

Bassist, Tukang baca, Tukang tulis

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Community IDN Times

Topic:

  • Irma Yudistirani

Just For You