Comscore Tracker

[OPINI] “Star Syndrome” di Instagram, Problema Follow to Unfollow

Ketika media sosial mulai berubah fungsi

Seorang teman tiba-tiba muring ketika dia baru saja mencoba salah satu aplikasi rekomendasi temannya. Aplikasi itu yang mampu mendeteksi orang-orang yang meng-unfollow akun instagam seseorang. Teman saya ini merasa marah dan tersinggung dengan kelakuan orang yang meng-unfollownya. Dia sudah merasa dekat dengan orang tersebut dan tidak pernah ada masalah sedikitpun. Alhasil melayanglah “surat protes” (DM) ke akun temannya tersebut soal “tragedi unfollow-nya”.

“Maksudmu tuh apa kayak gitu? Emang aku pernah nyinggung kamu po?” begitu kira-kira isinya.

Instagram memang sudah tidak bisa lepas dari kehidupan masa kini, terutama dari lingkungan urban. Fitur-fitur yang adapun kini semakin beragam, mulai dari upload foto, video, bahkan kita bisa bikin siaran langsung sendiri. Fitur explore-nya sangat dinamis sehingga kita dengan mudah dapat menemukan berbagai macam referensi yang kita mau. Hal apapun yang unik dan nyeleneh bisa jadi viral di masyarakat, tentu saja pundi-pundi dan ketenaranlah imbalannya.

Fungsi awal instagram yang tadinya menjadi tempat interaksi sosial mulai berubah menjadi ladang bisnis yang menguntungkan. Menjamurnya akun-akun online shop sampe adanya endorsement selebgram menjadi tandanya. Ya, kata selebgram pun lahir dari fenomena instagram pula, ketika seseorang bisa menjadi “bintang” hanya karena akunnya “laku”.

Kita sudah tahu banyak tentang orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai selebgram ini, mulai dari level nasional sampai daerah. Berdasarkan yang saya amati, rata-rata orang tersebut bisa menjadi selebgram karena punya tiga hal, yaitu karena good looking, good content, dan good background. Seseorang kayak presiden kita, pak Jokowi, sudah otomatis jadi selebgram karena semua orang sudah tahu latar belakang beliau. Orang-orang kayak Awkarin punya sesuatu yang bisa di-looking (if you know what i mean, wahai kaum Adam). Para musisi yang sering cover beragam lagu menjanjikan konten bagus yang membuat orang betah kepoin akun mereka berulang-ulang.

Hal ini pun menjadi sebuah tujuan utopis bagi banyak orang yang dari dulu ngebet mau jadi bintang. Usaha pun dilakukan agar akunnya terlihat “laku”, yaitu menambah followers sebanyak mungkin. Cara yang paling sederhana adalah dengan meng-follow banyak akun dengan harapan dapat di-folback oleh orang lain. Cara-cara lain memang ada sih tapi mari kita bahas yang satu ini saja.

Biarpun jumlah followers sudah mumpuni, tetap saja ada hal yang perlu dilakukan agar lebih terlihat meyakinkan. Jika kita melihat para selebgram beneran, akan terlihat bahwa jumlah followernya jauh lebih banyak daripada jumlah akun yang diikuti. Kecenderungan ini pun kemudian disimpulkan oleh orang-orang yang pengen jadi terkenal, bahwa agar kelihatan eksis maka jumlah followers harus melebihi jumlah akun yang di-follow. Tren ini pun kemudian dipakai dan ditiru oleh banyak orang, terutama para “calon bintang” ini.

Fenomena ini bukan sekedar buatan atau bualan dari saya saja. Hal ini sudah menjadi agak lumrah. Aplikasi-aplikasi yang mampu mendeteksi orang-orang yang meng-unfollow pun sangat banyak di Play Store. Selain itu ada beberapa orang juga yang menggunakan automation agar mereka bisa menfollow dan meng-unfollow orang-orang yang sudah mem-folback. Tidak mungkin tidak ada penawaran kalau tidak ada permintaan toh? Begitulah kira-kira jika dikaitkan dengan teori ekonomi.

Hal yang aneh juga terlihat dari reaksi teman saya yang marah karena di-unfollow. Kenapa dia harus marah kalau dia tidak merasa ada apa-apa? Kenapa dia juga harus mempersoalkan sampai ngelabrak dan meminta klarifikasi dari temannya itu. Fenomena ini menarik karena seolah-olah cara relasi di dunia maya menjadi seratus persen cerminan dari relasi kita di dunia nyata. Dunia maya seakan menjadi kenyataan yang sesungguhnya.

Sosial media terutama instagram telah mengalami perubahan fungsi dari hanya sekedar sarana komunikasi menjadi sarana eksistensi diri. Definisi “ngeksis” ini bukan sekedar bisa diakses atau diketahui oleh orang lain, tapi juga sebagai orang yang punya "reputasi”. Semakin banyak jumlah followers dan semakin sedikit pula jumlah akun yang di-follow­, maka reputasinya semakin jelas.Saya sudah melihat beberapa akun-akun yang memang punya reputasi tersebut, jumlah following mereka bisa sampai dibawah seratus, bahkan sampai 0!

Keinginan orang-orang berlomba untuk menjadi “bintang” menjadi kuat dengan adanya fenomena bernama buzzer. Prinsipnya sederhana, tinggal mem-posting sebuah produk berdasarkan pesanan dari beberapa perusahaan atau online shop. Seseorang tidak bisa sembarangan menjadi buzzer, tentu mereka harus memiliki reputasi yang signifikan. Patokannya? Tentu saja berdasarkan jumlah followers dan following-nya. Para pemilik akun yang menjadi buzzer  pun tidak harus seorang bintang di “dunia nyata”. Teman saya pun ada yang menjadi buzzer dan penghasilanya pun sangat lumayan, bahkan sampai jutaan.

Faktor sosial dan ekonomi inilah yang membuat orang-orang semakin menggebu-gebu untuk menjadi “bintang” di Instagram. Ironisnya, beberapa orang pun dengan latah hanya sekedar ikut-ikutan dan berusaha menjadi “bintang” secara serampangan, mulai dari beli ribuan followers tapi isi konten postingnya tidak berkualitas sampai membujuk orang untuk meng-folback kemudian di-unfollow. Instagram seolah sudah menjadi tujuan hidup. Kenapa jadi tujuan hidup? Manusia kan mahluk sosial sekaligus mahluk yang butuh uang, dan semua itu bisa didapat di Instagram.

Star syndrome sebenarnya tidak ada dalam istilah medis. Jika kalian searching kata star syndrome di Google, yang bakal ditemukan adalah tentang penyakit langka kelainan bentuk tubuh bernama STAR syndrome  (Syndactyly, Telecanthus, Anogenital, Renal). Biarpun begitu istilah ini populer di kalangan masyarakat untuk menyebut orang-orang yang mulai bertingkah laku seperti “bintang” dan lupa dengan latar belakang atau kehidupan aslinya. Orang-orang ini yang memiliki kecenderungan terlalu terfokus pada popularitas semata.

Hal yang saya tuju dari kata star syndrome pada artikel ini tidak hanya tentang hal yang saya maksud di atas, tetapi lebih kepada gejala orang-orang yang berlomba-lomba untuk menjadi “bintang” terutama melalui media sosial. Semua hal yang ada di dalam dunia ini pun kemudian hanya diukur dari prespektif popularitas semata. “Bintang” seakan jadi kiblat baru dan semua yang ada didalamnya hanya mengenai perkara “terkenal” atau “tidak terkenal”. Kehidupan kita di media sosial serasa harus mempunyai kasta dan patokan ukurannnya hanya berreputasi dan punya followers yang banyak.

Kembali ke kasus teman saya tadi mungkin bisa menjadi refleksi bagi kita semua. Jangan sampai media sosial menggantikan dunia nyata yang sebenarnya. Pertemanan yang paling ideal itu adalah berteman dengan manusia sungguhan, bukan dengan kumpulan visual dari layar kaca. Selain itu, obsesi menjadi “bintang” jangan sampai mengorbankan hal yang sebenarnya nyata hanya karena perkara jumlah following. Kalian pun para korban unfollow jangan sampai terpancing emosi dan tetap menjadi manusia yang waras. Toh juga kalian juga akan dapat pahala jika mampu mengampuni orang-orang “pengejar bintang” seperti mereka.

Andi Alexander Photo Community Writer Andi Alexander

Bassist, Tukang baca, Tukang tulis

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You